#4 Who Are You?

220 31 34
                                    

Kicauan burung yang berasal dari dering alarm ponselku membuatku langsung saja membuka mataku. Dengan cepat aku meraih ponselku dan mematikan alarmnya.

Beranjak lalu membuka tirai kamar, Itulah yang pertama kali aku lakukan. Namun keningku berkerut saat mendapati langit masih saja gelap. Apa sungguh masih malam? aku merutuki diriku yang masih belum sadar soal perbedaan waktu antara Indonesia dan Korea.

Mataku kini membulat melihat segerombol pria yang berjalan bersamaan. Ah ya, perlu kalian tahu, kamar yang Yena sediakan untuk kami berada di lantai 2 dan otomatis aku bisa melihat langsung ke arah jalan.

"Tepat beberapa meter dari sini adalah gedung Big Hit entertainment."

Aku menutup mulutku tak percaya ketika ucapan Yena mulai terdengar begitu saja seolah Yena sedang mengatakannya secara langsung. Aku berusaha membuka jendela dan semakin terkejut saat dengan jelas aku bisa mengenali jika mereka adalah BTS.

Aku langsung saja membalikan tubuhku, menyentuh dadaku saat detak jantungku mulai memburu. Aku sungguh tak percaya jika aku bisa melihat mereka berjalan dengan tenang sepagi ini. Bahkan mereka tak bersama bodyguard mereka.

Hatiku memekik ketika rasa bahagia itu mulai menyeruak. Sebisa mungkin aku mencoba menganggap semuanya bukanlah ilusiku semata. Andai saja saat ini aku bukan sedang berada di rumah orang lain, aku sungguh ingin berteriak dengan kencang sekarang.

Kembali melihat keluar jendela, berharap 7 pria tampa itu masih berada di tempat yang sama. Namun sayangnya, mereka sudah tidak ada disana.

"Kenapa?"

Aku terlonjak ketika Fira tiba-tiba saja berdiri dihadapanku ketika berbalik.

"Gak ada apa-apa," ucapku sambil menutup kembali jendela itu.

*
*
*

Merapatkan mantel saat udara dingin menerpa, rasanya benar-benar tak mempan. Aku sudah menggunakan baju yang lumayan tebal ditambah dengan mantel berwarna merah milikku. Namun tetap saja rasanya udara dingin itu tetap saja menusuk hingga ke tulang.

Hari ini Yena mengajak kami untuk menjelajah kota Seoul. Anggap saja kita mendapat tour guide secara cuma-cuma sekarang.

"Seharusnya kalian mengikuti saranku untuk menggunakan mantel yang lebih tebal. Aku dengar cuaca dingin di Indonesia tidak sedingin saat ini."

Jelas saja berbeda, bahkan kini hanya mencapai 5°C. Saat ini memang bukan musim dingin, tapi menurutku musim semi juga masih saja terasa dingin meskipun matahari bersinar dengan teriknya.

"Yena, kemana kita akan pergi?" tanya Fira. Untung saja kami sudah belajar bahasa inggris. Sehingga pembicaraan kami dan Yena tidak terbatasi oleh bahasa.

"Aku pastikan hari ini akan sangat menyenangkan, aku akan mengajak kalian bersenang-senang."

Berjalan di zebra cross benar-benar terasa berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia. Banyak sekali orang dengan berbagai kesibukannya berjalan terburu-buru di sini. Aku jadi membayangkan bagaimana jika aku tak sengaja menabrak seseorang yang ternyata adalah Kookie dengan penyamarannya. Ah sepertinya tingkat halusinasiku mulai bertambah semenjak aku menghirup udara kota Seoul.

"Kayaknya ada yang syuting."

Aku langsung saja memastikannya saat Salfa mengatakannya. Ternyata benar, kini ada yang sedang melakukan syuting drama mereka dimana sang pemeran utama sedang bertengkar hebat. Aku benar-benar kagum dengan kualitas acting mereka. Bahkan mereka bisa menarik penonton masuk ke dalam cerita yang mereka mainkan.

Paper Hearts✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang