Chapter || 31.

4.2K 205 1
                                    

Shera terbangun dari tidurnya ketika merasakan perutnya seperti dililit dengan keras. Kram sekali. Ia meringis, tidak tau apa yang salah dengan perutnya ini. Ia hampir menangis merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.

Shera menggapai-gapai ponselnya di nakas. Hanya Genta yang ada di pikirannya ketika ia membutuhkan pertolongan.

"Shit."

Ponselnya malah terjatuh dari nakas dan mengharuskan Shera untuk bangkit dari kasurnya. Sepertinya hari sudah pagi karena Shera melihat sinar matahari menembus gordennya malu-malu. Shera bangkit dari kasurnya, terseok karena sakit yang amat sangat.

"Pick up, Genta. Please..."

Shera menangis ketika sudah panggilan ketiga kalinya, Genta tidak menjawab.

Menyerah dengan Genta, Shera memutuskan panggilannya. Rasa sakitnya semakin menjadi, dan tangisannya benar-benar pecah ketika melihat darah mengalir dari sela kakinya. Tidak ada pilihan lain, ia harus menelepon rumah sakit.

***

Shera membuka matanya. Tunggu. Ini bukan rumah sakit, apartemen Genta, ataupun rumahnya. Dimana ia?

Ia melihat baju yang dipakainya. Dress baby blue dengan pita di pinggangnya. Apa ini? Kenapa ia berada di sini? Ia melihat ke sekelilingnya. Taman bunga dengan hamparan bunga daisy memanjakan matanya. Sebenarnya dimana dia?

"Mama..."

Shera berbalik. Ia memandang anak perempuan cantik yang balas memandangnya. Dia jelas bukan Avi.

"Ma..."

Shera mengerutkan dahinya. "Siapa?"

Anak itu hanya tersenyum dn berlari menjauhi Shera. Shera tidak ada niatan untuk mengejarnya. Ia hanya terpaku di tempatnya.

"Bu.."

"Ibu Shera, Anda bisa mendengar saya?"

Shera tersentak. Mimpi apa itu tadi? Ia membuka matanya. Melihat suster di sampingnya. Kini, ia yakin ia telah bermimpi karena sebenarnya dia berada di rumah sakit. "Bu Shera?"

Shera menoleh, walaupun kepalanya pusing. "Gimana keadaan saya?" Ia masih ingat kejadian dimana ia melihat darah mengalir dan rasa kram di perutnya.

"Ibu lebih baik merehatkan pikiran Ibu. Jangan terlalu banyak pikiran karena Ibu baru sadar. Ada anggota keluarga yang ingin Ibu Shera hubungi?"

Genta adalah orang pertama yang melintas di pikirannya. Tapi, ia kembali ingat Genta berada jauh darinya.

"Orangtua saya, Ara Diana."

Suster itu mengangguk. "Ibu ingin minum?"

Shera menggeleng.

"Bayi saya?"

Suster itu terdiam. "Ibu, lebih baik Ibu beristiraht dulu."

Shera tau. Tidak perlu mendengarkan penjelasan lebih lanjut pun, Shera tau jawabannya.

***

"Ra, makan yuk."

Shera menggeleng. "Genta di mana?"

"Ra...."

Shera kembali menggeleng. "Genta, Ma. Dimana dia?"

"Dia mau ke sini. Dua jam yang lalu dia bilang udah mau ke bandara. Dia panik setengah mati." Ara mengelus rambut Shera. Wajah pucat anaknya membuat ia merasa sakit.

"Ra, kamu...gimana?" Ara tau Shera terlalu banyak 'sakit' di hidupnya. Ia tidak tega.

"Genta, Ma... dia bakal ke sini kan?"

Dan Shera mengunci mulutnya ketika ditanyai bagaimana keadaannya.

Hancur.

***

Genta berlari di lorong rumah sakit itu. Tidak sulit menemukan ruangan Shera. Jantungnya bertalu-talu ketika membuka kamar rawat mantan istrinya itu.
"Ra?"

Genta melihat Shera terlelap dengan tangan digenggam oleh Mama Ara. "Genta, dia baru tidur."

Genta merasakan matanya memanas melihat wanitanya. Rara-nya. Mama Ara menghampirinya. "Mama keluar dulu ya, mau pulang dulu. Nanti kalau Shera nanyain, bilangin Mama pulang, nanti kesini sama Bapak." Mama Ara tersenyum lembut. Genta mengangguk, ia memeluk wanita paruh baya di hadapannya dan berusaha menahan air matanya.

"Jagain Shera, ya."

Genta mengangguk. Ia tidak berani mengeluarkan suara karena setengah mati menahan air matanya. Ia tidak tega ia juga  dan merasa bersalah pada Shera.

"Rara, saya sayang kamu," ucap Genta ketika ia berada di samping wanita itu. Ia takut Shera akan membencinya lagi karena ia tidak ada di samping wanita itu ketika Shera membutuhkannya.

"Saya salah, Ra. Harusnya saya jagain kamu. Ternyata firasat saya yang bener. Saya minta maaf, Rara. Maaf saya nggak bisa jaga kamu." Genta mengecup tangan wanita itu. Ia hanya berharap Shera tidak ngamuk padanya.

"Genta..."

Genta terhenyak ketika wanita itu membuka matanya. Ia bangkit dan membantu Shera untuk membenarkan posisinya untuk duduk. "Apa yang kerasa, Ra? Kamu mau saya panggilin dokter?"

Shera diam. Matanya berkaca-kaca memandang Genta. "Ta..." Air mata Shera luruh dan membuat Genta langsung merengkuhnya.

"Nggak pa-pa, Ra. Bukan salah kamu. Ini jalan Tuhan, jangan nyalahin diri kamu sendiri, ya." Genta tau Shera kehilangan calon anak mereka. Genta tau, karena sebelum ia kemari, ia sempat ditelfon Mama Ara yang sembunyi-sembunyi memberitahu janin yang dikandung Shera sudah tidak ada.

"Dede Bayi-nya..."

"Sutt...saya tau. Kamu kuat, Rara. Rara-nya Genta harus kuat. Saya di sini sekarang, Ra. Saya di sini."
Genta mengecup puncak kepala Shera.

"Maaf, ya, Ta..."

Tentu Shera merasa bersalah. Ia tidak becus menjaga kandungannya dan akhirnya mereka harus kehilangannya.

"Bukan salah kamu, Sayang."

Shera melepaskan pelukannya. "Ta."

Genta memandang lembut Shera. Tangannya terulur untuk membenarkan rambut Shera yang menutupi dahinya. "Iya, kenapa?"

"Kamu nggak marah?"

Genta mengerutkan dahinya heran.

"Anak kamu nggak ada karena saya. Kamu nggak akan ninggalin saya seperti waktu Radja dulu, kan?" Benar. Ternyata ini ketakutan Shera yang sebenarnya. Ia pernah kehilangan anaknya dan saat itu Genta memarahinya habis-habisan. Tentu Shera trauma jika itu terjadi lagi.

Genta diam. Shera semakin takut dibuatnya.

"Ta? Saya...salah lagi, ya? Saya nggak becus lagi jagain anak kamu?"

Memori kelam itu kembali lagi. Shera sedikit merinding mengingatnya. "Sheravina, saya bukan Genta yang seperti itu lagi. Kamu lupa janji saya?"

"Saya bisa menjamin dengan hidup saya sendiri kalau saya sudh berubah. Saya bukan Gentahardja Subroto pengecut yang hanya bisa menyiksa kamu. Kamu boleh cekik saya sendiri jika saya ingkar."

Shera ragu. Tentu saja. Ia takut setengah mati. Takut jika Genta kembali menyiksanya. Tapi, uluran tangan Genta yang melingkar di pundaknya, dan merengkuhnya lagi, membuatnya merasa lebih baik.

"Saya sayang kamu, Sheravina. Ra, Shera-nya Gentahardja, Rara-nya saya, saya nggak akan seperti dulu lagi. Kamu nggak perlu takut."

Perlahan, Shera membalas pelukannya. "Saya nelepon kamu waktu itu. Saya butuh kamu, Ta..." Sial. Dan kini rasa bersalah kembali dirasakan Genta. Ia bodoh karena mensenyapkan ponselnya ketika itu.

"Maaf, Ra, maafin saya. Saya ada rapat dadakan. Saya nggak tau kamu butuh saya. Maafin saya." Gena mengecup kepala Shera berkali-kali.

Shera tersenyum kecil. Hanya itu. Ia butuh waktu untuk sembuh kembali.

***

L'amour L'emporte [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang