.
.
.
Kicauan burung terdengar merdu saling bersahutan. Mentari pagi masih malu-malu bersinar dibalik awan. Suasana dingin setelah hujan di pagi hari membuat beberapa orang yang melintasi jalanan terlihat menggunakan jaket. Tak lupa obrolan kecil anak kecil yang sedang berangkat sekolah menemani dengan rintih. Sebuah suasana yang menggugah mood di pagi hari. Tapi, berbeda dengan seorang gadis yang terduduk manis di salah satu ayunan di taman.
Dibalik rambut cokelatnya yang terurai, gadis itu menatap tanah di hadapannya dengan kosong. Wajahnya tampak menunjukkan raut dingin dengan rahangnya yang mengeras. Tak ada satupun orang yang menemani di sampingnya. Ia sendirian di taman itu. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Cover buku itu bertuliskan 'Calysta' dengan tulisan sambung berwarna emas dan berlatar biru dongker. Ya, nama gadis itu Calysta. Lebih tepatnya Calysta Kyna Afsheera, tertulis di halaman pertama buku itu.
Calysta mengambil sebuah foto yang terselip di halaman tengah buku itu. Foto yang diambil 3 tahun lalu, saat ia memenangkan medali emas pertamanya di turnamen panahan internasional. Satu-satunya foto yang ia miliki saat keluarganya masih 'bahagia'. Senyum kebanggaan kedua orang tuanya dan kakak perempuan satu-satunya yang ia miliki.
Setetes air mata terjatuh membasahi foto itu.
"Bodoh." Umpatnya pada dirinya sendiri.
Calysta melirik jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. Pukul 06.25, sudah saatnya ia berjalan menuju sekolahnya yang berjarak 600 meter dari tempatnya saat itu. Calysta bangun dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya menuju sekolahnya. Tapi, tatapan gadis itu terpaku pada jalan beraspal yang dipijakinya.
Baru beberapa langkah, sebuah suara dari depan menghentikan langkahnya.
"Calysta?"
Calysta mengangkat wajahnya. Ck, gadis itu berdecak kesal.
The Quads. Batin gadis itu.
Dihadapan gadis itu berdiri 4 orang berseragam training sekolahnya, SMP Dwiarta. 4 orang yang lebih dikenal dengan sebutan The Quads itu ialah Rafa, Faisal, Jojo dan Bagas. Mereka berempat selalu kemana-mana bersama sejak awal kelas 7 makanya dijuluki the Quads.
"Cie, janjian ya lu berdua? Ya kan Raf? Cal?" Goda Jojo.
"Apaansih." Elak Rafa kesal.
Calysta hanya diam dan menatap mereka dengan dingin. Gadis itu bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas 4 orang tak penting di hadapannya. Ia melanjutkan langkahnya melewati 4 orang itu. Moodnya sedang buruk pagi itu.
"Gue sama temen-temen gue gak pernah anggep lo musuh. Dan yang bikin keadaan jadi awkward itu sahabat lo ya Cal." Ujar Rafa ketika Calysta lewat dihadapannya.
"Dan lo ngira itu bener kan, Raf?" Balas Calysta pada akhirnya.
"Yang buat keadaan awkward itu bukan Laudya, tapi lo sendiri. Jadi stop untuk nyalahin orang lain di hadapan gue." Tambah Calysta.
Calysta melanjutkan langkahnya menuju sekolah. satu langkah. Dua langkah. Kemudian dia berbalik menghadap 4 orang yang kini saling bersitatap.
"Oh ya. Gue gak pernah membenarkan apa yang dikatakan Laudya pas UTS kemaren. Jadi gak usah kegeeran deh." Kata Calysta tegas.
****
Hari-hari setelah Ujian Akhir Semester mungkin adalah hari-hari yang paling ditunggu oleh para siswa. Benar bukan? Hari-hari itu isinya hanyalah bermain atau terkadang OSIS mengadakan acara yang sering disebut dengan classmeeting.
Disaat semua siswa SMP Dwiarta bergembira menyambut hari pertama classmeeting, hal itu tak berlaku pada Calysta. Bukan hanya hari itu saja, semua hari tampak sama bagi Calysta. Abu-Abu. Gembira? Sedih? Itu sudah menyatu dalam diri Calysta.
Calysta melangkahkan kakinya memasuki pintu ruang kelas 8-C. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Mencari dimana tempat duduk kosong yang nyaman yang bisa ia duduki. Dari arah bangku pojok kanan belakang kelas, seorang gadis berkepang dua melambaikan tangan ke arahnya. Antari Zulfanna, nama yang tertera pada nametag gadis itu.
Antari lebih sering disapa dengan nama 'Tari'. Satu-satu penghuni kelas 8-C yang sangat dekat dengan Calysta. Dan sudah hampir setahun menjadi teman sebangku dari Calysta.
Calysta melangkah malas ke tempat duduk Tari. Bukan karena spot yang dipilihkan Tari buruk, tapi memang dari pagi ia malas sekali untuk datang ke sekolah.
"Hai Tar." Sapa Calysta yang langsung mengambil duduk di samping tembok.
"Untung aja gue dateng sebelum Rafa, Cal. Akhirnya tempat ini bisa kita kuasai. HAHAHAHA." Ujar Tari sambil tertawa.
"Tadi gue ketemu mereka di jalan."
Dari arah pintu masuk terlihat Rafa dan teman-temannya memasuki kelas. Raut wajah Rafa terlihat marah ketika tahu Calysta dan Tari menduduki tempat duduknya. Pemuda itu akhirnya berjalan ke arah Calysta.
"Cal, mampus gue. Kalau Rafa marah gimana?" tanya Tari.
"Tenang aja, ada gue." Balas Calysta sambil memberikan kode pada Tari untuk bertukar tempat duduk.
BRAK. Rafa menggebrak meja Calysta. Tidak terlalu kencang untuk menarik perhatian teman yang lain, tapi cukup kencang untuk memulai pertengkaran diantara dirinya dan Calysta.
"Lo tau kan ini tempatnya siapa." Desis Rafa.
"Nggak. Kan gak ada tulisan nama seseorang tuh di bangku atau meja ini." balas Calysta.
"Tapi biasanya gue duduk disini, Cal."
"Biasanya gak selalu kan?"
"Mau lo itu apa sih?"
Calysta menatap dingin ke Rafa kemudian kembali membaca novel yang bercerita tentang dunia sihir di tangannya. Tidak mengacuhkan pemuda itu lagi.
"Cal, gue lagi ngomong sama lo." ujar Rafa dengan nada memaksa.
Calysta membanting novelnya dan bangkit dari duduknya. "Gue capek Raf. Lo pikir gak capek debat sama lo? Hah?"
"Sehari aja lo emang gak bisa duduk di tempat lain?" Lanjut Calysta.
Jojo yang berdiri di samping Rafa langsung berusaha menarik sahabatnya itu. "Udahlah Raf. Duduk di depan aja, ada yang kosong."
"Bentar, Jo. Gue belom selesai ngomong sama dia."
"Apalagi?" tanya Calysta malas.
"Ini kali terakhir lo duduk disini. Paham lo." ujar Rafa memperingatkan.
"Suka-suka gue lah duduk dimana."
"Semoga kelas sembilan gue gak sekelas lagi sama lo." ucap Rafa kesal.
"Dih, siapa juga yang mau sekelas sama lo lagi. Pede banget jadi orang." Sahut Calysta dengan kencang.
****Bersambung****

KAMU SEDANG MEMBACA
Unbreakable bond : Alstroemeria
Fiksi RemajaCalysta, atlet panahan muda yang terkenal dengan sifat cuek, ansos, galak, jago beladiri dan sikap bad lainnya lah. Tapi anehnya, dia itu kutubuku alias kemana-mana selalu bawa buku. Dengan sikapnya itu, banyak anak yang takut padanya, dari adek kel...