Bab 1

0 0 0
                                    

Dila membaca kertas yang tadi ia ambil, ia meneliti semua tulisan dari David dan menemukan kesimpulan dari coretan yang David tulis

"kak David ternyata broken home, gumam Dila yang masih tetap memandang kertas itu, lalu membaca dan mencermati lagi, ia menemukan kesimpulan lagi, bahwa temanya mengucilkan dirinya karena ia selalu malas malasan dalam segala hal semenjak ia jadi broken home.

"kasian banget sih, tapi gwe bisa apa, apa iya gwe nemuin Kaka David, kan gengsi, ujar Dila.

"Dila panggil Tasya dari arah kelas

"ada apa sya? tanya Dila tanpa beranjak

"sini, suruh Tasya

Dila beranjak, melupakan masalah David, kini ia tepat di depan Tasya.

"jamkos nih, nyanyi yuk

Hembusan angin meniup wajah alam, mataku tak berkedip menatap langit, terlalu luas tak bertepi pandang, bisakah aku menyentuh awan.

Mereka berdua nyanyi hingga suara serak dan cape

"kantin yuk, ajak Tasya

"ayo, jawab Dila semangat
Dila memang pandai tapi Dila tak mau seperti anak yang lain, pandai bukan berarti menuntut dia agar selalu belajar, prinsipnya, dia harus selalu berinteraksi, ada kalanya dengan manusia bukan hanya buku, karena ia tak mau masa mudanya terlewati dengan terus membaca, tapi ia tetap tau batas dan waktu.

"Bu gorengan sepuluh, pinta Dila pada tukang kantin

"yaelah Dil, gwe tau Lo lapar tapi gak boleh rakus Kya gini juga dong, Maruk tau gak!!

"binyik bicit Li, ujar Dila sambil menampakkan wajah jeleknya.

"anjir, jelek amat, jijik gwe liatnya

Setelah selesai memesan gorengan Dila langsung membayar dan pergi meninggalkan Tasya, tak heran selama beberapa bulan ini, ia selalu ke kantin bersama, tapi pulang ke kelas selalu mendahului, terutama Dila, yang enggan dengan keramaian.

"kak David, panggil Dila lalu menghampiri

"apaan sih Lo, kalo Lo mau ketemu gwe, hapus dulu belek Lo

"Hehehe

"Lo siapa sih, dan apa tujuan Lo panggil gwe, dan Lo mau ngapain?

"Lo broken home? tanya Dila  tiba-tiba

David melirik lalu berdiri dan melangkah beberapa langkah

"Lo baca kertas itu? tanya David tanpa memandang Dila

Ketika hendak menjawab, Dila melihat Bu Siska yang hendak masuk ke kelasnya, " Bu Siska" gumamnya,  tanpa basa basi, Dila pergi berlari meninggalkan David dan tak menjawab pertanyaan dari David.

Sadar tak ada jawaban dari Dila, David menoleh lalu mencari keberadaan Dila, namun batang hidung perempuan itu sudah tak terlihat.

Ketika pulang sekolah, Dila melihat David sedang menangis
"kok cwo bisa nangis, gumam Dila, lalu Dila menghampiri David yang ada di depan aula.

"kak David kenapa? tanya Dila

"Lo gak tau, gwe lagi nangis, malah tanya kenapa lagi!!

"gwe tau kak, Lo nangis, tapi sebabnya apa?

"Lo beneran mau denger cerita gwe?

"boleh juga, kayanya menarik, ujar Dila sambil duduk di samping David.

"bokap sama nyokap gwe mau pisah, gwe bingung harus pilih siapa di antara mereka, apa gak ada harapan lagi buat mereka bersatu?

"ada kok, jawab Dila santai

"gwe gak bercanda, Lo serius? ujar David membulatkan matanya

"masalah mereka sampai mau pisah apa? tanya Dila

"gak tau

"coba kaka ngobrol sama mereka, minta waktunya sedikit, lalu sampaikan semua keluh kesah Kaka, dan ke khawatiran Kaka, sama ibu dan ayah Kaka, bahwa Kaka gak mau memilih di antara mereka, kalau mereka tetep kekeuh Kaka nangis di depan mereka menunjukan ekspresi wajah Kaka yang sesungguhnya, syukur-syukur, mereka akan mengerti lalu memikirkan kembali niat mereka,.jelas Dila

"gwe udah berdoa tapi tetep aja mereka membulatkan keputusan nya

"percuma kalo Kaka cuma berdoa, harusnya di iringi dengan usaha

"makasih sarannya, tapi emang bisa? tanya David dengan ekspresi tak yakin

"coba aja dulu kak, jawab Dila meyakini

"Oh iya, btw nama Lo siapa?

"Nama gwe Dila, dari kelas sepuluh, jawab Dila

"oh Dila, makasih ya, atas sarannya, nanti kalo berhasil gwe pasti utang Budi sama Lo

"ah lebay Lo kak.

"Dila di cari Bu indah, ujar Vina yang melihat Dila sedang mengobrol dengan David.

"ini kan udah pulang sekolah, kenapa Bu Siska panggil gwe? tanyanya bingung

"mana gwe tau.

Dila memasuki ruang Bu indah, dan bertemu dengannya.

"ada apa Bu? tanya Dila

"Dila, ibu akan panggil orang tua kamu, ujar Bu indah tiba-tiba

"loh kenapa Bu? tanya Dila kaget

"gak papa kok, ibu cuma mau izin sama ibu kamu, supaya di perbolehkan jadi maskot mewakilkan sekolah

"oh kirain apa, yaudah nanti Dila bilang sama momy, soalnya momy sibuk banget jobnya banyak dimana mana

"tolong usahain yah Dil, pinta Bu indah

"oh pasti Dila usahain Bu, jawab Dila

"ya udah kamu boleh keluar, untung kamu tadi belum pulang.

"iya Bu, tadi ada urusan say pamit Bu, permisi.

David melaksanakan saran dari Dila, dan meyakinkan dirinya pasti akan berhasil.

"Mah pah, David minta waktunya sebentar aja, pinta David.

"ada apa David? tanya ayah nya

"mah tolong ke sini, David mau ngomong

Mamahnya menuruti keinginan putranya itu.

"apa?

"apa mama sama papa tau, betapa hancurnya hati ini ketika mendengar kalian akan berpisah? tolong kalian jangan egois, David gak mau punya mama sama papa pisah, David butuh teman curhat, yaitu mama David juga butuh teman main yaitu papa.

"David, kamu kan udah besar, kamu bisa dong main sendiri, temen kamu kan banyak, ujar ayahnya

"tapi gak se asyik ayah, protes David

"mama akan tetap ambil keputusan ini, kalo kamu kangen dan butuh curhat silakan kamu ke mama, tapi kalo kamu kangen dan ingin bermain sama papa, mam gak larang kamu buat ketemu sama papa.

David menangis, tubuhnya seketika lemas lunglai, dan berkata

"papa sama Mama gak sadar telah menghalangi pertumbuhan jiwa David, ucapnya sambil menangis.

"maafin papa, papa akan usahain buat bujuk mama kamu, agar gak pisah, ujar papanya

Ibu David ikut menangis, ia baru sadar akan hal itu.

"baik, mama kasih papa satu kesempatan lagi, dan jangaaa pernah sia siakan ujar ibunya.

"ini semua demi kamu David, ujar kedua orangtuanya.

"makasih mah pah, lalu David menyalami kedua orangtuanya, dan izin untuk ke kamar, betapa bahagianya David saat itu.

The problemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang