(Completed)
[TERBIT]
[HARAP FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
Musim panas kali ini begitu jahat. Saat Bella dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit, entah harus mempertahankan atau merelakan, melepaskan atau memperjuangkan.
Tolong sampaikan pada semesta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Menggenggam masa lalu itu menyakitkan. Sebanding dengan kenyataan bahwa aku dan kamu tidak akan pernah bersatu."_XabiruLexiMelviano
•BackstreetRelationshit• ~•---•~
Satu minggu telah berlalu. Status yang menjadikan Bella dan Bian menjadi mantan bagaikan sebuah kutukan terberat bagi Bian.
Bian memang tidak memperlihatkan kesedihannya secara terang-terangan pada semua orang. Bian tidak akan memperlihatkan wajah yang penuh putus asa pada semua orang. Bian tidak ingin terlihat lemah dan rapuh.
Bukannya laki-laki memang seperti itu? Bian memang munafik. meminta Bella melupakannya namun dia sendiri masih stuk pada satu titik. Masih memelihara rasa tabu yang enggan beranjak dari hatinya.
Bian menatap dirinya dipantulan cermin. Berdiri di sana dengan mengenakan setelan formal. Bian mengenakan jas berwarna Biru malam, dengan dasi yang sangat senada dengan jas yang dia kenakan.
"Pa, kita mau ke mana, sih?" tanya Bian dengan alis berkerut. Pulang sekolah tadi, dia disuruh pulang cepat oleh Papa-nya.
"Partner kerja ayah katanya mau ngajak kita makan malam," jawab Bram dengan menatap putra sulungnya.
"Udah siap? Ayo berangkat. Mama kamu udah nungguin dari tadi," ucap Bram melangkah menjauh dari kamar Bian.
Bian tampak menghela napas. Sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin. Sebenarnya mood Bian sedang buruk. Dia butuh ruang untuk sendiri, namun sepertinya tidak ada yang mengerti akan hal tersebut.
Setelah dua puluh menit mobil keluarga Bian melaju di keramaian jalan raya, mobil itu berbelok memasuki area parkiran restoran. Setelah turun dari mobil, mereka bergegas menuju ke rooftop. Ruang makan outdor memang adalah ciri khas keluarga Bian. Lebih suka menyantap makanannya dengan menikmati pemandangan alam.
Meja khusus telah di pesan untuk mereka. Makan malam dengan penuh kemewahan sudah tidak asing lagi bagi Bian. Cowok itu menarik kursi untuk dirinya sendiri lalu menyandarkan punggungnya di sana. Menantikan kolega orang tuanya dan langsung makan. Bian sangat menginginkan acara ini cepat selesai.
"Temen Papa punya anak cewek, lho, Yan. Dia seumuran sama kamu," ujar Bram membuka topik pembicaraan.
Bian hanya berdehem. Membalas tanpa minat obrolannya. Ponsel di tangan Bian lebih menarik dari pada anak gadis kolega Bram.
"Kamu memangnya tidak tertarik untuk kenalan sama anak temen, Papa? Memperluas pertemanan itu bagus, lho," sahut Viona — Mama Bian.
"Ceweknya cantik kayak Mama, nggak? Aku mau cari cewek yang kayak Mama. Pengertian dan penyayang," balas Bian tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel itu. Dia sedang asik membalas chat dari Radar. Cowok kalem itu kembali membuat kerusuhan di grup chat mereka.