Chapter || 33.

11.8K 280 1
                                    

Shera memutuskan resign tiga hari setelahnya. Dengan bujuk rayu Genta yang akhirnya membuatnya mengangguk dan memutuskan berhenti kerja demi kesehatannya. Genta yang mengurus semuanya. Shera hanya diam di apartemen mereka, mengasuh Avi, dan fokus pada kesembuhannya.

"Kamu mau ketemu Dokter Zenitra nggak?" tawar Genta pagi ini saat Shera sedang menyiapkan sarapan.

Shera berpikir sebentar. Ia memang berniat konsultasi ke psikolog nya untuk meyakinkan bahwa kesehatan psikisnya baik-baik saja. Shera butuh seseorang untuk meyakinkan. Tapi, dilihat dari kondisinya yang tidak merasa takut lagi pada Genta dan traumanya yang perlahan tidak sering muncul membuatnya merasa tidak perlu bertemu psikolog lagi. "Nanti aja, deh," balasnya.

Shera menatap Genta yang tampil menawan pagi ini di matanya, padahal penampilannya seperti hari-hari biasa. "Kenapa kamu ngeliatin saya gitu?"

Shera merasakan wajahnya memerah. "Nggak." Ia langsung memalingkan wajahnya

"Rara."

Shera masih enggan menatap Genta lagi. "Hm?"

Genta mendekatkan dirinya ke belakang tubuh Shera. Dengan perlahan, Genta memeluk Shera. Tanpa diketahui wanita itu, Genta mengambil sesuatu di sakunya. "Buat kamu."

Shera mengalihkan pandangannya. Ia menatap kotak beludru di hadapannya. "Apa itu?" Bodoh, padahal dia sendiri tau apa isi di dalamnya.

"Lihat aja sendiri."

Shera tersenyum kecil. Ia mengambil kotak berisi cincin itu. "Cantik," ujarnya dengan pandangan fokus pada cincin di hadapannya.

"Iya, cantik." Genta mengatakannya dengan pandangan menatap ke Shera, bukan pada cincin itu. "Lebih cantik kalau cincinnya dipake kamu."

Shera tertawa kecil. "Kamu mau ngasih saya waktu, kan? Sampai saya siap."

Genta mengangguk dan mengecup pipi Shera. "Take your time, Rara."

"Janji nggak akan ninggalin saya lagi?"

Genta menggeleng. "Harusnya saya yang nanya gitu. Kamu nggak akan ninggalin saya, kan?"

Shera tersenyum. Ia memilih untuk berbisik pada Genta.

Genta tertawa geli. "Sayang kamu juga, Rara."

Pelukan dan momen mesra itu berakhir ketika Avi keluar dari kamarnya. Anaknya itu sudah tampil rapi, siap berangkat sekolah. "Makasih, Mbak Rita," ujarnya karena tadi Mbak Rita membantunya siap-siap.

"Avi, hari ini sekolahnya di anter Mama, yuk." Shera berujar seraya memberikan sarapan untuk Avi.

Anaknya itu mengangguk senang.

Sebaliknya, Genta menatap Shera tidak setuju. "Ra, kan belum sembuh."

"Cuma ke sekolah Avi."

"Sama aja, Ra."

Shera menghela napas. Genta semakin protektif dan menyebalkan. Shera hanya bisa mengalah daripada harus melakukan perdebatan yang ia tau pasti akan kalah juga.

"Avi berangkat sama Papa ya, nanti ditungguin Mbak Rita aja. Mamanya masih belum boleh capek-capek." Avi kesal sebenarnya, tapi bocah itu hanya mengangguk nurut.

***

Shera menatap cincin di depannya. Indah sekali, batinnya. Ia tidak bisa munafik dengan mengatakan ia tidak jatuh cinta pada cincin itu. Tapi, ia juga tidak bisa mengelak keraguan di hatinya. Apa benar Genta sudah berubah?

Bunyi bel apartemennya membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Mama?" Ara tersenyum dan memeluk anak semata wayangnya.

"Gimana kabar kamu?"

"Fine. Mama kenapa ke sini nggak bilang Shera? Padahal kalau tau, Shera bisa jemput Mama." Shera duduk di sofa tepat di samping Ara.

"Halah kamu ini, masih sakit juga. Mama cuma mampir ke sini abis dari arisan sama temen Mama." Ara membuka bingkisan yang ia bawa. "Nih, dikasih dari Tante Indah, dibuatin buat kamu katanya." Ara memberikan bungkusan kue pada Shera.

Shera ingat Tante Indah, teman Mamanya yang ngotot ingin menjodohkan Shera dengan anaknya yang bernama Angga. Angga sendiri pernah mendekati Shera beberapa bulan sebelum ia menikah pertama kali dengan Genta. Tapi, keinginan menggebu Tante Indah tidak pernah terealisasikan. "Bilangin makasih dari Shera ya, Ma."

Ara mengangguk. Matanya melirik kotak beludru di meja di hadapannya. Ara tersenyum kecil. "Dari Genta?"

Shera menatap apa yang dimaksud Ara. "Iya," ujarnya dengan wajah yang memerah.

"Kapan jadinya?"

"Hm?"

"Kalian bakalan nikah, kan?"

Sial. Kenapa pertanyaan itu lagi, sih? "Iya. Belum ditentuin."

"Belum ditentuin apa emang kamunya masih ragu?"

Shera tersenyum. "Dua-duanya. Lagian juga Shera masih prose pemulihan, dan Shera butuh waktu, nggak mau cepet-cepet."

Ara menghela napas. "Avi punya orang tua kok nakal gini, ya? Wong kamu udah serumah gini, takut nanti kebobolan lagi gimana? Inget dosa lah, Ra. Emangnya kamu mau anak kamu lahir di luar nikah?" Ara tau seharusnya ia tidak menyerempet ke topik yang sangat sensitif ini mengingat anaknya baru saja kehilangan janinnya.

"Nggak akan kenapa-napa kok. Shera cuma butuh waktu sebentar."

Ara berdecih. "Sebentar-sebentar nanti keburu 'tekdung. Ini tuh buat kebaikan kamu, Ra. Kebaikan kalian dan Avi, mau sampe kapan kamu gantungin Genta begini? Kalau Genta nanti lari ke cewek lain, kamu nggak usah nangis-nangis nggak jelas, ya. Salah sendiri kamu gantungin dia." Ini kenapa Ara malah berpihak ke Genta sih? Jelas-jelas anaknya adalah Shera, bukan Gentahardja.

"Shera cuma takut dia belum sepenuhnya berubah."

"Sampai kapanpun otak kamu pasti bakal berpikir begitu kalau kamu nggak mau mengambil langkah. Mama tuh udah capek ngingetin kamu buat berdamai sama masa lalu kamu, Ra. Mama ingetin sekali lagi dan ini terakhir kali ; semakin lama kamu ragu sama Genta, semakin besar ketakutan kamu sama dia. Ngerti?"

Shera hanya bisa mengangguk. "Mama jangan belain Genta terus dong, kan anak Mama itu aku."

"Halah, kamu ini giliran digituin aja sok manja-manja begini. Pokoknya, Mama nggak mau kejadian dulu terulang, ya. Kalian ini sama-sama udah dewasa harusnya tau mana yng boleh dilakukan dan mana yang enggak." Ara memijat pelan pelipisnya karena pusing melihat tingkah laku anak semata wayangnya ini.

"Iya, waktu itu khilaf, Ma. Mana kepikiran beneran bakal jadi."

Jawaban itu mendapatkan tatapan nyalang dari Ara karena gemas dengan tingkah laku Shera. "Awas kamu ya."

***

"Tadi Mama Ara ke sini?" tanya Genta ketika mereka menyiapkan makan malam bersama.

Shera yang sedang memotong sayuran hanya mengangguk untuk menjawab Genta.

"Ini kue juga dari Mama?" Genta mencomot kue yang Shera simpan di piring besar yang terisa tiga potong lagi.

Shera menggeleng. "Itu dari Tante Indah, tadi ketemuan sama Mama."

"Oh, mintain resepnya dong, Ra. Enak banget soalnya kue ini." Genta nyengir kuda dan membuat Shera tertawa kecil.

"Saya nggak punya kontaknya, tapi saya punya kok kontak anaknya. Nanti saya minta ke dia."

"Anaknya? Cewek atau cowok?" Dari nadanya, kentara sekali Genta sangat posesif pada Shera.

"Cowok. Angga Abimanyu. Kamu inget, kan?" Tentu saja Genta ingat siapa Angga Abimanyu. Lelaki yang sudah berhasil membuatnya naik pitam karena nekat mendekati Shera saat mereka akan menikah dulu.

Genta langsung menggeleng. "Nggak usah deh. Nggak jadi."

Shera tertawa. "Cemburu, ya?"

"Iya, lah."

Jawaban itu berhasil membuat Shera yang awalnya ingin menggoda Genta, gagal karena sekarang wajahnya sendiri yang memerah.

***

L'amour L'emporte [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang