Chapter 5

9 3 0
                                    

   Rekomendasi  lagu  pertama
Blackpink_How you like that






  "Hei, kau mau membawaku kabur kemana?"tanya Irfan yang sedang berlari bersama Felica sedari tadi.

" kita akan ke rumahku. Rumahku dekat dari sini" sahut Felica.

"Apa?! Kau ingin mengajak atau menculikku?!"

" Sudah ikut saja. Kau tidak ingin tertangkap polisi itu kan?"ujar Felica. Mendengar ucapan Felica tadi Irfan hanya bisa pasrah dengan keadaan.

      Tak lama berlari akhirnya mereka sampai di sebuah rumah. Kalau dilihat dengan saksama itu bisa disebut sebuah gubuk, bukan rumah. Semuanya terbuat dari kayu. Bahkan atapnya pun terbuat dari susunan daun kelapa yang sudah kering. Di halaman depan yang tidak terlalu luas itu ditumbuhi rumput yang sudah panjang. Memberi kesan seakan-akan tidak pernah dibersihkan selama beberapa tahun. Tapi yang menjadi daya tarik dari rumah ini ialah pagar besi dan tembok tinggi yang mengelilinginya.

Bekerja selama ini menjadi pembunuh bayaran Ia hanya mampu membuat tembok tinggi dan pagar besi saja?
batin Irfan saat memasuki pekarangan rumah Felica.

"Kenapa?" tanya Felica kepada Irfan.

" tidak apa-apa"

"Oke ayo kita masuk" seraya membukakan pintu.

         Setelah mereka masuk Felica menutup pintu kembali. Gelap, karna lampu ruangan  belum  di  nyatakan. Ketika lampu ruangan dinyalakan,

" aku tarik kata-kataku yang sebelumnya kembali"ujar Irfan yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar sebuah kejutan besar. Siapa sangka kalau sebuah rumah yang terlihat seperti Gubuk Tua dari luarnya, ternyata di dalamnya bagaikan istana yang mewah.

" Baik, pelajaran pertama untukmu. Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari luarnya saja" ujar Felica.

" Baiklah aku akan mengingatnya. Oh ya, apa kau tinggal sendiri di sini?"

" Tidak, aku tinggal bersama sepupu dan adikku. Oh iya, silahkan duduk" ujar Felica.

                          ~~~///~~~

           " huh...... segarnya"ujar Cendi menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Saat akan menuju dapur terdengar suara bincang-bincang dari arah ruang tamu. Setelah dilihat ternyata itu Felica dan seorang pria? Seketika sebuah ide terbesit di pikiran nya untuk mengerjai Felica.

" wah wah wah........ parah lo ca. Anak siapa lagi nih yang lo culik? Udah cukup lo buat gue pusing ama kerjaan lo yang suka keluyuran nggak jelas. Dan sekarang lo tukar profesi jadi tukang nyulik anak orang? Hahaha....." ledek Cendi.

" gue sih owh aja ya Ce Cendi" ujar Felica dengan wajah datar. Kemudian dia melihat ke arah Irfan  dan berkata "Oke di sini lo nggak perlu terlalu formal, santai aja. Dan perkenalkan dia sepupuku" ujarnya seraya tersenyum ramah. Cendi dan Irfan pun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama mereka masing-masing. Felica pun mulai mengantuk. Dia meminta Irfan untuk tidur di kamar yang ada di sebelah kamar Cendi.

                           ~~~///~~~

Irfan Pov.
          Setelah Cendi mengantarku,dia langsung pergi ke kamarnya. Aku pun menutup pintu dan menguncinya. Kamar ini lumayan bagus dan juga ada kamar mandinya. Sempurna. Seketika seluruh tubuh ku merasa sangat lelah. Apa karena aku berlari tadi? Aku  langsung menghempaskan tubuhku di kasur. Benar-benar kenikmatan yang sering ku abaikan.

         Tentang Azura, kenapa aku memanggilnya begitu, Felica Azura Theodore, nama yang cukup bagus. Saat pertama kali aku lihatnya tadi, aku memiliki kesan tersendiri kepadanya. Baunya sama sepertiku, bau Bubble Gum. Apa maksud Pak Tua Luthfi mempertemukan kami berdua? Heeh.... sudah lah. Pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya nanti. Sekarang Itu semua tidak penting. Yang terpenting sekarang aku harus tidur.

                          ~~~///~~~

Keesokan paginya

Cendi Pov.
         Sungguh pagi yang cerah. Tidak salah aku memilih untuk berjalan kaki ke sekolah, sekalian olahraga. Semua pepohonan yang tumbuh di tepi jalan ini masih hijau, berbeda dengan pohon yang ada di belakang rumah Felica. Ngomong-ngomong tentang Felica, ke mana itu? jam delapan nanti kan ujian akan dimulai. Tapi biarkan saja , dia sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan benar.

          Aku terus berjalan dan mengedarkan pandanganku di sepanjang jalan, sampai mataku ini menangkap sosok yang tidak asing lagi bagiku.Yusup dan Fadlah. Mereka terlihat mesra sekali. Tapi kapan mereka jadian?

"Selamat pagi kalian berdua. Kalian enggak sekolah?" tanya ku

" Sekolah kan libur, nggak tahu ya?" Yusup balik bertanya kepadaku. Aku hanya menggeleng kan kepala.

" Sekitar pukul 06.55 tadi sekolah kita kebakaran. Tidak ada korban dari peristiwa itu. Tadi Felica dan Lucia juga ada di sana loh" ucap Fadlah. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada mereka kemudian  pergi. Kebakaran sekolah? Bagaimana bisa? Tunggu, sekarang aku tahu siapa pelakunya.

                          ~~~///~~~

"Hahaha..... Rasanya senang bisa membakar sekolah itu. Jadi nggak perlu lagi ujian kan?"ujan Felica dengan riangnya.

" Kali ini gue kerja sama ama lo deh Pelica. Ujian dibatalkan......bagus banget tuh" ujar Lucia Seraya menyantap makanannya.

         Tapi semua itu berakhir ketika seseorang datang dan berkata " Di sini rupanya kalian"


Tbc.




FELIFANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang