Jungkook masih termenung, memikirkan apa yang perlu dia lakukan pertama. Dia harus menyelesaikan semua masalahnya apapun risikonya. Termasuk dengan jujur soal kecelakaan yang membuat Syifa harus kehilangan ingatannya.
Jungkook semakin gelisah jika sampai Syifa ingat semuanya. Dia sungguh bingung dengan perasaannya sendiri. Satu hal yang pasti, tak mungkin jika dia menyukai 2 orang sekaligus.
"Argh!" Jungkook meraung sambil mengacak rambutnya saat pikirannya justru buntu saat dia butuhkan. Dia hanya perlu satu ide cemerlang untuk menyelesaikan semua masalahnya sekarang.
Meraih ponselnya dan mulai memainkan game di ponselnya memang hal yang selalu bisa membuat pikiran Jungkook jernih--meskipun dia tak tahu itu akan berpengaruh sekarang.
Syifa memandang langit malam dari jendela hotelnya. Pikirannya terus saja melayang soal siapa dirinya yang sebenarnya, dari mana asalnya, dan kenapa dia bisa terjebak dalam lingkup idol.
Syifa menghela napasnya lalu memutuskan untuk berdo'a. Menurutnya, apapun masalah yang dia hadapi sekarang, ataupun kebingungan apapun yang melanda hatinya, tetaplah Tuhan tempatnya bersandar dan mengeluhkan segalanya.
Syifa hanya berharap, jawaban dari pertanyaannya selama ini akan secepatnya terjawab. Dia sudah lelah bertanya-tanya dan menerka soal dirinya sendiri. Dia pikir Jungkook hanya berusaha menyembunyikan, bukan membantunya mengingat semuanya.
Ting Tong!
Suara bel itu membuat pembicaraan pribadinya dengan Tuhan harus terhenti. Dia lalu beranjak dan berniat membuka pintu. Namun bayangan soal orang-orang yang sebelumnya menyerang kamar hotelnya membuat Syifa mengurungkan niatnya untuk membukakan pintu.
"Ini aku."
Syifa mengerutkan dahinya saat yang dia dengar bukanlah suara Jungkook. Suaranya lebih berat dibanding suara Jungkook.
"Taehyung. Kim Taehyung," sambung pria itu yang membuat Syifa mulai ragu untuk membuka pintunya atau tidak. Tapi yang dia tahu, Taehyung adalah teman satu grupnya Jungkook.
"Ada ap—"
Taehyung langsung saja masuk, membuat Syifa hanya membatu di pintu sebelum akhirnya dia ikut masuk.
Tatapan Taehyung sungguh membuat Syifa sedikit ketakutan. Pasalnya, pria itu hanya memasang wajah dinginnya sambil melepas semua penyamarannya.
Syifa semakin bingung saat Taehyung meletakan setumpuk uang di atas meja. "Jauhi Jungkook."
Syifa hanya terdiam, tak mengerti dengan apa yang Taehyung katakan.
"Kau ingin uang, bukan? aku rasa itu sudah cukup. Berhenti mendekati Jungkook dan menghancurkan hubungannya." Taehyung mulai tersulut emosi, dia menunjuk tepat di wajah Syifa, membuat Syifa hanya membatu. Pasalnya dia sungguh tak mengerti apapun yang Taehyung katakan.
Dengan kesal Taehyung mengeluarkan ponselnya, mulai mengotak-ngatiknya dan memperlihatkannya pada Syifa. "Aku ingin kau jauhi Jungkook. Dia sudah bahagia."
"Tapi Aera—"
"Aku tak peduli. Sekarang tinggalkan hotel ini," jelas Taehyung yang kemudian membuka lemari yang ada di sana dengan wajah dinginnya.
Suara bel membuat tatapan Taehyung beralih. Dia berdecih karena dia yakin Jungkooklah yang datang.
Aera harus gimana?
Taehyung berdecih setelah membuka pintu dan mendapati Jungkook ada di sana. "Sudah ku duga."
"Apa yang kau lakukan, hyung?" tanya Jungkook yang kemudian membuat Taehyung menariknya masuk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Hearts✔️
Fanfiction"Aku sadar, perasaanku hanya sebatas goresan pena di atas kertas yang telah usang."