Dengan lesu, Yana menjatuhkan kepalanya ke meja seolah sedang frustasi. Ia mengarahkan pandangannya ke samping, lalu memfokuskan matanya untuk melihat tulisan-tulisan kecil nan buram di tembok. Tempat duduknya sangat strategis untuk melakukan tindak pencontekan [adegan berbahaya, jangan ditiru]. Tidak di depan yang terekam CCTV luar, tidak di belakang yang terjaga pengawas ruangan, tapi di tengah-tengah bertepat di dekat tembok.
"Libur t'lah tiba! Yana liburan! Hore! Hore!" Pikiran-pikiran itu menguasai Yana yang sedang menyalin rumus perhitungan pajak. Beruntungnya ia mendapat tempat di dekat tembok. Ia tidak perlu kertas untuk mencontek, cukup dengan menuliskannya di tembok lalu menghapusnya jika sudah selesai.
Di sisi lain, Cris dan Oka saling melempar jawaban karena tempat mereka hanya terpaut dua meja depan—belakang. Mereka terlihat tanpa keraguan melakukan aksi curang itu. Meskipun guru pengawas banyak menutup mata terkantuk, setidaknya harus ada perasaan ragu untuk melakukannya.
"Gue nggak bakal kalah sama lo! Tunggu aja, lo bakal syok liat perubahan gue." Oka mengarahkan pandangannya pada Kanya yang duduk tepat di sebelahnya. Jiwanya bergejolak. Ia tidak akan membiarkan gadis itu berada di atasnya lagi. Ia harus membuat jarak yang lebih panjang agar gadis itu tidak bisa menyusulnya.
"Tibalah sang pahlawan beraksi!" Dengan cekatan Cris menyalin jawaban yang diberikan Oka. Tangannya dengan cepat menghitamkan satu persatu pilihan di antara lima pilihan yang ada. Tapi ada sedikit keanehan. Bukankah terlalu minim kemungkinannya jika dalam sepuluh nomor berturut-turut adalah jawaban yang sama?
Berbeda dengan tiga orang itu, Alma terlihat santai menghitamkan jawabannya. Ia tidak butuh contekan untuk mengerjakan pertanyaan-pertanyaan itu. Tangannya seperti bergerak sendiri menuliskan rumus-rumus, lalu memasukkan angka-angka, dan akhirnya selesai begitu saja tanpa memerlukan alat hitung. Tapi tetap saja banyak pertanyaan yang membuatnya kesulitan. Namun ia tak pernah menganggap itu hal berat. Ia selalu menggunakan cara tersendiri yaitu melalui pendekatan. Entahlah, itu hanya sebutan yang diberikan Alma sendiri untuk metode pilihan acak itu.
Alma menghitung berapa suku dari pertanyaan yang dirasanya sulit. Ia akan mengambil angka pertamanya, lalu membaginya ke dalam kategori yang memungkinkan. Jika ia bingung dengan dua pilihan, maka ia akan membaginya dengan dua, lalu mengambil angka pertama hasil perhitungan itu. Dengan begitu, jawabannya sudah ditentukan. Itulah sebutan metode pendekatan dari Alma yang terlihat seperti rumus saja.
Saat semua orang sibuk menghadap lembar soal masing-masing, tiba-tiba terdengar pemberitahuan dari sumber suara kelas.
"Perhatian, untuk kelas 10 dan 11 bidang MIPA maupun IIS, waktu mengerjakan tinggal lima menit. Diharapkan semua siswa meneliti kembali lembar jawaban masing-masing. Identitas diri harus diisi dan tidak boleh ada nomor yang dikosongkan.
Sekali lagi, waktu mengerjakan tinggal lima menit."Mendengar pemberitahuan itu, suasana menjadi ribut dan beberapa orang sibuk meminta jawaban kesana-kemari. Pengawas ruangan yang tadinya terkantuk-kantuk menjadi sigap menyuruh siswanya untuk diam di tempat.
"Waktu mengerjakan telah selesai. Lembar soal dan lembar jawaban di taruh di meja dan siswa dipersilakan keluar dari kelas.
Sekali lagi, waktu mengerjakan telah selesai. Sampai jumpa besok di hari kedua."Tidak ada waktu lagi untuk mencontek. Semua siswa menghitamkan seadanya pilihan jawaban mereka karena pengosongan nomor soal akan menjadi pengurangan nilai.
Keyra keluar paling akhir. Oka berdiri di depan pintu bersiap menyambut gadis itu. "Gimana ekonominya?" sombongnya, "Siap ngebayarin kita liburan?"
Keyra lantas memukul ringan perut Oka. "PD amat, Bang!" candanya, "Kayanya nggak ada satupun deh." Ia pergi begitu saja meninggalkan mereka dengan senyuman ringan.
Tentu saja Keyra tahu. Sebelum keluar kelas, ia memohon pada pengawas ruangan untuk memperlihatkan lembar jawaban teman-temannya termasuk milik Kanya (tentunya setelah memohon dengan sangat). Ia melihat jawaban mereka sangat berbeda dengan miliknya, terutama Cris yang kelewat fatal dan Yana yang entah cocok dengan sebutan apa.
Di hari kedua pun masih sama. Yana dengan contekan baru di tembok, Oka dan Cris saling lempar jawaban, Alma menggunakan metode pendekatannya, serta Kanya dan Keyra yang mengedepankan sifat jujur dan berpikir kritis.
Hari ketiga, hari keempat, dan hari kelima masih tetap sama. Mereka melancarkan aksi mencontek mereka dengan sangat baik. Bahkan di hari kelima tersebut seisi ruangan seperti tengah saling tawar-menawar. Pengawas ruangannya sudah berumur dan sering keluar, situasi yang cocok untuk jadwal matematika.
Tapi tidak di hari keenam sekaligus hari terakhir ujian. Pengawas ruangan ruang 11 adalah Pak Ahmad dengan mengawasi dua pelajaran sekaligus. Bahkan Oka dan Cris hanya sempat menukar jawaban beberapa saja sementara Yana sama sekali tidak bisa melirik ke tembok.
---salam author---
Di chapter kali ini lagi pengen fokus sama ujian saja. Jadinya keliatan pendek,
Jangan lupa like n komen, ya
Masih diingatkan dengan typo
Terima kasihSorry telat update! Ini pun penuh typo karena keburu nulisnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm a Main Antagonis
Novela Juvenil"Aku adalah anak yang TERBUANG. Terbuang karena hadirnya anak dari hubungan TERLARANG." Aku tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Hanya memiliki seorang ayah yang memiliki selingkuhan dan anak dari hubungan terlarang. Tak cukup ayah dan segala keka...