[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم]
"Bukan mereka yang salah, namun aku yang terlalu memaksa."
~Ai~
__________Bulan mulai berganti, iya itulah waktu tak ada yang bisa memutar balik atau menghentikan sementara. Malam semakin melarut dalam gelap. Zafran berada di tengah - tengah Abi dan beberapa Kyai yang masih satu nasab dengan Abinya. Berbincang seputar pengalaman yang akhirnya bisa dipetik ilmu oleh Zafran. Sungguh nikmat mana lagi berkumpul dengan orang-orang Solih.
"Kenapa Zafran ada yang mau di sampaikan?" Tanya Kyai Huda, Kakak dari Abinya. Zafran tersentak saat namanya tiba-tiba saja disinggung.
"Mboten, Pak De." Ucapnya sembari menundukkan kepala sekilas. Kyai Huda tersenyum tipis.
"Sekarang sudah semester 6 iya?"
"Iya Pak De, sebentar lagi KKN. Insyaallah tiga bulan lagi sudah tidak menjabat BEM lagi." Ucap Zafran. Kyai Huda dan lainnya hanya mengangguk merespon ucapan Zafran.
Tiba saatnya Kyai Huda mengajak Zafran keliling pesantren. Entah kenapa tiba-tiba beliau mengajak keliling pesantren Putri. "Ke Masjid putra Yo Nang, jalan kaki saja."
"Pakai mobil atau motor saja, Pak De? Lumayan jauhkan." Kyai Huda menolak. Ia memilih untuk berjalan kaki saja. Zafran tidak bisa membantah, ia mulai menuntun pelan Kyai Huda. Sampai di depan banyak santri waktu yang sedang berjejer, sembari menunduk takdzim tak berani menyelonong jalan di depan Kyai sepuh itu.
Langkah Kyai Huda terhenti entah apa yang dia lihat. "Insyaallah, Zaf." Dahi Zafran mengernyit, apa yang di maksud Kyai Huda?
Zafran kembali melanjutkan jalannya. Ia menoleh ke belakang, pandangannya tertuju para santri yang masih menunduk itu. Salah satunya ada Zalfa, di tempat dimana Kyai Huda berhenti tadi. Zafran menggelengkan kepalanya, kembali fokus menggandeng Kyai Huda sampai ke masjid. Jangan berpikiran macam-macam.
Sampai Masjid Kyai Huda sekedar mengimami solat jamaah isya, kemudian mengisi mauidzoh khasanah sebentar. Lalu kembali lagi ke ndalem Kyai Abdullah. Acara jamuan dihidangkan oleh tuan rumah. Semua anggota keluarga berkumpul di sana. Bincang-bincang, atau hanya sekedar guyonan.
"Azhar sudah enggak ngabdi di sini to?" Tanya Kyai Huda, dengan salah satu khodim Kyai Abdullah.
"Azhar putranipun Pak Ikhsan mboten Yai?"
"Iyo, mbiyen Mbahne iku guruku ning pondok." Khodim itu mengangguk mendengar ucapan Kyai Huda.
"Azhar sampun khidmah wonten ndalemipun (sudah berkhidmah di rumahnya) Pak De." Kini Zafran yang menyahut. Kyai Huda mengangguk sekilas.
"Lah wong adiknya di sini, Kang." Ujar Kyai Abdullah. "Di pesantren Putri, belum lama Azhar ke sini memasrahkan kepada pesantren." Kyai Huda tersenyum tipis mendengar jawaban Adiknya.
"Aku pengin ngomong Karo koe, Dul. (Aku ingin bicara dengan kamu, Dul)" Dul panggilan Kyai Huda kepada adiknya itu. Entah apa yang hendak dibicarakan Kyai Huda dengan Kyai Abdullah, biar menjadi urusan mereka. Sementara Zafran biasa saja, mungkin mereka ingin berbicara berdua.
🍁
🍁🍁🍁Hari minggu, biasanya santri sibuk untuk ro'an (bersih-bersih area pondok). Salah satu hal yang dinantikan para santri adalah ro'an ndalem Kyai. Entahlah tidak bisa diungkapkan, karena ini memiliki kenikmatan tersendiri. Termasuk Zalfa yang hari ini kebagian ro'an ndalem.

KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
Ficción GeneralGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...