33

2.6K 359 42
                                    

            "KENAPA kau kemari?"

Suara pertamaku setelah jeda beberapa menit yang diambil Myungsoo untuk mandi. Myungsoo sedang mengancingkan piyama tidur yang tadi kuambilkan dari dalam kopernya sewaktu Myungsoo sedang membersihkan diri, sedangkan aku menghadap ke arah jendela kamar hotel—aku tidak mengintip walaupun aku tergiur untuk melihat roti sobeknya. Tapi, aku tidak mengintip.

"Kalau bertanya itu sambil menatap yang ditanya, Suzy." Ujarnya, alih-alih menjawab pertanyaanku.

"Kau sedang berganti pakaian, dan kamar hotel yang dipesankan oleh tim Kimsung bukan yang paling mahal. Lagipula ini kan kamarku." Aku berdecak.

"Berbaliklah, aku sudah selesai."

Aku melirik sedikit, setelah aman baru aku berbalik menghadap Myungsoo sepenuhnya. Piyama tidur hitam berlengan pendek nampak pas di tubuhnya, aku belum pernah melihat Myungsoo mengenakan piyama tidur—bahkan saat tengah malam waktu dia sakit dan meneleponku itu—kenapa terasa kalau pakaian tidur itu memang dijahit khusus untuknya ya?

Tidak mungkin, aku saja tidak ada baju khusus kecuali baju-baju untuk menghadiri acara awards. Err, tapi mungkin saja kalau mengingat siapa keluarganya itu. Baiklah, lupakan. Ada hal yang lebih serius yang perlu dibahas sekarang.

Aku melangkah, mengambil tempat sofa dekat jendela kemudian duduk di sana. Ruang hotel tempatku menginap ini lumayan besar, tapi tidak sebesar president suite.

"Jadi, kenapa kau kemari?" ulangku.

"Menyusulmu."

"Untuk apa?"

"Aku tidak akan sanggup satu minggu tidak bertemu denganmu," ucapnya dengan kedua manik mata menatap lurus kepadaku.

Kuputar bola mata. "Kau bahkan sanggup tidak menghubungiku seharian lebih!"

"Maafkan aku, karena sibuk mengerjakan pekerjaan agar bisa menyusulmu, aku sampai tidak sempat memegang ponsel." Myungsoo melangkah mendekatiku, lalu berlutut tepat di depanku duduk. Ia mengambil ke sepuluh jemariku untuk digenggam. "Harusnya aku meneleponmu."

"Betul." Aku mengangguk.

"Maafkan aku,"

"Ini semua tentang prioritas, tahu? sesibuk apapun kau, harusnya tetap mengabariku. Kupikir kau berubah pikiran." Kataku lagi, kali ini nada suaraku sedikit lebih naik. Aku membalas tatapannya dengan kobaran api di kedua mataku, biar saja Myungsoo tahu kalau aku ini bisa jadi macan juga—tidak selalu menjadi kucing lucu.

"Berubah pikiran tentang apa?"

Ng... "Ini bukan saatnya membahas itu, mengerti?"

Myungsoo menghela napas, lalu tanpa aku prediksi sebelumnya, tangannya yang menggenggamku itu beralih menjadi memeluk pinggangku sementara kepalanya tenggelam di pangkuanku. Lagi-lagi kekesalanku menguap saat suara letihnya meminta maaf terdengar mengalun.

Aku membasahi bibir sambil mencoba menetralkan gemuruh jantungku yang diluar kendaliku ini. Celaka.

"Baiklah, tapi aku tidak akan memaafkanmu semudah ini kalau sampai diulangi lagi," kataku menatap rambut lebat Myungsoo sambil membelainya pelan. "Kau sudah makan?"

"Sudah, aku makan di pesawat." Kepalanya mengangguk, menjawab tak jelas karena suaranya teredam namun aku masih tetap bisa mendengarnya.

"Lalu, kau akan menemaniku dalam promosi?"

Myungsoo mengangguk lagi.

"Bagaimana kalau ada yang curiga? Maksudku, kau tahu kan aku aktris terkenal pasti masternim itu sedang mengutus staff-nya untuk membuntutiku." Kataku lagi. Para pencari berita itu jelas selalu mengutus staff mereka untuk mengikuti gerak-gerik kami. Sunbae di agensiku bahkan pernah diikuti salah satu masternim sampai ke luar negeri, mereka mengira kalau ia hendak berkencan padahal sunbae-ku itu hanya ingin membeli lego.

The Celebrity And Her Perfect Match | MYUNGZY COUPLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang