2

1K 146 4
                                    

Jangan lupa vote and comment
:)







Berlari tergopoh-gopoh sepanjang lorong rumah sakit. Juga menyiapkan hati dan jantung sewaktu-waktu jika ia tiba-tiba dipecat dari pekerjaannya. Jangan lupakan otak yang bekerja menyiapkan alasan tepat yang sepertinya sudah tidak berlaku lagi.

"Alasan apalagi yang ingin kau katakan kali ini?" kepala rumah sakit sepertinya memang sudah muak dengan Rena. Dokter muda yang sangat teledor tapi rumah sakit sulit untuk memecatnya atau bahkan sulit hanya untuk mengeluarkan peringatan. Terlalu berguna untuk disia-siakan.

"Apa kau seperti ini juga saat di China? Lalu bagaimana bisa kau menjadi dokter gawat darurat perang. Lihat kau bahkan tak menjawab pertanyaan ku satu pun"

Hembusan nafas terakhir kasar Rena benar-benar terdengan hingga telinga atasannya. "Bapak ga liat saya masih ngambil nafas? Punya mata buat apa si Cas" okey kalimat bergaris miring itu di ucapkan dengan gumaman sangat lirih. Ia masih ingin menikmati enaknya hotpot kesukaannya, dengan kata lain tidak ingin menjadi gelandangan di negara orang.

"Tadi ada pria yang sedang dikejar polisi menghalangi mobilku. Dia mengancamku sehingga dengan terpaksa harus ku bawa ke apartement dan mengobatinya," jelas Rena.

"Siapa pria itu?" Sepertinya atasannya itu tidak akan mempercayainya dengan mudah.

"Jung Jaehyun," peduli apa tentang anggapan manusia mengesalkan didepannya, ia sudah mengatakan kejujuran.

"Kau berhalusianasi? Sepertinya kau bangun kesiangan dan kau bermimpi lelaki pujaan mu itu."

Seandainya itu mimpi aku akan sangat bersyukur tapi apa boleh buat. Ucap Rena dalam hati. Jika dijelaskan sedetail apapun lawan bicaranya tidak akan percaya.

"Terserah Lucas! Aku sudah pusing." Katakanlah Rena tidak sopan, tapi memang seperti itu adanya. Untuk apa bersikap sopan pada lelaki itu jika,

"Kau bisa makan siang dengan ku hari ini?" lihat, lelaki itu sungguh tidak tahu diri. Setelah membuat darah naik malah akan membuat perut mual.

"Aku akan makan siang dengan Chandara hari ini." Tolak Rena tegas dan segera berlalu dari ruangan lelaki tak punya urat kemaluan itu.

-----


"REN!!" Teriak Chandara didepan lobi. Rena mengumpati sahabatnya itu saat ini. Chandara tidak ingat kah jika ini masih di rumah sakit. Akan ada orang berpenyakit jantung yang akan mati seketika dengan suara lantang bagai petir menyambar itu.

Rena menepuk mulut Chandara ketika berhadapan di depan gadis itu, tentunya di balas tatapan tajam dan mulut yang siap akan segala umpatannya. Maka ia harus menghentikan itu semua, "Rumah Sakit dan mana pasien gue"

"Di dalem. Eh Ren-" Rena berlalu begitu saja. Ia menghindari pertengkaran dengan Chandara hari ini, ya dia tidak mau bertengkar dua kali dengan nini tua di dalam sana juga. "Untung temen"



"Selamat pag-siang bu. Maaf saya sedikit terlambat." Rena tersenyum tulus dengan pasien yang tengah menunggunya di ruangan tersebut. Pasien tersebut tersenyum yang berarti tidak apa apa.

Didudukkannya tubuh letih Rena dan "Bagaimana kabar anda? Lebih baik dari kemarin?"

"Kak dokter, gigi jeya sakiiit" atensi Rena teralihkan oleh gadis kecil yang sedang duduk di ranjang ruangan itu. Rena tersenyum, lucu sekali dia.

"Dia bilang sakit gigi tapi malah ingin bertemu dokter jantung. Ku dengar kau juga lulusan fkg, apa itu benar?" tanya Bu Jesica pada Rena. Ia kagum pada kegigihan wanita yang sedang mendekat pada cucunya. Ia kagum pada senyuman tulusnya. Seperti tak menyimpan masalah apa pun dihidupnya.

Andai ia menjadi menantunya, ah sepertinya tidak mungkin. Gadis cantik dan pintar sepertinya tidak mungkin melajang, pasti sudah memiliki kekasih yang siap untuk melangsungkan pernikahan kapan saja.

"Benar. Tetapi akan jauh lebih baik jika kamu diperiksa oleh dokter gigi anak sebenarnya," ucap Rena tenang, ia tak sadar jika jarinya telah mengelus pipi chubby milik anak menggemaskan di depannya itu. "Mau kakak antar?" tawarnya melihat anak itu sedikit gemetar ketika ia menyebutkan kata dokter gigi.

"Oh apa kau tidak keberatan?"

"Sepertinya hari ini hanya oma yang datang kemari. Mengingat hari ini bukan hari kerjaku." Tanpa sadar, kalimat terakhir menyentak perempuan yang ingin dipanggil oma agar lebih akrab.

"Aku mengganggu liburan mu?!" tanyanya dengan nada kesal. Bukan pada Rena tapi pada dirinya sendiri.

Tersadar akan ucapannya. Rena segera memperbaikinya, ia tidak ingin menyakiti hati perempuan itu "Bukan seperti itu, maksud saya. Saya memiliki jadwal laboratorium hari ini jadi hanya oma yang dapat saya temui pagi ini."

"Les's go!" tangannya mengepal memberi semangat pada Jeya. Menggendongnya untuk menemui dokter gigi dan berpamitan pada perempuan cantik itu, "Saya akan kembali sebentar lagi."

Gadis yang berada di gendongannya itu tak henti - hentinya menceritakan isi hatinya pada Rena, entah ketakutannya pada dokter gigi yang dulu pernah menanganinya ataupun kesenangannya saat akan bertemu dengan Rena.

Mereka telah sampai di depan pintu poli gigi, dekapan Jeya pada Rena semakin menguat. "Tidak apa-apa. Kakak janji tidak akan sakit."

Tangan kanan Rena mendorong pintu tersebut. Dibaringkannya Jeya pada kursi pemeriksaan "Katanya giginya sakit dan takut menemuimu. Bersikap baiklah sedikit dok."

"Hmm" Doyoung, lelaki keturunan korea tersebut terlihat galak padahal hatinya seperti kaca. Ia terlihat kesal saat Jeya menggodanya seperti itu.

Setelah pemeriksaan tersebut, Rena mendengarkan penjelasan orang di depannya itu dengan teliti, tidak ada sepatah katapun yang tidak ia dengarkan.

"Hanya tidak boleh makan makanan manis terlalu sering saya oma." Ucap Rena pada Jesica sesaat setelah memasuki ruangannya kembali. "Jadi gigi Jeya tidak perlu dilepas," Rena menurunkan gadis kecil dari gendongannya dan memangkukannya pada Jesica, kemudian ia berjalan menuju kursi kebanggaannya.





Setelah pemeriksaan selesai. Tena mengantarkan Jesica untuk keluar dari ruangannya, aktifitas rutin untuk setiap pasien VIP "Jika kamu tidak ada jadwal ke rumah sakit. Sebaiknya kamu memberi tahu oma. Kan kasian kamunya harus ke rumah sakit." sepertinya ucapan tak sengaja Rena tadi masih membekas di hati perempuan bercucu tersebut.

"Saya tidak akan melewati jadwal pemeriksaan Anda nyonya. Saya senang bertemu Jeya." ucap Rena berusaha meyakinkan ia tidak keberatan dengan kehadirannya di rumah sakit hari ini, mengingat keadaan apartementnya sangat kacau oleh mantan idolanya sendiri.

"Ah terimakasih dokter Rena," ucap Jesica ceria agar sang cucu mengikuti kata-katanya.

"Terimakasih kak Renaaa!"

"Sama-sama." senyuman ikhlas Rena layangkan dengan memperlihatkan giginya yang tersusun rapi. Tangannya tanpa sengaja ia bawa untuk manirik gemas pipi chubby Jeya. Sangat manis dan penyayang.

Lagi-lagi terpikirkan oleh Jesica untuk menjadikan Rena sebagai menantunya "Apa kamu sudah punya kekasih? " pertanyaan spontan dari hati Jesica membuat raut wajah Rena menegang.

Tidak ada yang salah dari pertanyaan itu hanya konten sensitif untuk Rena "Calon suami?"

Pupus sudah harapan Jesica.





















Masih mau nungguin kelanjutannya kan? 
Maaf ga bisa update cepet :((

Mr.Jung - JAERENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang