Twenty three

84 22 14
                                    

Di bumi Indonesia, tepatnya di akademi. Ara si gadis berbibir mungil itu menopang dagunya dengan wajah bosan. Sudah hampir dua bulan mentor tampan itu cuti, bahkan itu melebihi dari waktu izinnya. Seharusnya ia hanya cuti sebulan, namun sayangnya malah bertambah.

Gadis itu sudah cukup mahir memainkan piano, bahkan ia berniat untuk memperlihatkan kemajuannya pada Sam.

Menghindari rasa bisanya, ia mencoba menggeledah beberapa laci yang berada di meja milik Sam. Dari empat laci yang ada, hanya satu saja yang tidak terkunci.

Entah mengapa Ara sedikit gugup saat hendak menarik penuh laci mini itu. Saat ia benar-benar membukanya, didapatinya sebuah foto. Sam dan seorang gadis cantik ada di dalam foto itu.

Deg!

"Cantik, siapa dia?" gumam Ara dalam hati.

"Apa mungkin ini tunangan Mentor Sam?"

Ceklek!

Seorang lelaki dengan jas abu-abu tiba-tiba memasuki kelas. Kelas hening, sedang Ara masih sibuk memandangi foto di tangannya. Rekan-rekan sekelasnya pun tak mampu untuk memberinya kode atau semacamnya.

"Astaga! Mentor." Ara terkejut bukan kepalang. Ia bangkit dengan cepat dari tempat duduk Sam dan segera menyimpan kembali foto itu ke laci tempat ia mengambilnya.

"Selamat datang, Mentor. Maaf, saya lancang," ucapnya sambil membungkuk.

"Aa, tidak apa-apa Ara. Silahkan duduk."

Sam terlihat lesuh, wajahnya muram dan senyum yang ia berikan seakan hanya terpaksa.

Hari ini kedatangan ia tidak untuk mengajar, tapi hanya ingin memberitahu bahwa jadwal mengajarnya akan berubah dan kelasnya akan dipersingkat. Hanya itu saja. Lelaki itu hanya memberikan beberapa Souvenir berupa ganci dari Thailand untuk para bimbingannya termasuk Ara.

Pertemuan berlangsung cukup singkat. Saat kelas berakhir, Ara sengaja duduk di mobil dan menunggu Sam keluar dari gedung akademi.

Tak lama-lama menunggu, Sam pun keluar mimik wajah yang masih sama. Dengan sorot mata yang tajam, Ara bergegas keluar dari dalam mobilnya lalu menghampirinya.

"Mentor."

"Oh? Ara kenapa belum pulang?" tanya Sam.

"Menunggu mentor," jawab Ara canggung.

"Tapi kenapa menungguku?"

Ara melirik tangan Sam dengan maksud untuk mengecek apakah ada cincin yang melingkari jari manis lelaki itu.

"Kenapa tidak ada, yah?" batinnya.

"Ara?" Melambaikan tangan tepat di wajah Ara.

"Oh? Eeem, kalau mentor tidak keberatan, apa boleh saya ajak mentor untuk makan di Kafe dekat sini?" ajak Ara.

Sam menghela nafas dalam, ia menunduk cukup lama sampai akhirnya ia tersenyum kecil dan mengiyakan ajakan Ara.

____skip

Di meja nomor 05 dengan dua gelas jus jeruk. Dua orang yang duduk berhadapan itu hanya diam-diaman saja.

"Me, me, mentor." Ara mulai angkat bicara.

"Hm?"

"Kelas kita sudah cukup baik dalam memainkan instrumen, apakah kita tidak ada tugas lagi?" tanya Ara dengan topik yang sedikit kaku.

"Mungkin nanti," jawab Sam singkat.

Kembali diam-diaman.

"Mentor." Ara memulai dengan ragu.

I'm sorry [Complete ✓️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang