Tawuran!

5 0 0
                                    

Sudah terhitung dua hari Tina tak masuk sekolah dari insiden lempar tas. Dan tak ada satupun yang perduli akan hal itu.

Chika masih tenang membaca buku Kimia. Sekarang sudah jam istirahat tapi matanya tak juga mau berhenti membaca buku itu. Bahkan Jingga sudah memaksanya agar ia menemani dirinya kekantin, tapi Chika tak kunjung mau alhasil Jingga pergi dengan rombongan Lasya.

Suara buku terjatuh dilantai membuat Chika mengalihkan fokusnya. Lasya yang berjongkok mengambil buku yang berserakan dilantai. Lalu fokus Chika kembali pada buku Kimia.

'Bruuk!'

Chika mengelus dadanya kaget. Lasya menaruh semua buku yang jatuh tadi diatas meja Chika dengan kasar. Lalu Jingga datang dengan tangan penuh buku, yang ikut ia taruh diatas meja Chika. "Novel romance buat lo! Itu punya gue semua. Lo harus baca semuanya!" Lasya memerintahkan Chika dengan hidung yang mengarah kelangit.

"Buat apa?" Tanya Chika tak mengerti.

Jingga mendekatkan wajahnya pada telinga Chika, "Selamat menbaca." Bisiknya lalu ia pergi menjauh.

"Ya biar lo paham akan percintaan!" Lasya mengutarakan niatnya. Chika menggeleng tak mau.

"Ada sekitar 12 buku, tebalnya sekitar 3cm. Kalo aku baca semua buku butuh waktu sekitar 3 atau 4 hari buat nyelesainnya. Dan dalam waktu segitu, aku udah bisa ngerjain semua soal yang ada dibuku ini dan ini." Chika mengangkat buku Kimia serta buku Matematika miliknya yang tebalnya sekitar 5cm.

Lasya menguap, "Bodo. Yang gue mau lo harus nyetor cerita kegue setiap harinya satu novel ini." Lasya menunjuk novel-novel yang ada dihadapan mereka. Lalu pergi menibggalkan Chika.

Chika mendesah pasrah. Dari awal sekelas dengan Lasya, Chika menyimpulkan bahwa, jika yang ia mau tak didapatkan maka ia akan menggila. "Begitulah." Chika menurunkan satu persatu novel yanh ada kelantai. Lalu melanjutkan membaca buku Kimianya.

Lagi, suara 'bruk!' membuatnya mencibir. "Apalagi?"

"Makan. Ntar lo sakit." Suara itu membuat Chika mendongakkan kepalanya menatap Bagas yang membungkukkan badannya. Kedua tangannya menahan tubuhnya disisian meja. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Chika yang mendongak.

Senyum Bagas terbut saat Chika mengalihkan wajahnya dari hadapan Bagas. "Ayo makan, ade Chika." Bagas berujar tanpa membenahkan posisinya.

"Kak Bagas, berdiri yang benar." Titah Chika, Bagas langsung berdiri dengan sikap siap sempurna.

"Lapor! Kalo lo makan gue pergi!" Bagas berkata bak pemimpin upacara.

Chika buru-buru makan -makanan yang dibawa Bagas. Sandwich. Ia benci sayuran. Namun apa daya sepertinya hari ini setiap orang sangat suka memaksanya.

Chika makan dengan lahap, baru setelah roti lapis itu habis Bagas buru-bur mengacak rambut Chika dan pergi.

Lasya dan Jingga cengo melihatnya. Begitupun dengan Chika yang menyentuh bekas tangan Bagas dikepalanya. "Rambut aku jadinya berantakan." Lirih Chika.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Chika, Lasya dan Jingga pulang bersama mengantar Chika menggunakan mobil Jingga. Dikarenakan novel-novel itu yang sulit dibawa jika harus berjalan kaki.

Mobil merah itu berhenyi dipekarangan rumah minimalis dengan banyak bunga yang bermekaran. Chika turun dibantu Jingga dan Lasya membawa novel-novel tersebut masuk kedalam.

Lasya dibuat terpana melihat dekorasi yang ada di dalam rumah Chika. Bukan lukisan mahal ataupun guci-guci yang menghiasi bagian ruang tamu ini, melainkan piagam serta piala terpajang rapi disetiap sudut ruang tamu banyak foto Chika yang menenangkan setiap perlombaan. "Gila lo. Pantes aja lp ga mau dibilang bodoh." Lasya berujar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ChikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang