Epilogue

149 27 4
                                    

Epilogue

Sesaat mereka meninggalkan rumah duka, Beomgyu tidak dapat berhenti menangis. Di sebelahnya, Soobin siap sedia untuk merangkul tubuh Beomgyu yang gemetaran, bagaikan boneka beruang yang lemah. Taehyun menyusul di belakang mereka, masih dengan wajahnya yang tegang.

Semuanya ... terjadi begitu saja.

Taehyun bahkan tidak sampai hati menatap sepasang wajah orangtua Yeonjun. Rasanya bagaikan dihunus pisau dalam-dalam, sesaat dia memandangi figura menampilkan wajah Yeonjun dengan senyuman miring khasnya, Taehyun tidak dapat menahan tangisannya. Rasanya bagaikan ada setumpuk beban yang tidak terbebaskan. Mereka bagaikan ngegat liar yang langsung berkerumul sesaat menyadari kesedihan di sekitarnya.

Taehyun mengepalkan tangannya dan memandang dua sahabatnya yang masih sama-sama menangis. "Hyung, kita akan pergi ke rumah sakit kan?"

Soobin mengangguk lamban.

Beomgyu menoleh kepada Taehyun kemudian meraih tangan Taehyun agar mereka bergabung seraya mendekap satu sama lain. Taehyun sudah tidak punya tenaga untuk memasang wajah teguh bak karang, jadi dia membiarkan sesaat wajahnya menunduk dan air mata kembali mengalir membuat anak-anak sungai.

Bagaimana jika ..

Bagaimana jika hari itu mereka tidak pergi.

.

.

Taehyun memandang nyalang ke arah televisi yang terpasang di ruang inap tersebut. Sejam tadi, dia sudah berniat untuk mematikannya agar Kai dapat istirahat dan terlelap. Hanya saja, pemuda itu menahannya dan bilang dia ingin menonton. Jadi, Taehyun pun turut menonton meskipun dia tidak begitu fokus. Beberapa saat, dia terus mengoceh dan bertanya soal keadaan Kai.

"Aku baik-baik saja, aku boleh keluar minggu depan, Taehyun-ah," jawab Kai dengan senyuman pucat.

Taehyun mengangguk ringan. "Syukurlah. Soobin Hyung sudah sampai di kamar asmaranya, dia bilang akan mengunjungimu minggu depan setelah dia dapatkan tiket tercepat ke Seoul. Sementara itu, Beomgyu Hyung makin gigih berlatih boxing denganku tiap minggu, sekarang dia fokus dengan nilai-nilainya dan ingin masuk jurusan seni di perguruan tinggi incarannya. Kami akan berkumpul, kau juga harus ikut, aku akan memasak daging untuk kita semua."

"Baguslah," sahut Kai. Segalanya mulai membaik. Waktu itu, mungkin keadaannya sekacau bagaikan ada banyak kobaran api, nyala merah dan banyak kekacauan. Seiring waktu, Kai pun menyadari bahwa itu sudah berlalu. Meskipun dadanya punya bekas jahitan cukup mencolok, meskipun ada seberkas ingatan yang terus terekam di mimpi-mimpinya, Kai berusaha tidak memikirkan lebih lanjut.

"Kau masih bermimpi bahwa kau terjatuh?"

Kai mengangguk ragu. Dia melipat bibirnya. "Tapi aku rasa, kali ini, aku bisa mengendalikan diri dan tidak begitu panik toh ayah dan Noona bersamaku sepanjang malam, jadi yah, tidak perlu takut hanya saja .. aku sudah terbangun dengan napas keras kalau aku mendengar suara-suara asing, telingaku jadi sangat sensitif akhir-akhir ini."

"Begitu."

"Bagaimana denganmu? Masih sering tidur dengan tubuh gemetaran?"

"Hmm, ya," katanya seraya menggaruk tengkuknya. "Tapi aku akan membaik. Nenek bersamaku sekarang, dia memutuskan untuk menemaniku sepanjang tahun ini karena dia pikir, aku butuh teman. Noona kadang mengunjungiku, begitupun pamanku. Aku baik-baik saja."

Kai meringis. "Kalau tidak juga tidak apa-apa." Ia meraih tangan Taehyun seraya meremasnya pelan. "Kita masih punya banyak waktu untuk pulih kan?"

.

.

Segerombol pemuda itu masih bercakap-cakap. Ransel masih setia di bahu yang mereka kokoh. Sesaat beberapa orang sudah memimpin jalan untuk menelusuri bagian Hutan Sunyi tersebut—papan peringatan yang mereka lihat sebelumnya nampak tidak dipedulikan—satu pemuda justru berjongkok seraya menarik-narik tangan rekannya. "Wae? Ada apa?"

"Buku .. apa ini?" katanya bingung.

Mereka berdua tertinggal dari kerumunan yang masih berjalan, membuat barisan untuk bergerak ke bagian dalam Hutan. Semalam, di penginapan, mereka sempat mendengar desas-desus soal mitos Hutan Sunyi. Hanya saja itu lebih cocok jadi cerita untuk menakuti-nakuti anak kecil daripada dipercaya dengan sungguh-sungguh.

Pemuda itu ikut mendekat dengan raut penasarannya. Dia memandang rekannya. "Apakah ... apakah ini punya pelancong sebelumnya? Maksudku, sebelum ada tanda polisi maupun tanda peringatan, pasti tempat ini ramai. Kurasa, ini hanya buku biasa."

"Mungkin?"

"Hei! Cepatlah! Apakah kau mau berkemah di sekitar sini saja? Cepat!"

Keduanya pun menyahut kemudian berjalan terburu-buru. Buku itu pun cepat didekapnya erat-erat. Songs of The Sirens and Silence Forest; A GUIDE.

TAMAT

CAN'T YOU SEE ME? | txt ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang