UB:A | Chapter 4

98 10 0
                                    

Selamat Membacaa!!!

.

.

.

Duh ngapain sih mereka. Batin Calysta.

Calysta tersenyum sopan sambil melambaikan tangan. Gak mungkin kan dia memasang wajah ditekuk pada kedatangan 'tamu'.

"Tumben kesini? Ada apa?" tanya Calysta to the point saat kelima orang itu hanya berjarak beberapa langkah darinya.

"Ada yang mau minta maaf." Jawab Tari yang mengambil duduk di bangku favorit Calysta. Diikuti oleh Melody.

Ramzi maju memberikan sebuah kotak pada Calysta, "Gue mau minta maaf karena tadi bola yang kenain kepala lo itu dari tendangan gue."

Calysta menyeringai mengejek. "Gue baru tahu di belakang gue ada gawang ternyata." Sindir Calysta tanpa mengambil kotak berwarna biru yang disodorkan padanya.

"Ya kan dalam permainan bola itu agak wajar kalau tendangan kita meleset." Sahut Akbar berusaha membantu Ramzi.

Calysta tergelak menatap ketiganya. Kemudian ia terdiam. Tatapan matanya berubah menjadi sedingin es yang mampu membekukan orang dihadapannya.

"Sudut antara gue dan gawang kelas 8-C itu sebesar 90 derajat. Bisa ya meleset itu sampe tegak lurus kayak gitu?"

Kali ini giliran Danish yang membantu. "Tadi Ramzi cuma berusaha memotong pergerakan Rasya aja dan gak ada pilihan lain selain menendang bola ke arah berlawanan. Dan sayangnya itu ngenain lo."

Calysta menghela nafas kesal. Moodnya yang bagus tadi agak berubah karena kedatangan Rafa, dan sekarang 3 orang yang bahkan sangat tidak ia pedulikan merusak moodnya seluruhnya.

"Gue baru tahu Ramzi punya dua pengacara di belakangnya. Boleh tuh kapan-kapan gue pake jasanya." Ejek Calysta ketus.

Calysta maju beberapa langkah mendekati Ramzi sampai jarak mereka tinggal satu langkah saja. "Emang lo gak punya mulut buat ngebela diri lo sendiri?" Tanya Calysta pelan tapi menusuk.

"Bu..Bukan gitu Cal." Bantah Ramzi.

"Gue sama Akbar cuma bantu ngejelasin doang."

"Gue gak lagi ngomong sama lo, Danish. Gak usah sok jadi pahlawan kesiangan." Bentak Calysta.

Melody menempelkan telunjuk kanannya di depan mulut memberikan kode pada Danish dan Akbar untuk diam. Tari pun menggelengkan kepala agar kedua orang itu tak ikut berbicara.

Calysta kembali merubah mimik wajahnya. Kini ia tersenyum 'manis' dan berkata, "Ramzi, lo kan temen gue dari SD nih. Pasti lo tau kan gue tuh anaknya gimana. Gue cuma maafin sekali. Kedua kali lo buat gue ketimpuk bola, bola itu bakal gue masukin ke kepala lo. Paham?"

Ramzi mengangguk paham dengan takut. Tubuhnya sudah bergetar menahan rasa gugup sedari tadi. Keringat sebiji jagung bermunculan di dahinya. Aneh sekali. Padahal Ramzi terkenal sebagai preman angkatan yang paling ditakuti dan sering berantem dengan siswa lainnya. Tapi kini, pemuda itu takluk di hadapan Calysta.

Ya tidak salah sih, track record Calysta saat SD bisa dibilang tidak baik juga. Gadis itu terkenal dengan peringatan pertamanya. Contoh saja sahabat Ramzi, si Adam. Dia sering sekali menganggu Calysta saat belajar bahkan pernah sampai membuat tangan gadis itu terluka karena menghalau keberadaan Adam. Calysta memperingati Adam bahwa jika ia terluka kedua kalinya, maka Adam akan terluka lebih parah darinya bahkan sampai tidak masuk sekolah berminggu-minggu.

Kedua kalinya Adam membuat Calysta terluka lagi, dirinya bahkan sampai tak masuk sekolah hampir 2 minggu karena jatuh dari sepeda. Dan semua orang percaya bahwa yang merusak sepeda Adam adalah Calysta walaupun tanpa saksi. Sejak saat itu, gak ada yang berani menyenggol Calysta apapun alasannya.

"Udah sana pergi. Gak usah kasih gue apa-apa." Usir Calysta.

"Lo juga Tar, Mel." Lanjut Calysta yang kini tengah berjalan ke pinggir balkon sambil merasakan angin menerpa wajahnya.

****

Matahari mulai berada di puncaknya. Sinarnya telah meradiasi bumi hingga mencapai suhu lebih dari 30 derajat celcius. Angin yang bergerak di rooftop itu kini bukan lagi membawa kesejukan tetapi hawa panas. Itu tandanya, Calysta sudah harus kembali ke kelasnya. Jika ia memaksakan diri disana, yang ada api keluar dari tubuhnya.

Calysta melangkah malas menuju pintu tangga. Ia membuka pintu tangga dan turun beberapa anak tangga. Gadis itu kemudian menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di bordes tangga (bagian jeda di tangga) yang berbentuk U itu. Orang itu tak lain pemuda yang tadi sempat ia temui. Pemuda itu berdiri dengan bersender pada dinding kokoh di belakangnya, tangannya terlipat di depan dada dengan matanya menatap lantai kosong.

Calysta seolah tak peduli dan berjalan melewati pemuda itu. Tapi salah satu tangan pemuda itu menghadang jalan Calysta.

"Minggir." Kata Calysta singkat.

"Gue mau ngomong sama lo."

"Perasaan gue gak ada masalah sama lo." tolak Calysta.

Calysta berusaha melewati tangan di hadapannya, tapi kini pemuda itu menggunakan tubuhnya untuk menahan Calysta. Calysta mendongakkan kepalanya ke atas menatap pemuda di hadapannya yang lebih tinggi sekitar 15 cm darinya.

"Mau lo apa?" bentak Calysta.

"Kalau gue pikir-pikir, bukan Ramzi yang salah tapi lo juga punya salah di kejadian tadi."

Calysta menaikkan sebelah alisnya, meremehkan ucapan pemuda di hadapannya itu.

"Kalo lo gak fokus sama novel di tangan lo itu, lo bisa ngehindarin bola dan gak sampe terluka." Lanjutnya.

"Udah? Udah ngomongnya?"

Pemuda itu mengangguk.

"Minggir."

"Cabut ancaman lo ke Ramzi." Perintah pemuda itu.

"Berbakat lo ya jadi pengacara." Sindir Calysta.

"Lo juga salah atas kejadian itu."

"Minggir." Perintah Calysta sekali lagi.

Tapi pemuda dihadapannya itu tak bergerak sama sekali. "Cabut ancaman lo terlebih dahulu."

Calysta menyeringai jahat. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tindakan orang di hadapannya.

"Danish.. Danish. Lo kira karena lo anak keluarga Dirgantara gue bakal nurut sama lo kayak warga satu sekolah ini?"

Calysta mendorong bahu kiri Danish dengan tangan kanannya. "Kalo lo cari satu orang saja di sekolah ini yang bakal nganggep lo kayak manusia biasa, lo bisa cari gue. Karena gue bukan orang yang harus tunduk sama lo."

Calysta berusaha melewati Danish yang berdiri di hadapannya. Untung saja masih ada celah di sebelah kiri Danish. Namun, tangan Danish kembali menahan lengan kiri Calysta.

"APA LAGI SIH?" Teriak Calysta sambil berusaha melepaskan cengkeraman Danish.

Mata mereka bertemu saling beradu tajam. Calysta yang marah karena jalannya di hadang. Danish yang tersulut karena Calysta mengatakan suatu hal sensitif terkait siapa dirinya.

"Gue emang anak keluarga Dirgantara. Tapi gue gak pernah minta mereka tunduk sama gue." Kata Danish dingin.

"Gue gak peduli tentang LO ataupun asal-usul lo dan keluarga lo. Puas?" Balas Calysta yang langsung pergi meninggalkan Danish sendiri di tangga.

****Bersambung**** 

Thank You for Reading Guyss...

Semoga kalian sukaa

Kritik kalian akan sangat membantu untuk mengembangkan cerita ini!!

Please Vote dan Commenttnyaa

With Love, 

Diana Amara

Unbreakable bond : AlstroemeriaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang