Happy Reading.... 💕
Jangan lupa, tinggalkan jejak yaa;:)
Vote nyaa ditunggu<3Di dalam kamar, sendirian. Selepas pulang sekolah, aku bergegas menuju kamar. Untungnya, Mba nur belum pulang. Aku terus saja tak henti tersenyum. Masih ku genggam di tanganku pemberian dari Azzam. Aku tidak menyangka, akan ada seseorang yang memberikan sesuatu seperti ini untukku. Aku tahu ini cukup mahal, setidaknya bagiku.
Aku memandangnya dengan senyuman yang terhias di wajahku. Meski bukan ini yang aku kira dan inginkan. Namun, tak apa lah. Ini pun cukup berarti untukku.
Ini yang tidak aku sukai. Berdiam diri di dalam kelas. Dengan suasana sepi dan membosankan. Tepat setelah satu mata pelajaran pertama selesai, kami tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi. Sekolah membebaskan kita setelah kegiatan kebersihan selesai.
Ini masih pukul 10.45 WIB. Sangat-sangat tidak mungkin jika sekolah akan mengijinkan murid-murid untuk pulang. Aku tahu peraturan sekolah ini yang sangat super duper ketatnya dan disiplin.
Aku sangat bosan. Tak ada yang bisa dilakukan saat ini. Selain karna rasa lelah, tak ada topik menarik juga menjadi faktornya. Ditambah lagi rasa lapar yang menyerang isi perutku.
"Hmm kalian lapar nggak sih?" Tanyaku memecah keheningan yang sudah lama menemani.
"Hmm laper sih.." Sahut Fatiha.
"Kantin aja yuk!" Ajakku kepada mereka bertiga.
"Tapi mau beli apa?" Kali ini Fatimah yang menanggapi.
"Hmm iya juga sih. Bosen juga sama makanan di kantin yang itu-itu mulu."
"Jadi gimana?"
"Yaudah deh nggak papa kita coba dulu aja yuk ke sana. Daripada nahan laper kan?"
"Iya udah ayok lah."
Baru saja aku ingin melangkahkan kaki keluar pintu kelas, suara seseorang menghentikan langkahku.
"Aul."
Aku tahu siapa yang memanggilku saat ini. Dengan kikuk aku membalikkan badan ke arah sumber suara. "Iya?"
"Mau kemana?"
"Mau ke kantin. Kenapa?"
"Mau ngobrol sebentar."
Aku menghela napas. Dia datang di saat yang tidak tepat.
Jadi, aku harus gimana? Ikut ke kantin atau tetep di sini sama Azzam? Batinku.
"Nitip aja tah Aul kamunya?" Tanya Tiha kepadaku. Mungkin, seperti mengerti kebingunganku.
"Hmm nggak papa kah?"
"Iya nggak papa. Mau nitip apa?"
"Hmm apa yaa? Bingung juga nih."
"Itu aja deh, krupuk yang pedes itu dua sama chocholatos dua yaa. Makasiih Tih." Ucapku sembari memberikan selembar uang lima ribu kepada nya."Iya duluan ya."
"Iya."
"Mau ngobrol apa?" Tanyaku kepada dia yang sedari tadi hanya memerhatikan pembicaraanku dengan mereka.
"Bingung." Ucapnya sembari menyengir tak berdosa.
Aku menghela napas. Jadi, nggak ada yang penting gitu? Sia-sia dong aku di sini. Tau gitu ikut mereka aja ke kantin. Enggak tau apa aku di sini tuh udah panas dingin gini. Belum lagi badan lemes gini, asa nggak kuat buat berdiri. Sabar aul. Sabar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Pendiam dengan segala rasanya
Teen FictionSetiap manusia pasti mempunyai masa lalu. Tak terkecuali seorang pendiam, bahkan seorang pendiam pun mempunyai kisah cinta. Namun sayang, kisahnya begitu rumit baginya. Semua itu berawal dari grup kelas. Tak hanya rasa cinta. Sedih, kecewa, dilema...