17. New Baby

2.7K 266 29
                                    

Zul sangat antusias saat kukabari perihal wawancara yang akan Hamish lakukan. Dia datang pagi sekali dengan membawa pakaian yang harus dikenakan. Dengan cerewet mendadaniku dan juga meminta Hamish ini dan itu agar tampil maksimal pada saatnya nanti.

“Kalian akan diliput oleh majalah bisnis besar dan rekamannya akan diunggah di youtube. Ini kesempatan besar untuk melejitkan popularitas kalian sebagai pasangan of the year. Biarkan publik tahu kalau hidup Flory Amarilis sudah jauh lebih baik dan skandal dengan William Zanuba hanyalah sebuah gosip,” bawel Zul seolah menjelma menjadi manajerku kembali. Aku tahu dibalik kelakuannya itu karena ia punya misi menjadikanku sebagai model busana muslimnya.

“Kamu terlalu berlebihan, Zul. Aku tak ingin berurusan terlalu banyak dengan media. Aku tak tertarik lagi dengan dunia hiburan.”

Zul memicingkan mata. Kembali dia membenarkan jilbabku agar terlihat lebih sempurna. Hamish sedari tadi hanya duduk dengan senyum tipis menyaksikan kekonyolan Zul.

“Lalu kenapa kalian mengambil wawancara ini? Walaupun tujuan utamanya adalah Hamish, tetapi kehadiranmu akan membuat beritanya lebih menarik, Flo!”

Aku memutar dagu ke arah Hamish. Dialah yang menginginkanku mendampingi wawancaranya kali ini.

“Aku hanya ingin menepis kabar kedekatan Flo dengan aktor terkenal itu. Biar semua orang tahu kalau kami sudah menikah bahkan sedang menunggu kelahiran seorang anak,” sahut Hamish menjawab keheranan Zul.

“Ini ide yang menarik. Aku suka itu!” pekik Zul sambil mengangkat jempolnya.

Wawancara itu dilakukan di rumah kami. Mereka datang lengkap dengan kameramen dan fotografer. Merasa mendapat kejutan dengan kehadiranku, tema wawancara menjadi lebih luas. Tidak hanya sepak terjang perjalanan Hamish dalam dunia bisnis, tetapi juga banyak mengupas cerita pernikahan kami.

Beberapa kali aku dan Hamish diminta berpose di depan kamera. Hamish terlihat kaku. Dia tidak terbiasa. Beberapa kali aku mengarahkan Hamish agar terlihat bagus di depan kamera. Aku seolah mendapat ruang untuk melakukan hal yang dulu akrab dengan pekerjaan di dunia hiburan.

Tidak semua kami ceritakan. Cukuplah mereka tahu secara garis besar kalau kami pernah satu sekolah dan bertemu beberapa tahun kemudian karena aku menjadi model iklan produk minuman milik perusahaan Hamish. Itulah yang kuceritakan.

“Apa kamu ingin kembali bermain film, Flo?” tanya laki-laki yang mewawancarai kami.

“Sepertinya tidak. Aku cukup menikmati kehidupan yang sekarang. Menikah dengan lelaki yang kucintai sekaligus membawaku untuk lebih taat kepada Sang Pencipta, sudah cukup bagiku.”

Hamish tersenyum mendengar jawabanku. Aku telah mengumumkan siapa lelaki yang kucintai. Dia terlihat lebih rileks dan tidak tegang seperti pada awal wawancara.

Satu jam lebih wawancara itu berlangsung. Setelah merasa cukup, mereka menikmati sebentar jamuan makanan yang disuguhkan lalu pamit dengan janji akan mengabari jika beritanya selesai dicetak.

Tepuk tangan Zul terdengar memenuhi ruangan setelah tim majalah itu pergi. Dia tersenyum puas melihat kami.

“Aku yakin kabar pernikahan kalian akan segera tersebar besok. Sebagai mantan manajer Flory, aku akan sibuk menjawab pertanyaan teman-teman wartawan.”

“Aku serahkan semuanya padamu. Aku tak ingin melakukan wawancara dengan siapa pun. Cukup mereka tahu tentang kabar pernikahan kami.”

“Oke. Akan kulakukan tugasku dengan baik,” kata Zul sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami.

“Apa tadi aku terlihat baik?” tanya Hamish setelah kami kembali duduk dengan perasaan lelah.

“Lumayan … Mas pasti akan dapat banyak fans setelah berita dan foto-foto itu.” Aku bersandar di bahunya. Terbayang akun Instagram Hamish tiba-tiba banyak mendapat follower baru dari kalangan perempuan.

Untuk Sebuah Nama (Lengkap)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang