BAB 1 : Namanya Ambar

103 13 2
                                    


Katanya: Jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri!

Begitu sih yang dikatakan buk Ita ketika membicarakan soal percintaan dengan putri satu-satunya.

*****

Ambar-Sita! Ada kisah dari mereka berdua ♥️ Bertemu sejak dari kecil kemudian saling salah paham dengan perasaan masing-masing. Pertemuan dua insan yang memiliki karakter yang begitu berbeda itu terjadi ditahun 2001 yang lalu.

Saat itu Sita yang baru duduk dikelas dua SD harus pindah ke desa Peringi hilir kampung asal ibunya. Desa yang begitu indah, bersih dan sejuk yang sengaja Tuhan sembunyikan agar terhindar dari polusi jaman disuatu hari nanti.

Sita dulunya tinggal disalah satu kota penghasil minyak terbesar di negara Indonesia. Tapi karena PHK besar-besaran yang terjadi ditempat kerja ayahnya, mereka pun akhirnya memutuskan kembali kerumah nenek Sita yang ada di Peringi hilir.

Satu truck coltdiesel dan mobil pick up yang mengangkut barang-barang mereka dari tempat tinggal yang dulu akhirnya sampai juga ke desa Peringi hilir.

"Capek ya pak?" tanya pak Adam, ayahnya Sita kepada sopir-sopir yang terlihat begitu kelelahan duduk didepan halaman rumah mereka.

"Bukannya capek lagi pak, rasanya ambein saya mau keluar saking lamanya duduk di dalam mobil"

"Tiga hari dua malam rasanya" sambung pak sopir mobil pick up.

"Biasanya orang-orang pindah ke kota pak, ini kok malah nyari tempat terpelosok begini" ujar bapak pembawa mobil Coltdiesel lagi.

"Hahaha mertua saya tinggal disini pak. Lagian perjalanannya jadi terasa lama karena kampung ini dan kotanya terpisah sama sungai"

"Iyaa seperti itu lah pak, lama karena harus menyeberang. Ferry pun cuma tiga kali lewat. Saya jadi nggak kebayang kalau ada warga desa disini yang sakit jantung"

"Hahaha puskesmas nya ada kok pak" sahut buk Ita yang baru keluar dari dalam rumah bersama adik laki-lakinya.

"Walau ada puskesmas, kalo pasiennya jantungan apa yang mau dilakukan sama orang-orang puskesmas buk? Pasti rumah sakit juga ujung-ujungnya"

"iyaa, doa kan saja desa kami cepat dibangun rumah sakit ya pak"

"Tidak masalah kalau nggak ada rumah sakit didesa ini buk. Yang dibutuhkan cuma jembatan. Kalo sudah ada jembatan aman lah mau kerumah sakit"

"Hmmm....Justru penduduk desa yang gak mau dibangunin jembatan pak. Sepertinya memang mau mengisolasikan diri"

"Hahaha sepertinya memang begitu buk. Lagi pula ini pertama kalinya saya lihat desa yang begitu bersih dan sejuk. Saya merasa lagi nggak kerja mengantar barang ke sini buk, tapi pergi liburan"

"Hahaah iya benar. Tenang dan damai juga disini buk. Serasa di surga versi dunia" sahut bapak mobil truck dan mulai membantu adik buk Ita menurunkan barang-barang pindahannya.

Kerabat buk Ita satu persatu pun mulai berdatangan dan ikut membantu menurunkan barang-barang wanita yang sudah lama tinggal dirantau tersebut.

*****

Ambar dan Ismet yang baru saja pulang dari mandi-mandi disungai melihat kerumah nek Lasa dari kejauhan.

"Nek Lasa ada tamu Mbar" bisik Ismet sambil menyikut lengan temannya.

"Iya... anak perempuannya pulang"

"Kok kamu tahu?"

"Kemarin dia cerita sama pak Bahrun anak perempuannya mau balik ke sini"

AmbarSita : The beginning of love [TAMAT] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang