Six : Lian or Jiyeon?

83 17 4
                                    

Kim Jennie, membuka pintu rumah tua dengan kunci di tangan nya. Dia tersenyum ketika pintu sudah berhasil dia buka. Masuk ke dalam dengan langkah pelan. Dan lagi-lagi dia tersenyum puas ketika melihat tubuh tidak berdaya di kursi, di penuhi ikatan hingga mulut nya di tutup dengan sebuah kain. Mata nya sembab dan memerah bagaikan mayat hidup.

"Hallo, Eonni." Jennie menyeringai, seseorang yang dia panggil eonni membuka mata nya. Memandang Jennie dengan penuh rasa benci. "Oh kau ingin bicara, sebentar ya Eonni."

Jennie membuka kain yang menutupi mulut gadis yang dia sekap. Lantas, langsung mengeluarkan nafas dari mulut nya. "Huh ... Kurang ajar!!" Teriak nya pada Jennie. "Kenapa kau tega sekali, Jennie?"

Jennie malah tertawa. "Tega? Kau yang tega Eonni, kau tahu bahwa aku menyukai Mark Oppa sejak dulu, tapi kau tetap merebut nya dari ku."

"Dia tidak mencintai mu, aku hanya tidak ingin kau tersakiti." Ucapan nya penuh penekanan. Rasa benci sudah menguasai diri nya. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, gadis itu sudah pasti memukul Jennie.

"Omong kosong," Jennie membentak. Tidak terima dengan apa yang gadis itu katakan. "Dengar, sejak dulu aku selalu mengharapkan Mark Oppa, tapi apa? Dia malah menjalin kasih dengan kakak ku sendiri?" Jennie tersenyum remeh. "Kau tidak tau 'kan bagaimana rasa nya? Baiklah, aku akan memberitahu mu."

Jennie mengeluarkan ponsel dari saku celana nya. Dia menggeser layar nya dan menunjukkan sebuah foto pada sang kakak, Kim Lian.

Sungguh, kedua mata nya terbuka lebar melihat siapa di ponsel Jennie. Mark dengan, melihat wajah nya saja sudah membuat Lian syok. "Jennie, siapa dia?"

Jennie tertawa melihat ekspresi kakak nya. "Perkenalkan, dia Park Jiyeon. Istri Mark Tuan."

Lian menggeleng ke segala arah. Berusaha menyangkal kebenaran yang Jennie katakan. "Kau bohong 'kan? Mark, dia mencintai ku, bagaimana mungkin dia menikahi gadis lain?"

"Itu karena kau sudah mati, Kim Lian. Aku membuat kematian palsu untuk mu." Jennie menatap Lian penuh kemenangan. Dia mengangkat dagu sang kakak dengan kasar.

Lian hanya bisa menangis, mulut nya serasa kaku tak bisa berkata.

Jennie menyeringai melihat semua nya. "Kau sudah tahu, 'kan? Bagaimana rasa nya sakit hati?"

"Kau jahat, Jennie."

"Kau yang jahat duluan padaku, Eonni."

Jennie melepas kasar dagu Lian. Dan keluar begitu saja. Bahkan teriakan Lian dia abaikan.

Malam hari sudah tiba. Park Jiyeon memasuki kamar Mark. Dia melihat sang suami terbaring di ranjang sembari memainkan ponsel nya.

Satu ranjang di penuhi Mark, hingga tak ada tempat bagi Jiyeon tidur. "Mark," akhirnya memanggil Mark.

"Wae?"

Jiyeon melihat kasur, "aku akan tidur dimana?"

Mark mengangkat alis nya. Dia melempar bantal ke arah Jiyeon dan mengenai kepala nya. "Kau tidur saja di bawah."

Jiyeon tak habis pikir ada manusia sekejam Mark. "Tapi, di bawah dingin Mark."

"Apa aku peduli?" Mark acuh saja, "lagi pula kau harus di hukum karena berani membuat ku marah."

Dengan susah payah Jiyeon menahan emosi nya dan terpaksa tidur di bawah hanya dengan alas matras. Cuaca sangat dingin, dia tidak tahu apakah bisa bertahan di tempat dingin seperti posisi saat ini.

Jiyeon susah payah memejamkan mata nya. Susah tidur karena tubuh nya terus saja menggigil. Jiyeon mengambil selimut tebal tapi masih saja tubuh nya kedinginan.

Dari pada dia demam. Terpaksa Jiyeon menaiki ranjang. Dan tidur di sebelah Mark. Beruntung Mark sudah tertidur pulas, jadi aman saja, asalkan nanti pagi Jiyeon bangun sebelum Mark.

"Mianhe, Mark."

Kilau mentari kian menyinari dunia. Memamerkan keindahan sinar nya yang merusak pandangan mata. Menembus tirai dan akhir nya Mark Tuan terbangun dari tidur nya. Tapi serasa aneh karena tubuh nya tidak bisa bergerak. Membuka mata nya perlahan dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Park Jiyeon, tengah memeluk nya dari samping.

Dan aneh nya, tiba-tiba jantung nya berdebar tak karuan. Ada apakah? Padahal Jiyeon bukanlah Lian. Mark melihat ke bawah, tepat nya pada wajah polos Jiyeon. Kenapa wajah itu sangat mirip dengan Lian? Membuat Mark terpesona?

Melihat nya Mark tidak tega membangunkan nya. Hanya saja menyingkirkan tangan Jiyeon di atas perut nya dengan pelan. Ketika telah lepas, barulah Mark beranjak dari kasur. Mulai berjalan ke kamar mandi.

Karena silau nya matahari yang menembus tirai. Jiyeon jadi kepanasan dan membuka mata nya. Dia melihat sekeliling dan betapa terkejutnya ketika melihat Mark sudah tidak ada di ranjang. "Astaga, Mark? Apa dia melihat ku tidur disini?" Wajah nya terlihat syok. Dia pasti akan mendapat masalah.

Jiyeon jadi galau sendiri. Bagaimana jika dia di usir dari kamar oleh Mark. Bisa-bisa rencana nya untuk membuat Mark jatuh cinta malah gagal.

Jiyeon segera beranjak dari ranjang. Karena saking takut nya dia membuka kamar mandi dengan sembarang. Hingga saat dia sadar akan kehadiran seseorang yang sedang telanjang. Tiba-tiba menjerit sangat nyaring.

Beda lagi dengan Mark, dia melotot melihat kedatangan Jiyeon dan segera mengambil handuk menutupi bagian bawah nya yang mungkin sudah dilihat oleh Jiyeon.

"Akkhhhhh .... "

"Astaga, Jiyeon keluar!!"

Jiyeon segera bergegas keluar. Sudah takut dan sekarang di timpa rasa malu. Mau di letakkan dimana wajah nya ketika berhadapan dengan Mark sebentar lagi?

°°

"Mark maafkan aku, aku- tidak bermaksud tidur di ranjang. Hanya saja tubuh ku kedinginan, jadi aku--" Jiyeon menjelaskan sembari tangan nya itu, ikut bicara memohon maaf.

Namun tiba-tiba penjelasan Jiyeon terhenti ketika Mark berbalik badan dan menatap nya tajam. Sedari tadi, Mark fokus mencari jas nya dan Jiyeon terus saja mengoceh tidak jelas. Menjelaskan ini dan itu, jujur Mark sangat bosan mendengar nya. Apalagi rasa malu nya masih ada ketika Jiyeon memergoki nya di kamar mandi.

"Mark, maaf. Kau boleh menghukumku asal kau bersedia me-"

Mark malah menghentikan ucapan Jiyeon dengan menyumbat mulut sang gadis dengan tangan nya. "Berhenti mengoceh, okey?"

Aneh nya Jiyeon malah tersenyum ketika tangan Mark sudah terlepas. Membuat Mark dilema, namun segera menyingkirkan rasa kagum nya dan berjalan melewati Jiyeon.

"Seberapa benci pun kau pada ku, aku akan tetap memperjuangkan cinta ku, Mark."

Jiyeon menatap kepergian Mark. Dengan senyuman yang merekah di bibir manis nya.




TBC



Okey gaiss... Sampe sini aja, see you next chapter...

𝑊ℎ𝑜 𝐴𝑟𝑒 𝑌𝑜𝑢?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang