13

25 4 1
                                        

"ZIYAA..." gendang telingaku menangkap suara yang memanggil namaku kencang. Kuputar kepala kebelakang dan mengernyitkan dahi bingung. Mendapati seorang cowo berlari kearahku. Saat tiba tepat di depanku ia terengah-engah dengan tangan memegang lututnya.

"Kak Kevin kenapa lari-lari gitu?" Tanyaku dengan dahi yang masih mengernyit bingung.

Setelah menetralkan nafasnya, ia berdiri dan menghadap ke arahku. "Gak papa. Hehe."

Aku melanjutkan langkah ke kelas yang sempat tertunda. "Apasih gak jelas banget,"

"Eh tunggu, bareng dong" ia memegang tanganku dan melangkah mendahuluiku tanpa melepas genggaman tangannya.

Aku cukup kaget dengan tingkahnya. Aku tetap berjalan di belakangnya, tapi mataku terfokus pada tanganku yang digenggamnya.

"Idih, mulai lagi tu capernya."

"Ya ampunnn cewek kurbel banget sih."

"Kemaren Tama, sekarang Kevin, besok siapa? Raffa sekalian!"

"Anjir!! Sakit mata gue liat pangeran sama cabe lewat."

"Pake pelet apa lo?"

Nyinyiran-nyinyiran orang mulai masuk ke gendang telinga. Membuat fokusku kembali ke sekitar. Sudah pasti aku akan dapat julid-an orang-orang. Bagaimana tidak? Orang koridor saat ini saja ramai sekali.

Bodo amat gak peduli gue.

Ndas-mu caper.

Lu tu kurbel.

Sirik aja lo!! Suka-suka gue lah mau deket sama siapa aja.

Cabe? Cocokan lu jadi cabe. Muka lo penuh sama tambalan. Bedak lu berapa senti cuy sampe beda gitu sama leher warnanya.

Pelet lele, kenapa? Mau gue pelet juga lo?

Meskipun tidak menjawab cibiran mereka. Tapi siapa sangka jika aku ngedumel di dalam hati?

Masih banyak nyinyiran-nyinyiran lain sepanjang koridor, tapi tidak ku ambil pusing. Seolah menulikan telinga.

Kami melangkah menuju lantai 2. Tentu saja dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Tepat di anak tangga terakhir, kak Kevin tidak juga melepaskan tanganku. Ia terus melangkah menuju lantai 3.

"E.. ehh... kak Kevin, kelas gue kan di lantai 2."

Seperti mengingat sesuatu, ia menepuk dahinya. "O iya, lupa gue. Abisnya tangan lo nyaman banget digenggam sih." Mendengar itu pipiku merasa panas.

Gila. Gila. Gila. Ni orang gak bisa apa bikin gue gak salting terus? Kan gue malu woy.

Kak Kevin terkekeh. "Lo lucu banget kalo lagi salting. Pipinya merah tuh."

Anjir, oksigennya abis ya? Woiii gue butuh oksigen.

"Yaudah kak, gue ke kelas duluan ya," tanpa menunggu jawaban kak Kevin, aku langsung berjalan menuju kelas. Tidak mau dipermalukan lebih jauh lagi.

Baru saja ingin masuk kelas, suara seseorang membuat langkahku terhenti lagi. "Ziya?"

Setelah melihat siapa yang memanggilku, seketika moodku hilang begitu saja. "Hm"

"Jangan jutek-jutek dong. Gue minta maaf deh soal yang kemaren." Katanya sambil memperlihatkan cengirannya.

Aku mendengus. "Kak Raffa ngapain di sini?"

"Lintangnya... ada?"

"Kenapa nyariin Lintang?" Selidikku. "Kak Raffa lagi PDKT ya sama Lintang?" Lanjutku dengan mata menyipit dan menunjuk tepat di wajahnya.

My Strange Enemy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang