Tahu perihal untaian kalimat dari James Hutton? 'The present is the key to the past', itu teori yang Hutton sebutkan pada sejarah perkembangan bumi yang isinya tentang hukum sebab-akibat. Untaian kalimat tadi tidak hanya berlaku untuk perkembangan b...
Kurasa ku telah jatuh cinta Pada pandangan yang pertama Sulit bagiku untuk bisa Berhenti mengagumi dirinya.
- RAN [Pandangan Pertama] -
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2 April 2019.
"Hari ini kamu mau kemana, Ra?" tanya mama sambil menyiapkan sarapan pagi.
Sekarang, ketiganya berkumpul di dapur yang juga merangkap sebagai ruang makan dalam keadaan sunyi senyap.
Hujan baru saja turun sepagi ini, membuat suasana menjadi lebih dingin dari biasanya, apalagi ditambah dengan keadaan meja makan keluarga Rina yang dingin tanpa dilengkapi dengan banyak obrolan.
"Bukan urusan Mama."
Rina hanya tersenyum, dia mengerti betul bagaimana anak putrinya itu bersikap sedemikian. Lagipula, itu juga kesalahannya dengan suaminya enam tahun lalu, bahkan jauh sebelum Yudha dan Dara dilahirkan. Keduanya sudah memulai kesalahan besar itu tanpa sadar.
Aroma nasi goreng yang baru saja diangkat dari wajan memenuhi ruang makan. Sebenarnya, setelah menghirup dalam-dalam aroma nasi goreng buatan mama, rasanya ada sesuai yang menggerogoti hati Dara. Apa pun yang mamanya lakukan, adalah kenangan masa lalu yang berusaha keras Dara lupakan.
Namun, hadirnya di sini sekarang membuat Dara tidak bisa melupakan kenangan itu begitu saja, bahkan sekarang ingatan kecil yang terlihat tidak begitu istimewa hadir, membuat lubang besar di dalam hati Dara semakin lebar.
Adi -papa Dara- yang tadinya hanya diam saja, tiba-tiba menyendokkan satu centong penuh nasi goreng ke piring kosong milik Dara. Diperlakukan seperti itu membuat Dara terkejut.
"Kamu harus makan banyak, anak Papa harus sehat," ujar beliau sambil tersenyum. Manis sekali. Sampai-sampai membuat Rina menghapus pelan ujung matanya yang berair.
"Yudha." Adi tersenyum, kali ini lebih lebar.
Papanya itu, terperangkap dalam ingatan masa lalunya. Semua yang beliau lihat dan ingat hanya sosok Yudha semata.
Beliau terjebak atas rasa bersalah yang menggunung.
Diam-diam, Dara menyentuh pelan ujung jemari Adi yang tergeletak begitu saja di atas meja makan. Mengusapnya pelan, sembari menahan air mata dan napasnya yang mulai tidak beraturan, Dara memberanikan diri untuk menjelaskan. "Ini Dara Pa, bukan kak Yudha."
Mendengar apa yang Dara ucapkan membuat Adi menarik jemarinya dari atas meja, laki-laki itu kemudian membekap kedua mulutnya sambil menangis tersedu.
Sebenarnya, melihat apa yang terjadi dengan papanya barusan membuat Dara ingin sekali memeluk laki-laki berumur itu dengan erat, menepuk pundak dan mengusap pelan sambil bilang 'semuanya akan baik-baik saja' seperti yang sering Dara dan oma lihat di serial televisi sewaktu dirinya masih di Adelaide.