.
.
.
Calysta menghela nafas kesal. Thanks to Rafa pagi itu mood gadis itu hancur. Novel yang sedang ia baca sudah tak menarik minatnya. Gadis itu menutup bukunya keras dan berdiri dari tempat duduknya.
"Lo mau kemana Cal?" tanya Tari.
"Melody. Ada tugas dari Pak Andre yang harus dikumpulin pagi ini."
"Buset dah. Hari ini tuh harusnya kita have fun, lo malah ribet sama olim."
Calysta mengangkat bahunya. Sebenarnya ia juga mau terbebas dari tugas-tugas itu. Tapi menjadi satu dari 3 anggota inti olimpiade matematika sekolah membuatnya tak bisa berkutik. Bahkan untuk akhir januari, ia sudah terdaftar di 2 lomba olimpiade matematika.
"Bulan depan setiap minggunya gue ada lomba. Mau ikut ga?"
"8-F yak?"
Calysta mengangguk.
"Boleh deh. Itung-itung gue bisa liat Danish disana."
Calysta mengernyit heran. "Siapa tuh?"
Tari menatap sahabatnya itu tak percaya. "Danish! Cowok paling ganteng di angkatan kita. Emang lo gatau?"
Calysta menggeleng. Lebih tepatnya ia tak peduli.
Tari menepuk dahinya keras tak menyangka bahwa sahabatnya itu terlalu kudet. "ASTAGA CALYSTA!!! Lo udah sekolah satu setengah tahun disini, tapi gatau siapa itu Danish."
****
Calysta dan Tari telah tiba di depan pintu kelas 8-F. Kelas itu telihat ramai. Beberapa anak perempuan terlihat sibuk membuat aksesoris untuk supporter, ada yang sibuk membuat gerakan dukungan, ataupun kesibukan lainnya. Tak lupa siswa laki-laki yang bisa dihitung jari di kelas itu asik bermain sepak bola di dalam kelas.
Calysta mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas berusaha mencari keberadaan Melody. Namun Calysta tak berhasil mendapati keberadaan partnernya itu.
"Melody mana ya,Tar?" tanya Calysta. Tari mengedikkan bahu tanda tak tahu.
"Nyari siapa?" tanya seorang pemuda yang baru saja tiba di kelas.
"Melody." balas Calysta yang masih celingukan mencari keberadaan Melody.
Pemuda itu menepuk bahu Calysta pelan membuat gadis itu reflek menjauh. Tatapan mata Calysta sedikit terlihat terkejut. Calysta membalikkan badannya melihat siapa yang menepuknya. Dihadapannya ada seorang pemuda jangkung berkulit putih dengan hidungnya yang mancung.
"Sorry." Ucap pemuda itu.
"Melody ada di kantin. Tadi gue ketemu sama dia." lanjut pemuda itu.
Tari yang berdiri di samping Calysta membisikkan sesuatu. "Itu depan lo Danish, Cal."
Pantas saja. Batin Calysta. Tak heran jika Danish dielu-elukan banyak teman perempuannya.
"Oh, dan lo siapa?" tanya Calysta pura-pura tak mengetahui.
Danish mendengus menahan tawa. Seingat pemuda itu, hampir seluruh siswa tahu namanya. Dengan predikat siswa paling ganteng di sekolah, siapa yang tak mengenalnya?
"Danish. Dan lo?"
Calysta memberikan tumpukan kertas yang dibawanya kepada Danish. "Tolong kasihin ke Melody ya. Bilang aja dari Calysta."
"Hhh. Okay." Jawab Danish yang tak bisa menolak karena tumpukan kertas yang saat ini berada di tangannya.
"Thanks." Kata Calysta yang langsung pergi balik meninggalkan kelas 8-F.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unbreakable bond : Alstroemeria
Teen FictionCalysta, atlet panahan muda yang terkenal dengan sifat cuek, ansos, galak, jago beladiri dan sikap bad lainnya lah. Tapi anehnya, dia itu kutubuku alias kemana-mana selalu bawa buku. Dengan sikapnya itu, banyak anak yang takut padanya, dari adek kel...