1 O ·

206 27 4
                                    

Nielwink short fanfic🍫

×××

Ada kalanya meladeni kebosanan lebih menyenangkan daripada menyibukkan diri pada hal-hal lebih bermanfaat lainnya. Selimut tipis dilingkupi bulu pemberian sang adik sepupu adalah milik kesayangan Sungjae, nomor kesekian setelah pajero putihnya.

Omong-omong soal adik sepupu, Hyungseob pasti sekarang sedang menikmati masa bulan madunya. Kalau Sungjae tidak salah ingat, di perbincangan keduanya terakhir kali sebelum Hyungseob dipinang suaminya sekarang, pria itu pernah bilang, "Kakak tau ga, kemaren mas Woojin ke rumahku sebelum kita dipingit cuma buat nunjukkin tiket tour Eropa!"

Sungjae tentu salut betul pada adik sepupunya. Tidak pernah berpacaran, sekali dapat langsung jackpot. Iya, Park Woojin adalah jackpot. Mantan selebgram, sekarang mengelola brand aksesoris laptop dan ponsel. Baru-baru ini brand-nya mengeluarkan jam tangan produksi mereka sendiri dan berhasil menjalin kontrak kerja dengan beberapa perusahaan pembuat mainan anak-anak kelas dunia.

"Bang Bos, Guanlin balik dulu, ya."

"Hm."

Dan sekarang, seorang Lai Guanlin benar-benar tidak akan ambil pusing terhadap sikap bosnya itu. Nanti juga membaik sendiri, menurut Guanlin.

Suasana bar sepi. Tidak ada satupun pelanggan sore ini. Maka dari itu, Sungjae dengan leluasa berbaring di sofa barnya sembari memeluk boneka kucing. Pandangannya fokus menatapi lampu gantung bermodel angsa dari kaca yang tergantung di beberapa sudut bar.

Di tengah keheningan yang canggung, tiba-tiba Sungjae mendudukkan diri dengan wajah berpikir keras.

"Kok Daniel kenal.." gumamnya rancu.

Setengah menit setelahnya, "HAH!" dan beberapa detik kemudian, "JANGAN-JANGAN ITU KORBANNYA!"

"Permisi, kami pesan ruang tertutup satu."

Sungjae tersentak dan segera bangkit menyambut pelanggannya sekaligus merapikan alat bersantainya tadi, "Oh iye silahkan, minum aja atau pake makan?"

×××

Jihoon tidak siap, benar-benar tidak siap. Semalam ia ketiduran dan rasa menyesal mengukung dirinya pagi ini.

"Dek Ji."

"Eh, Kak Bright," sahut Jihoon seadanya. Wajahnya kentara sekali khawatir dan gugup, bahkan tadi Bright kira calon dokter muda itu akan menangis.

"Kamu kenapa?" tanya residen* neuro itu ramah. Padahal gelagatnya hendak berjalan ke ruang OSCE**, nyatanya Bright duduk di sebelah Jihoon dan menatap adik kelasnya itu.

Jihoon menggeleng. "Aku ketiduran semalem. Bentar lagi giliranku, aku ga mau ngulang siklus ini kaaak," rengeknya.

Bright mengangguk-angguk tanda paham. Ia kemudian tersenyum simpul dan menepuk bahu Jihoon, "Santai aja Ji. Dokter Taeyeon ga ambis kok kalo nanya, kamu ga usah khawatir. Lagian ntar ada kakak."

"Loh, bukannya di dalem udah ada Kak Eunji?"

"Iya, tapi dia abis ini ada perlu sama dokter spesialis neuro, jadi minta gantiin sama kakak," jelas Bright merapikan lembaran kertas di tangannya.

Kendati seperti itu, Jihoon makin kuat mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lutut. Disaat menegangkan ini, Jihoon adalah tipe yang tidak bisa belajar mepet. Jadi dia hanya menenangkan dirinya sendiri sembari berdoa dalam hati.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampakkan wajah kusut memerahnya Miyeon, anak koass satu tahun di atas Jihoon.

"Kak.. you okay?" bisik Jihoon mendongak. Salah satu tangannya menjalar guna menggenggam tangan kiri Miyeon yang dingin.

Untuk beberapa saat ketiganya hening. Bahkan Bright mengacuhkan Taeyeon yang sudah keluar ruangan dan memanggilnya.

"Waktunya habis.. Aku belum bilang penanganannya gimana.. Aku juga ga ngerti ma-maksud keluhannya.. hiksㅡ"

Gadis berwajah rupawan itu benar-benar terisak ketika Jihoon akhirnya bangkit dan memeluk renggang tubuh teman seperjuangannya itu. Jihoon tidak mengatakan apapun, hanya menepuk singkat bahu bergetar gadis dipelukannya.

Hatinya sudah tidak karuan karena masalahnya sendiri. Disambut salah seorang temannya yang telah selesai berjuang tiba-tiba menyampaikan kegagalan. Dan kini kegundahan itu bertambah lagi karena gilirannya untuk berjuang juga sudah tiba.

Tuhan, biarkan Jihoon melalui masa-masa sulit ini dengan baik. Begitupun untuk seluruh orang jauh di luar sana yang berjuang tiada henti, izinkan mereka berhasil.

×××

Seharian ini Daniel tak beranjak dari kursi kerjanya jika bukan untuk urusan alam. Makan siangnya digantikan dengan meeting bersama beberapa pemilik stasiun televisi. Bisa dibilang, ia bekerja non-stop hari ini.

"Daniel,"

Barangkali Wooseok adalah satu-satunya pekerja Daniel yang tak memanggil bosnya dengan sapaan hormat. Daniel bilang, terlalu kaku bisa membuatmu cepat tua.

"Kenapa bang? Udah mau balik ya? Bentar ini gue beresin dikit lagi."

"Bukan. Cuma mau bilang, jadwal sama alamatnya Park Jihoon udah dapet. Tadi gue juga sempat ke rs, kayanya dia hari ini balik sore."

Tentu saja tujuan awal Daniel buyar. Kini pikirannya diambil alih oleh alam bawah sadarnyaㅡyang rupanyaㅡtelah jatuh hati pada wajah Park Jihoon. "Oh ya? Sore nyerempet malem gini?"

Wooseok mengangguk dari ujung ruangan. Sebenarnya dirinya menunggu reaksi Daniel. Apa, ya, yang akan Daniel lakukan setelah dia tahu informasi yang ia tunggu-tunggu ini?

"Ini kalo gue selesaiin besok gapapa kali ya, kan gua yang punya kantor, hehe."

Yah, bibit bucinnya sudah kelihatan.

×××

*Residen : dokter yang sedang mengambil program spesialis.

**OSCE : singkatan dari Objective Structured Clinical Examination. Jadi pas OSCE itu mahasiswa akan diberikan suatu keadaan/kondisi pasien, trus dia menetapkan diagnosis, nentuin tindakan, plus jenis obat yang dibutuhin. Simpelnya, ini tuh ujian praktek. Kalo pengertian bagusnya, OSCE adalah adalah salah satu jenis ujian yang banyak digunakan di seluruh dunia untuk mengevaluasi mahasiswa kedokteran atau mahasiswa kepaniteraan klinis di pusat-pusat pendidikan kedokteran. (source: whitecoathunter.com)

frequency. ㅡnielwinkTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang