Setelah minum kopi buatan Mbak Linda, aku dan Ipung melakukan perjalanan menuju Gunung Pati. Pagi ini, aku dan Ipung akan ke rumah kos Windi lagi karena sudah beberapa kali tidak pernah ketemu. Lewat WA, Nadia bersedia menemani kami. Putri Pak Agus itu menawarkan diri bahkan dia menyuruhku menghampirinya di rumahnya. Semenjak aku dan Ipung berhasil mengobati penyakit ibunya beberapa waktu yang lalu, kedua putri Pak Agus semakin akrab dengan aku dan Ipung. Lebih-lebih Nadia. Dia sering WA aku. Dia juga sering curhat tentang dirinya dan teman-temannya. Gadis cantik itu tidak sungkan bertanya macam-macam. Malahan dia berniat ingin mempelajari ilmu hikmah dariku.
"Sudah siap?" kataku kepada Nadia yang sudah menunggu kedatangannku dan Ipung di teras rumah.
"Sebentar lagi Mas, nunggu Nia!"
"Nia mau ikut?" tanya Ipung.
"Iya, Mas!"
Mengetahui kalau Nia mau ikut Ipung tampak sumringah. Matanya menatapku dengan senyum kegembiraan. Sesekali alisnya ditarik-tarik ke atas berbarengan matanya sesekali melirikku. Dua jempol tangannya diacungkan persis di mukaku.
"Yes...!! katanya dengan mengepalkan tangan kanannya dan ditarik ke belakang.
"Windi di rumah, Na!" kataku kepada Nadia untuk mengalihkan perhatian tingkah laku Ipung yang gilani.
"Di rumah Mas, barusan aku WA nan sama Mbak Windi!"
"Syukurlah kalau begitu," kataku.
Kuperhatikan Nadia sangat berbeda pagi ini. Selain tampil cantik dan menarik, tingkahnya pun lain dari saban hari bertemu denganku. Tatapan mata Nadia kepadaku sangat berbeda dari sebelumnya. Setiap matanya menatapku pasti, senyum. Lagi pula pandangan matanya terasa mendalam. Wajahnya tampak kaku tidak seperti biasanya. Aku jadi salah tingkah atas tatapan matanya.
"Kamu sakit?" tanyaku.
Nadia hanya geleng kepala. Aku tiba-tiba khawatir sama keadaannya. Karena Nadia pernah bercerita kalau dia sering sakit. Badannya kerap pegal. Badannya kadang terasa berat. Namun rasa kekawatiranku kepada dia seperti adik kakak. Aku merasa ada ikatan batin padanya. Mungkin karena aku tidak punya adik perempuan.
"Kalau kamu sakit kamu di rumah saja istirahat. Biar aku dan Ipung ke rumah kos Windi."
"Ndak kok, Mas! Aku baik-baik aja!"
Dengan repleks aku mendekati Nadia. Aku meletakkan punggung tangan kiriku ke keningnya, mengecek kesehatannya.
"Aduh!" teriakku ketika Ipung mencubit tangan kiriku.
"E...main pegang-pegang saja!"
"Apa-apaan sih Pung!"
"Bukan mahrom tau..!"
"O...maaf ya, Nadia! Aku tidak sengaja, aku khilaf!" kataku.
Aku lupa kalau dia Nadia. Bukan Tania adik sepupuku.
"A, dasar thok mis khilaf,khilaf! Pukul aja Mbak, tadi itu disengaja!"
"Ndak papa kok, Mas!"
Nadia hanya senyum-senyum. Nadia tidak marah. Dilihat dari raut mukanya dia tampak senang. Malahan seperti tersipu ketika pandangan mata kami tak sengaja bertemu.
"Pukul saja, Mbak!" Ipung mengompori.
"Ndak papa kok , Mas...!" Nadia mengulangi kata-katanya tadi.
"Ndak papa-ndak papa, itu namanya cari kesempatan dalam kesempitan, Mbak!"
"Alah..kompor gas!" kataku sambil mendekatkan mulutku ke wajah Ipung!"

KAMU SEDANG MEMBACA
GADIS MALAM SATU SURO
Mistero / ThrillerHantu mukanya hancur sebelah yang selalu mendatangi Arkiyan hampir tiap malam itu nama dan perawakannya persis dengan nama seorang gadis mabuk yang pernah diantar Arkiyan pulang. Windi, nama gadis itu. Gadis cantik berperawakan montok ditemui Arkiy...