Tahu perihal untaian kalimat dari James Hutton? 'The present is the key to the past', itu teori yang Hutton sebutkan pada sejarah perkembangan bumi yang isinya tentang hukum sebab-akibat. Untaian kalimat tadi tidak hanya berlaku untuk perkembangan b...
Our every moment, I start to replace 'Cause now that they're gone, all I hear are the words that I needed to say.
- Lewis Capaldi [Before You Go] -
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 17 April 2019.
Perlahan-lahan, Rina menuntun langkah milik Adi. Pagi ini setelah keduanya berbelanja beberapa keperluan untuk perayaan ulang tahun putra pertama mereka, agenda selanjutnya adalah menyambangi pemakaman umum. Bertemu dengan makam putra sulung mereka untuk pertama kali setelah enam tahun lamanya.
Bukan karena keduanya tidak lagi peduli pada Yudha, apalagi memilih mengabaikannya begitu saja. Kehilangan yang ditinggalkan Yudha itu terlalu besar, keduanya butuh bertahun-tahun untuk menggenapkan walaupun tidak bisa sempurna seperti sediakala, tetapi hari ini keduanya sama-sama meneguhkan hati untuk bertemu dengan si Sulung.
Rina dan Adi berjongkok tepat di depan makam si Sulung, membersihkan beberapa rumput yang tumbuh di atasnya. Ada sisa bunga mawar dan potongan daun pandan yang sudah mengering, mungkin Dara baru saja berziarah beberapa hari yang lalu.
Setelah selesai menaburkan bunga dan merapalkan doa-doa, tidak ada yang membuka percakapan terlebih dahulu. Rina dan Adi sendiri larut dalam pikiran masing-masing.
Sore itu setelah selesai kerja bakti dengan warga sekitar rumah, keluarga kecil itu memilih duduk di beranda depan. Walaupun langit sedang mendung dan sepertinya sebentar lagi hujan turun, tetapi udara terasa panas.
Adi sampai berulang kali mengibaskan topi rimba miliknya yang sudah ia tekuk, kemudian bergantian mengipasi Dara dan Yudha yang sedari tadi masih saja usil berebut pangkuan.
"Mama bisa banget lho mangku salah satu dari kalian," Rina berujar, sebenarnya dari nadanya terdengar seperti cemburu. Bagaimana tidak? Kedua anaknya lebih dekat dengan Adi dibandingkan dengan dirinya, telepas laki-laki itu jarang di rumah karena tuntutan pekerjaan, orang yang paling ditunggu Dara dan Yudha tetap Adi seorang.
"Mama kalau mangku nggak suka goyang-goyangin kaki. Aku lebih suka Papa yang mangku soalnya suka goyang-goyangin kaki," jelas Dara, penjelasannya barusan langsung disambut telapak tangan Yudha meminta tos karena setuju.
"Kalau suatu saat Papa nggak ada, kamu mau minta dipangku siapa memangnya kalau bukan sama Mama?" Adi bertanya pada keduanya.
"Lho, memangnya Papa mau ke mana sampai-sampai bilang kalau besok Papa nggak ada?"
Mendengar penjelasan itu hanya disambut senyuman dari Adi dan Rina. Dara belum mengerti betul perihal aturan main kehidupan, wajar kalau gadis itu bertanya dengan polos. Berbeda dengan Yudha, anak laki-laki itu tampak mengangguk-anggukan kepalanya menyimak.
"Ya ada, suatu saat. Nggak tahu kapan, bisa besok, empat tahun lagi, atau bisa aja nanti,"