.
.
.
Pukul 12.00 tepat dimana matahari berada di puncaknya. Radiasi panasnya menghangatkan tubuh manusia yang tengah beraktivitas di lapangan. Seperti halnya di lapangan Graha Archer yang berada di pusat ibukota, ada seorang gadis yang tengah berlatih memanah untuk kompetisi berikutnya.
Gadis itu rambutnya diikat cepol berwarna cokelat, kulitnya berwarna beige khas warna kulit di negaranya. Irisnya yang berwarna hazel terlihat fokus menatap papan target yang berjarak 70 m dari tempatnya berdiri. Tangan kirinya dengan mantap dan tenang mengangkat busur panah dengan tangan kanannya menarik anak panah.
"Shoot."
Sebuah teriakan perintah dari sesosok pria yang berdiri di samping gadis itu sambil membawa papan berjalan, mencatat setiap poin yang didapatkan gadis yang dilatihnya.
Anak panah melesat dengan anggun menuju papan target. Dalam hitungan detik, anak panah menancap sempurna di lingkaran poin 10 papan target.
"Good, Calysta." puji pria itu.
"Bang derry, istirahat ya." Pinta Calysta.
Pria disamping Calysta yang bernama Derry memberikan anggukan setuju. Calysta berjalan menuju pinggir lapangan dimana tas panahannya berada. Untung saja ia taruh tas panahannya di tempat yang teduh, setidaknya selama istirahat ia bisa berlindung diri dari teriknya matahari. Calysta melemaskan otot-otot di tubuhnya yang telah dipakai untuk berlatih selama 2 jam lamanya.
Tak lama, Derry pelatihnya datang menghampiri Calysta sambil membawakan 6 anak panah yang tadi masih tertancap di papan target.
"Calys, setelah ini saya akan sibuk dengan masa residensi akhir saya di spesialis bedah. Saya akan tetep ngelatih kamu, tetapi nantinya akan ada pelatih lainnya yang bergabung." Ujar Derry.
Calysta mengangguk mengerti. Derry menjadi pelatihnya sejak umurnya 5 tahun dimana pertama kali ia berlatih memanah. Ditengah kesibukannya dalam pendidikan menjadi dokter, Derry selalu menyempatkan waktunya untuk melatih Calysta. Gadis itu memiliki bakat alamiah sejak kecil. Dan sampai saat ini, telah 8 tahun lamanya Derry melatih gadis itu. Medali? Emas, perak ataupun perunggu telah Calysta dapatkan di kejuaraan dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan gadis itu telah mengamankan posisinya menjadi salah satu atlet panahan yang bertanding pada olimpiade remaja tahun depan.
"Bang Rico yang gantiin, Bang?"
Derry menggelengkan kepala. "Rico saat ini difokusin buat ngelatih tim cowok, terutama partner kamu si Rey."
"Ada seseorang dulu dia sama kayak kamu, mulai manah di umur 5 tahun. Pernah bertanding juga di kejuaraan dunia untuk junior. Di umur 10 tahun, dia keterima di kedokteran universitas luar negeri. Emang jenius sih anaknya. Dia berhenti manah 6 tahun lalu karena fokus belajar bedah." Lanjut Derry. Calysta hanya diam menyimak.
"Tapi sekarang, setelah dia menyelesaikan program spesialisnya di luar negeri, akhirnya dia balik ke tanah air. Dan dia mau ngelatih kamu."
"Bukannya kalau habis spesialis itu bakal sibuk sama penelitian, Bang?" tanya Calysta.
"Dokter itu kan masih manusia. Kita juga butuh hiburan kali."
Calysta membulatkan mulutnya membentuk huruf-O. Semilir angin menerpa wajah gadis itu membuat beberapa rambut halus memenuhi dahinya.
"Tuh mereka datang." Ujar Derry tiba-tiba membuat Calysta terbelakak kaget. Pasalnya pelatihnya itu tak pernah mengatakan bahwa dia akan bertemu pelatih baru hari itu.
Calysta mengikuti arah pandang Derry, disana ada 2 pemuda setinggi 180cm-an yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Keduanya serupa tapi tak sama. Tampan? Sekali. Dari cara berjalannya saja sudah seperti model yang berlagak di panggung. Dalam benak Calysta mereka ketika bang Derry bercerita pasti mereka sudah berumur 25 tahunan. Tapi yang dilihat sama dia kali ini seperti pemuda yang baru memasuki masa puber alias anak SMA.
"Juna, Dhitto!" Panggil Derry. Berselang beberapa menit, kedua pemuda itu sudah berdiri dihadapan Calysta sambil berpelukan dengan Derry.
"Calysta kenalkan ini Juna" Derry menunjuk ke salah satu pemuda berambut emas yang sedang melepas kaca mata hitamnya, "dan yang ini Dhitto." Derry menunjuk pemuda lainnya yang sedang melepaskan topi yang ia gunakan.
Juna mengulurkan tangan kanannya pada Calysta, "Arjuna Athafariz. Panggil aja kak Juna."
Calysta membalas dan berkata, "Calysta kak, panggil aja Calys."
Dhitto juga menjulurkan tangannya pada Calysta, "Ardhitto Dynaldi. Saya lebih suka dipanggil Bang Dhitto."
Calysta membalas dan berkata seperti sebelumnya. Tapi gadis itu gagal menutupi keterkejutannya dari Juna.
"Ada apa Calys, kamu seperti terkejut melihat saya dan Dhitto?"
Calysta merutuki dirinya dalam hati. Ia menjawab jujur, "Nggak, dari ceritanya bang Derry tadi gak nyangka aja kalau kakak-kakak ini ga seperti.."
"Kayak anak SMA maksud kamu?" potong Dhitto.
Calysta mengangguk malu. Wajahnya memerah seperti tomat.
"Nggak cuma kamu kok yang berpikir kayak gitu, pasien kita juga bahkan ada yang gak percaya. Tapi tenang, kita udah 21 tahun bukan remaja lagi."
"Kalian berdua daritadi udah liat dia latihan bukan?" tanya Derry mengubah topik pembicaraan.
Juna mengangguk. "Udah, ya gak salah sih kalau dia yang dipilih buat ke olim remaja. Berapa umurmu sekarang, Cal?"
"14 tahun kak." Jawab Calysta.
"Hah? Bukannya kamu masih kelas 2 SMP?" tanya Dhitto bingung.
Juna menyenggol bahu Dhitto pelan. "Ya kan peraturan negara minimal 7 tahun buat masuk SD. Gak kayak jaman kita."
Dhitto mengangguk paham penjelasan Juna.
"Tadi juga kita abis dari tempat latihannya Rey, tapi memang keputusannya dilatih bang Rico." Tambah Dhitto.
Handphone Calysta berbunyi, tanda sebuah pesan masuk dari 'Pak Muji', seseorang yang diperintahkan oleh orang tua Calysta untuk mengantar kemanapun Calysta pergi.
Nona, saya sudah sampai di luar lapangan.
Calysta langsung membalas pesan itu agar pak muji menunggu sebentar.
"Bang Der, ini latihannya sudah selesai kan? Saya sudah dijemput."
Derry mengangguk. "Ada acara setelah ini?"
Calysta mengangguk malas. Memang setelah ini ada acara yang ia 'diharuskan' datang.
"Sayang sekali, padahal saya ingin mengajak kamu makan siang bersama 2 pelatih barumu ini."
Secercah harapan muncul di wajah Calysta. Wajah yang awalnya terlihat capek setelah latihan itu kini berubah cerah bersemangat.
"Ayo, Bang." Ajak Calysta bersemangat.
Derry mengernyitkan dahi penuh keheranan. Ada apa gerangan dengan anak didiknya itu.
"Katanya kamu ada acara?"
"Gak penting kok acaranya." Bujuk Calysta.
Ya acara yang harus ia datangi memang 'tak penting' tapi hanya untuk Calysta bukan yang lainnya.
****Bersambung****
Hi guyss
Thank you for reading!!!
Please vote and comment untuk membantu cerita ini..
With Love,
Diana Amara

KAMU SEDANG MEMBACA
Unbreakable bond : Alstroemeria
Teen FictionCalysta, atlet panahan muda yang terkenal dengan sifat cuek, ansos, galak, jago beladiri dan sikap bad lainnya lah. Tapi anehnya, dia itu kutubuku alias kemana-mana selalu bawa buku. Dengan sikapnya itu, banyak anak yang takut padanya, dari adek kel...