SEE ME – 1
"Kau yakin akan berangkat ke sana?" Pertanyaan ibunya sontak membuat Soobin tersentak dari kegiatan packing. Dua hari yang lalu Soobin sudah mendiskusikan dengan keempat sahabatnya; Beomgyu, Taehyun, Yeonjun dan Kai bahwa menjelang perpisahan sekolah, mereka akan habiskan waktu bersama. Mungkin, akan berbeda dari biasanya yang hanya sebatas arena game dekat sekolah, maupun water park langganan mereka. Kini, mereka akan ke Ilsan! Bukan hanya Soobin yang bersemangat, Beomgyu bahkan sudah memesan tiket kereta untuk mereka semua.
"Tentu, Eomma."
"Tapi, waktunya ... maksudku, beberapa hari ini cuaca sedang tidak bagus. Mungkin akan ada badai terlebih Ilsan punya jalanan yang tidak sebagus di sini. Butuh banyak persiapan," gumamnya. Wajahnya menampilkan keletihan dan rasa cemas yang kentara. Ibu Soobin menghela napas dan tetap membantu melipat beberapa baju serta jake. "Jangan lupa minum obatmu."
"Eomma."
"Hanya ... aku punya firasat kurang baik."
Soobin mengerang pelan. "Eomma, ayolah! Aku sudah dewasa! Aku bahkan akan kuliah menyusul Hyung! Mengapa jadi serba khawatir." Soobin mengerucutkan bibirnya seraya mendekati tubuh ibunya. Wanita paruh baya itu pun balas tersenyum kecil sesaat Soobin sudah mendekapnya dan bersandar nyaman kepadanya. "Aku sudah besar, lihatlah."
Ibu mengusap rambut putra bungsunya hati-hati, menghirup dalam aroma sampo yang Soobin gunakan kemudian mengusap putranya lembut. "Jaga dirimu, oke? Jangan nakal saat di sana dan selama di perjalanan, oke?" Ia mengecup pucak kepala Soobin pelan.
"Tentu ..."
"Ibu percaya kepadamu."
*
*
Berdiri bersisian, mereka dapat melihat barang bawaan siapa yang terbanyak; Beomgyu dan Yeonjun. Tentu saja, ada pakaian ekstra di waktu musim hujan layaknya sekarang serupa mantel, jas hujan maupun celana panjang anti air. Mereka juga membawa sepatu bot untuk berjaga-jaga. Tetapi kedua sosok itu? Mereka seakan bersiap untuk berlibur ke luar negeri. "Hyung, apakah perlu membawa koper? Toh, ini tidak sampai dua minggu," protes Taehyun.
"Tetap saja! Aku mempersiapkan segalanya! Aku punya stok kaus juga untuk kalian!" Yeonjun menggerutu kecil, sementara itu Beomgyu sudah mengangguk-angguk setuju. "Bagaimana dengan kalian? Aku tidak suka membawa ransel, makannya bawa koper ini! Eomma juga bilang kepadaku untuk membawa ekstra celana dan beberapa potong jaket juga!"
"Benar, Taehyun-ah! Bersiap!"
"Sudah, sudah, aku rasa keretanya akan tiba." Soobin menginterupsi kemudian memimpin jalan mereka mengikuti beberapa penumpang lain yang sudah berbaris menuju gerbong. Soobin mengarahkan keempatnya layaknya induk ayam, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dan terduduk di kursi yang sesuai. Soobin menghela napas dan jusru tiba terakhir.
"Apakah kau membawa bukunya?" selidik Taehyun sesaat Soobin sudah mengusap keringatnya.
"Uh? Tentu saja! Aku tidak bercanda."
"Bagaimana dengan ibumu, Soobin Hyung? Apakah dia tidak curiga?" Kini, giliran Kai yang memandang penuh selidik. "Maksudku, itu kan pasti peninggalan nenekmu dan sangat berharga. Ibumu pasti berhati-hati untuk menjaganya."
"Ah, jangan khawatir. Eomma bukan masalah, dia sangat percaya kepadaku."
Soobin termenung beberapa saat, menyaksikan bagaimana penumpang lain berjalan di lorong kereta sempit, berdesak-desakan menyeret tas-tas besar mereka. Pikiran Soobin mengelana kepada wajah neneknya yang sudah keriput termakan zaman. Mungkin dia pun tidak akan keberatanseandainya dia tahu Soobin "meminjamnya" untuk beberapa saat.

KAMU SEDANG MEMBACA
CAN'T YOU SEE ME? | txt ✔
Fiksi Penggemar[Collaboration Project with Park Cath] Nenek Soobin bilang: persahabatan itu harus abadi. Bermodalkan tekad dan buku mantra beliau, Soobin dan keempat sahabatnya pergi ke Ilsan untuk mendatangi hutan sunyi yang dapat mengambulkan permohonan. Namun...