Part 3 ~• Djakarta •~

182 57 35
                                    

I'm waiting in line to get to where you are
Hope floats up high along the way
I forget Jakarta
All the friendly faces in disguise
This time, I'm closing down this fairytale.

- Aditya Sofyan [Forget Jakarta] -

Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, 1 April 2019

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, 1 April 2019.

Dara sedang sibuk menunggu beberapa barang-barangnya yang dimuat sebagai kargo setibanya di Bandara Soekarno-Hatta. Kegiatan ini jadi hal yang paling Dara tidak sukai, apalagi sekarang dirinya seorang diri dan terlihat kalau dirinya itu gabut banget.

Tidak mungkin sekali dia sksd ke beberapa orang di sebelahnya yang juga sedang sibuk menunggu barang-barang mereka.

Setibanya di Jakarta, Dara disambut dengan udara Jakarta yang panas. Rasanya baru sepuluh jam yang lalu dirinya menghirup udara dingin khas musim gugur di pekarangan rumah oma, sekarang dia sudah menghirup udara pengap khas musim panas di Jakarta.

Sebenarnya, sebelum penerbangan dari Adelaide menuju Jakarta pagi tadi, sempat ada kejadian penuh drama yang Dara lewati bersama dengan oma. Mulai dari kejadian oma yang minta putar balik mobil yang mengantar mereka ke bandara karena oma lupa apakah sudah mematikan kompor atau belum, nyatanya memang sudah dimatikan, padahal oma sudah panik takut-takut selepas melepas kepulangan cucunya itu, rumahnya sudah hangus terbakar karena belum mematikan kompor.

Oma sebelumnya tidak pernah begitu panik dan seceroboh itu, Dara kenal betul wanita usia 70-an itu. Dara tahu sendiri, sepertinya oma sedang menyembunyikan rasa sedihnya karena harus berpisah dengan Dara.

Tadi, saat Dara sempat mengintip oma dari balik pintu rumah yang sedang memastikan kompor di dapur sudah dimatikan apa belum, oma sempat menghapus jejak air matanya.

Tuhkan! Oma memang lagi sedih, tapi sok-sokan banget nutupin sedihnya di depan Dara.

Padahal oma sendiri yang pernah bilang ke Dara, kalau menangis merupakan sesuatu yang lumrah sebagai perayaan kehilangan.

Lamunanya tiba-tiba buyar saat koper merah paling ngejreng itu lewat di depan Dara. Itu koper terakhirnya.

Setelah memastikan semuanya sudah di tangan, Dara memilih buru-buru meninggalkan area bandara yang baru saja mendadak ramai karena ada rombongan besar seperti hendak melakukan lamaran ke rumah pujaan hati, Dara tahu karena salah seorang dari rombongan membawa bingkisan berisi dua roti buaya yang memang dijadikan tradisi untuk lamaran di Jakarta, terutama pernikahan Suku Betawi.

Lucu saja Dara melihatnya, serombongan itu jadi pusat perhatian orang-orang di bandara, gimana tidak? Rombongan yang berisi hampir dua puluh orang itu kompak mengenakan seragam dengan warna merah dipadu dengan warna emas, dari mulai eyang dan mungkin sampai cicit-cicitnya.

Melihat kejadian seperti itu membuat Dara ingat sama omanya, pasti oma sedang kesepian tanpa dirinya.

Taksi yang baru saja Dara pesan sudah tiba, sambil melirik rombongan dengan roti buaya Dara tidak memperhatikan langkahnya. Bahkan karena saking cerobohnya, tubuhnya sampai menabrak seseorang.

Dear Aksara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang