Part 6 ~• Bully •~

118 43 42
                                    

Jakarta, SMA Putra Bangsa, 13 April 2019

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, SMA Putra Bangsa, 13 April 2019.

Adegan heboh di kantin siang tadi bubar begitu saja, siswa-siswi satu persatu tanpa perlu diminta memilih bubar. Kini giliran Jay yang heboh sendiri karena mendadak perutnya mules, sampai-sampai cowok itu harus berlari secepat mungkin ke kamar mandi sebelum isi perutnya keluar dan mengotori celana OSIS-nya.

"Biasa ketemu sama cabe-cabean. Jadi sekalinya ketemu sama cabe beneran, ya gitu, mencret," ejek Gilang sambil tertawa.

Karena bel sudah terdengar di seluruh sudut sekolah, keempatnya memilih kembali ke kelas masing-masing.

"Ra? Lo nggak pa-pa?" Dari tadi Aksa terus saja memperhatikan Dara, cewek itu tidak menangis, tidak juga balik marah ke Adel karena sembarangan sudah menamparnya barusan.

Aksa sendiri tidak mengerti, kenapa Dara bisa sesabar itu, tapi cowok itu takut, jangan-jangan esok hari dia bisa muntah paku karena diam-diam Dara bekerja sama dengan dukun. Nggak ada yang tahu.

"Ra? Lo nanti nggak ada niatan ke dukun, kan?"

"Ada," jawab Dara sambil menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, otomatis tiga cowok itu juga berhenti mendadak, bahkan Gilang dan Genta sampai menubruk tubuh Aksa yang tepat berjalan di belakang Dara.

"Buat nyantet lo sama cewek lo, lagian jahat banget lo sama dia."

Aksa meneguk liurnya merasa ngeri sendiri. "Dia bukan cewek gue."

"Bagus deh, cewek baik kaya dia nggak pantes sama lo," ujarnya sambil kembali melangkah, melewati deret kelas IPA yang penghuninya terang-terangan mengintip dari dalam kelas, penasaran dengan siapa yang sedang ribut-ribut di lorong deretan kelas IPA.

"Cocoknya sama lo, kan?" Aksa ngelawak tapi mendadak diam setelah dipelototi Dara.

"Petrus sihombing samyang jakendor jumanji!" ujar Gilang mendadak.

"Apaan?"

"Pepet terus sampai hati terombang ambing sampai sayang jangan kasih kendor juancok mantab anjing!" Gilang memberikan dua ibu jarinya ke arah Aksa.

"Kolor lo tuh yang kendor." Genta tertawa mendengar penjelasan Gilang atas singkatan ngawur yang cowok itu ucapkan, kemudian tawanya yang renyah kaya remahan tepung goreng di Warung Emak mendadak tersumpal.

Bukan karena jokes-nya Gilang mendadak tidak lucu lagi, tetapi karena sosok si mantan kekasih yang sedang berdiri berkacak pinggang di depan IPS 1, sedang menatap kehadiran keempatnya sambil misuh-misuh.

Deretan kelas IPA sama IPS itu masih dalam satu lorong, apalagi kelas IPA 6 yang notabene adalah kelas geng ini bersebelahan langsung dengan kelas IPS 1, hanya dipisakan oleh sebuah toilet saja. Jadilah Genta masih sering melihat dan curi-curi pandang ke sang matan kalau lagi lewat.

Tuhkan! Kalau dibegitukan Genta bakalan kangen dengan masa pacaran mereka yang sudah berakhir hampir satu tahun. Jujur saja, Genta belum bisa move on, tidak tahu dengan Roro.

Dear Aksara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang