Shera mengajaknya ke menaiki kincir angin. Genta geleng-geleng kepala melihatnya. Ia senang sekaligus heran dengan sikap kanak-kanak Shera. "Ayo, Ta. Kita naik itu, ya." Shera menariknya dan mengajaknya mengantre karcis. Gila, ini kencan pertama yang sangat tidak mencerminkan Genta dan Shera. Genta bisa membawa Shera ke Maldives saat ini juga jika wanita ini mau, tapi ide gilanya menuntunnya untuk mengajak Shera kemari.
Genta meringis ketika tubuhnya yang tinggi sedikit memaksa untuk masuk ke kincir ini. "Sempit, Ra. Kamu aja yang naik, ya, saya keluar lagi." Tapi Shera menahan lengannya. "Katanya ini date, kok kamu malah kabur." Shera menunjukkan ekspresi tidak suka yang membuat Genta mengalah.
"Lain kali ingetin saya jangan bawa kamu ke pasar malem lagi, ya." Genta sedikit menyesal menunjukkan kencan 'sederhana' ini pada Shera. Ia kira Shera akan bersikap kalem dan bisa diajak jalan berdua dengannya seraya memakan permen kapas. Tapi, Shera malah bertungkah konyol layaknya anak kecil yang baru dibawa ke pasar malam.
"Malah untung kamu ajak saya ke sini, asal kamu tau ya, Ta, saya belum pernah diajak ke pasar malam sama orang tua saya, kata mereka, takut saya ilang." Wow, ini sesuatu yang baru bagi Genta."Makanya saya seneng sekarang, tapi saya juga kesel banget karena kamu nggak bilang ke saya dulu mau ngajak ke sini, kalau tau, saya 'kan nggak akan pake baju begini."
Genta melihat Shera terus mengoceh. Rambut wanita itu diterpa angin seolah melambai-lambai mengundangnya untuk merapikan rambut itu.
"Genta--"
Genta tidak kuat menahan rasa ingin mencium wanita itu. Ia tidak peduli sekalipun ada orang yang memergoki mereka sekarang, yang penting ia bisa mencium Shera. Ia mencintai, ralat, sangat mencintai Shera. Ia ingin menebus kesalahannya dan kembali membuat Shera menjadi istrinya. Harus. Shera harus menjadi istrinya lagi.
"Be my wife again, Ra." Genta membelai wajah Shera dengan lembut. Ini gila, seharusnya ia tidak mengatakan hal seperti ini di dalam kincir angin sempit yang mereka naiki ini.
Baru saja Shera akan menjawab, pintu kincir angim itu dibuka, mereka tersenyum canggung dan keluar dari sana. Genta meringis ketika punggungnya sakit karena terus ditekuk tadi.
"Ta, hujan." Mereka langsung berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Rambut dan baju Shera sudah terlanjur basah.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Huh?"
"Baju kamu basah." Shera menggeleng. "Nggak pa-pa."
"Lepas aja." What? "Eh maksudnya, kalau mau ganti--"
Shera tersenyum kecil melihat Genta yang salah tingkah. "Saya ada baju ganti di belakang."
"...eh--saya nggak akan liat, kok." Fuck! Genta menggaruk ujung hidungnya gugup.
"Nggak apa-apa. Sekarang kita pulang?" Genta mengangguk, ia mulai menjalankan mobilnya.
***
"Bonekanya mau kamu kasih ke Avi?" tanya Genta saat mereka sudah berada di depan rumah.
Shera menggeleng. "Kan kamu ngasih ini ke saya, berarti ini pumya saya, dong." Genta tergelak. Ia tidak tahu Shera bisa menjadi manja seperti ini.
"Iya-iya." Shera tersenyum. "Makasih, Ta."
Genta tidak mau melewatkan momen ini, ia langsung mengecup bibir kecil Shera yang sudah menggodanya sejak tadi. "Sama-sama, Sayang."
Shera langsung menjaga jarak dari Genta. "Apaan sih, geli tau!"
Genta tertawa lagi. Ia mencium Shera lagi, kali ini lebih liar dari sebelumnya. Astaga, Tuhan tau seberapa besar Genta menginginkan Shera untuk menjadi istrinya. Ia ingin wanita itu dan menjaganya setiap hari.

KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour L'emporte [Complete]
Художественная проза"I don't see any reason why we have to be together, still." "But, i still want you. That's the only reason." *** Sheravina Anjani Sanjaya tidak percaya lagi pada suaminya--Gentahardja Revan Subroto setelah semua hal yang telah dilakukan oleh pria it...