Orang-orang di Salt Lake tahu Orion Asiana Fitzgerald-yang hanya ingin dicap sebagai A-itu gadis yang lugu. Tak pernah keluar dari zonanya. Tak pernah mengintip ke dunia dimana anak-anak lain selalu berkunjung ke sana.
Namun, suatu malam ia meningg...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku hampir tak mengenalmu."
Suara itu. Aku mengenalnya. Khas, tapi tak menutup fakta betapa jarang aku mendengarnya.
Menoleh ke kiri—sambil merutuki keputusanku pagi ini untuk memasang poni sisi samping—aku melemparkan senyum simpulku. Hanya itu yang bisa kulakukan, mengingat ada organ di dalam dadaku yang harus kujaga agar tidak meledak.
"Aku rasa kau harus belajar cara menjawab sapaan yang benar, Miss Fitzgerald." katanya lagi.
"Sungguh? Apakah 'Aku hampir tak mengenalmu.' terhitung sebagai sebuah sapaan?"
"Anggap saja begitu."
"Oh, kalau begitu kau juga harus belajar cara menyapa orang dengan benar, Ben."
Lelaki itu terkekeh. "Bagaimana kabarmu, A?"
"Setelah semua kesibukan akhir tahun pelajaran? Aku baik." Masih kurasakan sudut bibirku yang naik karena tersenyum. "Kau sendiri?"
Ia meneguk sodanya. "Tak pernah sebaik ini."
Aku mengangguk. Atau lebih tepatnya mencoba mencerna kata-kata yang baru saja terucap dari mulutnya. Tak pernah sebaik ini. Barangkali aku ketinggalan kabar, atau memang keadaan hubungannya yang kandas akhirnya membebaskan dirinya dari belenggu Emily. Aku masih ingat bagaimana sikap Emily terhadap Benhur semasa mereka masih berhubungan. Bahkan semua anggota perkumpulan para ibu—yang sering dihadiri ibuku—tahu betapa frustasinya Mrs. Bridgers karena telepon rumahnya selalu digunakan Benhur untuk mendengar celotehan murah Emily setiap sekolah usai.
Benhur masih berdiri di sana, di depan perapian yang padam, menyandarkan tubuhnya sambil sesekali memindai ruangan dengan mata setajam elang.
"Kau mengawasi meja itu."
Ia mengangguk. "Yeah."
"Kalau begitu khawatir, mengapa mengadakan pesta?"
"Kalau merasa stres, mengapa tidak akhiri hidup saja?" Ia menoleh ke arahku. Alisnya sebelah naik.
"Well, itu tergantung." Aku mengedikkan bahu. "Tidak semua hal di dunia ini dapat disamakan."
"Contohnya?"
"Aku yakin itu bukan pertanyaan."
"Mengapa kau berpikir demikian?"
"Kau bisa menemukannya seiring hari-hari yang kau jalani." jawabku santai.
Aku bisa mendengarnya tergelak ringan. Lalu ia bertanya, "Seperti Lucy?"
"Lucy?"
"Ya, anggap saja begitu." Ia meletakkan gelas plastiknya di sebelah miniatur rusa di atas perapian. "Bayangkan gadis pemerah susu—"
"Mengapa harus pemerah susu?" potongku cepat. Ia tidak memberiku jawaban.
"Lucy melakukan pekerjaan yang sama sepertiku," Ben mulai bercerita. "Memantau."