Abaikan typo.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
."Hah? Mas Bos bilang apa?" tanya Citra yang masih tidak mempercayai pendengarannya.
"Kamu harus berani telanjang di depan orang! Kan mau menjadi seorang model."
Citra mengerucutkan bibirnya. Ia tidak pernah berminat menjadi seorang model. Tujuannya hanya ingin membalas dendam pada Kevin.
"Tapi biasanya kan ada ruangan untuk ganti?" bantah Citra sok tahu. Keluguan Citra membuat Janu tertawa geli. Ia memaklumi ketidak tahuan Citra.
"Belakang panggung catwalk adalah medan pertempuran. Para model dan kru harus bergerak cepat karena mengejar waktu tampil. Jadi mana sempat berganti baju di ruang ganti. Memangnya kamu nyobain baju di butik yang ada ruang gantinya?" Janu mencoba menjelaskan situasi dan kondisi dunia yang akan dimasuki oleh Citra. Tentu saja, jika runaway itu dibuat di jalan raya, ia juga harus siap berganti busana di trotoar atau backstage ala kadarnya.
Mata Citra membulat. Terbayang di benaknya betapa malunya dirinya harus bertelanjang di depan banyak orang.
"Tenang! Saat itu semua orang sedang sibuk dan fokus untuk tampil. Jadi mereka tidak akan peduli melihat tubuhmu," ucap Janu sambil mengulurkan sebuah gaun yang memang sengaja ia desain khusus untuk Citra. Namun itu hanya alasan Janu. Yang jelas jika Citra telanjang di hadapannya, itu berarti goda'an.
Janu berusaha mengalihkan pandangannya dari bukit kembar dan bagian bawah tubuh wanita itu. Sudah banyak model seksi yang telanjang di depannya, tapi mengapa harus Citra yang menjadi ujian mental terberatnya?
"Ayo buruan dicoba!" Janu mengulangi perintahnya. Jika Citra tidak segera memakai pakaian, alamat si Jujun tidak akan berkompromi untuk malam ini.
Akhirnya Citra mengikuti apa yang diminta oleh Janu. Ia melepaskan pakaiannya di depan pria itu dan menerima gaun yang di ulurkan oleh bosnya.
Setiap gerakan yang dilakukan oleh Citra tidak luput dari pengawasan mas bosnya. Sesekali Janu membantu merapikan gaun tersebut. Ia pun meminta Citra untuk bergerak berputar untuk melihat bagian gaun yang masih kurang pas dan menandainya untuk diperbaiki.
"Kau tahu, Bos. Aku sekarang merasa seperti Cinderella bertemu dengan bapak peri." ucap Citra yang mulai lupa dengan rasa malunya dan menikmati memakai gaun indah.
Janu tersenyum. Citra benar. Saat ini ia seperti bapak peri yang sedang mempersiapkan si Cinderella untuk menghadiri sebuah acara. Jika di cerita asli, Cinderella pergi ke pesta untuk menyongsong jodohnya. Jika dalam kisah Citra, wanita itu pergi untuk membalas dendam pada mantan suaminya.
"Sekarang ikut aku!" pinta Janu sambil menggandeng Citra untuk menuju ke kamarnya. Ia masih akan mencoba sentuhan akhir untuk memastikan Citra tampil paripurna saat acara besarnya nanti.
Saat tiba di depan pintu kamar Janu, jantung Citra berdetak kencang.
"Santai saja Citra, kamu kan sudah sering masuk ke sini!" Citra berusaha menenangkan dirinya sendiri. Jika teringat bagaimana Janu memperlakukannya di atas ranjang, jujur saja Citra jadi malu.
"Duduklah!" perintah Janu sambil menunjuk kursi meja rias. "Sekarang kita sesuaikan make up dan tata rambut untuk gaun ini!"
Tangan Janu dengan terampil memoleskan make up di wajah Citra. Satu jam kemudian riasan itu selesai.
Citra terpaku melihat sosok di dalam cermin. Benarkah ini adalah dirinya. Apakah dengan sosok ini ia bisa leluasa mendekati Kevin untuk membalas dendam?Janu melihat ke arah jam dinding. Ternyata sudah lewat tengah malam. Ia segera menyuruh Citra untuk melepaskan gaun dan segera tidur.
Citra merasa lega, Janu tidak memintanya untuk melakukan 'tugas tambahan'.
"Istirahatlah, biar aku yang mengembalikan gaun itu di studio!" ucap Janu tanpa memandang Citra karena ia sendiri sedang sibuk merapikan peralatan make up.
"Bos tidak membutuhkan sesuatu kan?"
"Tidak," jawab Janu singkat.
Setelah yakin si bos memang tidak menginginkan apa pun darinya, Citra bergegas keluar dari kamar meninggalkan pria itu sendirian.
Janu menghela nafasnya lega. Sedari tadi ia berusaha mati - matian menahan hasratnya untuk menjamah Citra yang malam ini secantik bidadari yang turun dari surga. Meskipun sah - sah saja bagi Janu untuk memperlakukan Citra sesuai keinginan sebagai reward untuknya.
"Jangan terlalu sering meminta Citra untuk melayanimu, Jan. Kalau nanti dia sudah pergi, bisa repot kamu!" Janu memperingatkan dirinya sendiri.
*****
Citra tidak dapat memejamkan matanya. Perlakuan Janu selama ini membuatnya dipenuhi dengan tanda tanya. Pria yang di awal ia sangka sebagai manusia tidak berperasaan itu, ternyata justru lebih baik daripada Kevin.
Saat memperlakukannya di atas ranjang pun tidak seperti seorang maniak yang haus akan sex. Janu memperlakukannya bak seorang ratu. Mengapa hal yang baik justru ia dapatkan dari lelaki yang bukan suaminya?
Sayangnya hubungan mereka hanya sebatas simbiosis mutualisme, jadi Citra tidak boleh mengharapkan lebih meskipun jujur saja, akhir - akhir ini ia sering dibuat dag - dig - dug jika berdekatan dengan pria itu. Perasaan yang membuatnya sedikit melupakan niat untuk membalas dendam pada Kevin.
*****
Siang itu Citra sedikit santai. Karena Janu hanya memintanya untuk mengurus rumah dan memasak makan siang untuk para karyawan. Kini ia jadi memiliki banyak waktu luang untuk bermain dengan Puteri. Karena sudah terbiasa sibuk, Citra jadi bingung ingin melakukan apa. Ia pun iseng menyalakan televisi.
Tubuhnya langsung terasa lemas seperti jelly ketika menyaksikan infotaintment yang menayangkan acara pernikahan Inge dengan mantan Suaminya.
Citra memfokuskan matanya pada film yang diputar. Seketika rasa benci itu kembali hadir saat melihat tawa bahagia Inge yang tengah bersanding dengan Kevin. "Kalian berdua, tunggu saja pembalasanku!"
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Panggung Untukmu (Sudah tersedia ebook di Playstore)
Художественная проза"Aku bersedia membantumu untuk membalas dendam pada suamimu" Januar Pribadi "Aku bersedia melakukan apapun asalkan keinginanku tercapai." Citra Larasati Simbiosis Mutualisme yang membuat Citra galau antara memilih untuk membalas dendam terhadap mant...