•Nanda's•
10.55 pm
"Nda, berangkat sekarang aja yuk" Ajak Rey dengan mematikan TV yang sedang kami tonton."Bentar, aku mastiin keadaan dulu. Telepon mama." Jawabku yang langsung diangguki Rey.
"Halo, Ma. Gimana? Tolong cek in kamarnya kakak sudah tidur belum?"
"Iya bentar, jangan dimatikan."
"Oke."
"Sudah tidur kok. Nanti ada temen temennya kakak juga. Kamu kalau sampai rumah tunggu aja di depan pagar, nanti masuk barengan."
"Okedeh. Udah dulu ma, mau berangkat nih."
"Iya."Aku kembali menghampiri Rey. Dan mengecek ulang isi tasku agar tidak ada yang ketinggalan.
"Nanti tunggu depan pagar aja Rey. Soalnya disuruh masuk barengan sama temennya kakak. Jadi nunggu temennya datang." Ucapku ketika kami sudah dalam perjalanan menuju rumahku.
"Iya."
-"Duh mana si lama amat. Udahlah aku telfon aja." Aku mendumal. Bagaimana tidak? Ini sudah pukul duabelas kurang dua puluh menit tapi teman kak Taeil belum datang.
"Halo kak John. Cepetan lah, lama banget sih."
"Sabar napa. Nih belok ke gang. Dah keliatan itu mobilnya Rey."
"Oke.""Ayo turun Rey." Ajakku dan Rey mulai membuka pintu mobil.
"Loh ngga bawa kue?" Tanya kak John padaku dan Rey. Lah iya, kuenya siapa yang beli?
"Lah kalian segini banyak ini gaada yang bawa kue?" Tanyaku balik.
Kita semua bingung. Sekitar lima belas orang datang, tidak ada yang membawa kue. Semoga mama sudah beli.
Tak lama, pagar dibuka. Menampakkan muka bantal Jisung, lengkap dengan piyama.
"Sstt jan berisik lu pada." Ucap kak Yuta. Mukanya paling garang dari semua teman kakak. Tapi jangan salah, ia sangat ramah.
"Heh salamander, lu sendiri sstt sstt mulu udah rame kocak." Kali ini yang bersuara kak Jungwoo. Teman kakak yang wajahnya paling imut.
"Kalian gabisa diem gue usir." kesal, aku pun angkat bicara. Memang mereka ini tidak ada yang bisa diam.
-11.55
Aku, Rey, dan temen teman kakak tengah menaiki tangga. Tanpa membawa kue. Karena ternyata mama mengandalkan teman teman kakak yang ternyata tidak mambawa kue juga.
Untungnya, Mark membawa semangka di mobilnya. Jadi kita mengganti kue dengan semangka yang ditancapi lilin. Anti mainstream.
"Eh, masih kurang lima menit." Ucap kak Taeyong.
"Lu jalan dari sini ke kamarnya Taeil aja sepuluh menit, Yong. Udah ayok gapapa." Ini suara Haechan. Sebenarnya lebih tua kak Taeyong, tetapi mereka sudah berteman lama, jadi ya begini.
Kini, kami sudah di depan kamar kak Taeil. Aku mengecek. Benar, masih tidur seperti orang mati. Pulas sekali.
Aku melihat jam tanganku, kurang satu menit. Tetapi manusia manusia ini berbicara dengan bisik bisik. Tidak bisakah mereka diam!?
"Dah ayok." Ucap Rey setelah jam menunjukkan tepat pukul duabelas. Yang menunjukkan bahwa hari ini sudah memasuki hari ulang tahun kak Taeil, 14 Juni.
"HAPPYBIRTHDAY, TAEIL."
"SELAMAT ULANG TAHUN, TAEIL."Kita semua benar benar tidak kompak, lupa membuat rencana. Ah sudahlah.
Haechan mulai menyalakan lampu. Mark dan kak Winwin mulai meniup terompet yang ia bawa. Kak Johnny mendekati kak Taeil, karena ia yang membawa semangkanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sunday Date! || Jeffrey Jung
Fiksi PenggemarOneshoot story🌸 • • [Jeffrey Lokal] 📍Jakarta, Indonesia. Bagaimana rasanya Date dengan seorang Jeffrey setiap hari Minggu? • Pasangan bar-bar. Tidak, hanya sang perempuan lah yang bar-bar. Untuk lelakinya kalem, sungguh kalem. "Jadi pergi ga s...