not expect

568 71 0
                                    

Jakarta. 13 February 2018

Dari jarak berkilo-kilo meter di lobby penginapan perempuan ber-wajah bule dengan bintik muda freckle di sepanjang tulang pipi dan hidung. Sedang berdiri bimbang mengatur timer 20 menit dan menyalakan navigasi lewat maps google sebagai penunjuk arah.

Hanya perlu berjalan kaki, sudah sampai di tujuan lokasi. Tetapi timer-nya masih lama berbunyi. Maka terpaksa berjalan ke arah minimaerket. Lalu menunggu di teras toko kelontong ini yang buka 24 jam.

Kemudian, melakukan pekerjaan yang sering wanita lakukan—menunggu.

Saat waktu telah tiba. Inilah tanda menunjuk-nunjuk, bila siap tak siap harus menemui pemilik kontak Langit jakarta.

Tanpa memikirkan penampilannya terkesan santai, kaos distro bergambar band Queen tertutupi kemeja flanel dan celana jeans pendek. Darin tanpa kacamata menghiasi percaya diri memasuki area parkiran sembari menghubungi Langit.

Tampak badan tegap keluar dari bangunan sederhana. Darin berusaha mengeluarkan senyum tipis sebagai sapaan perjumpaan mereka.

"Kamu naik apa ke sini?"

"Ojek online."

Darin diajak masuk melalui pintu kecil. Luarnya nampak biasa, namun dalamnya disuguhi ornamen gambar lawas memenuhi dinding, temaram lampu merah dan oranye menjadi pencahayaan bar, bergantungan papan quote tema alkoholic, bahkan ada pula billiard pool. Tempat nongkrong Langit bukan untuk kalangan muda-mudi. Tempat ini mostly orang berumur, tante atau om-om dan bule. Seperti inilah rupa manusia tahun 80 atau 90-an menikmati dunia malam.

Darin pun berkenalan dengan manusia-manusia yang bersama Langit. Usai itu Langit alih-alih duduk bersamanya, justru menempati kursi sebelah gadis dengan atasan sedikit bahan.

Kenyataan yang menampar berkali-kali.
Bahwa hubungan mereka sekarang apa?

Kalau tidak sebal, Darin perempuan bodoh namanya melihat kedekatan Langit bersama perempuan lain. Mata Darin bergulir ke arah dua piring berisi ayam krispi dan kentang goreng, juga beberapa gelas Darin yakini sisa cocktail. Darin tertarik pada satu botol jenis single malt scotch whisky belum ada tersisa setengah. "Boleh saya minum ini?" Izin Darin kepada dua pria yang tidak masuk ke dalam obrolan Langit bersama perempuan tersebut.

"Minum aja mba, kita udah minta gelas sebelum mba dateng." Lelaki berkaus polo menjawab sambil mendorong gelas ke hadapan Darin. "Mas Langit juga sudah pesan makan sama soft drink buat mba."

Mendapat izin, Darin meneguk sambil mengawasi yang masih asik mengobrol tanpa peduli akan kedatangannya jauh ke mari. Dasar manusia brengsek!

Kekecewaan Darin telan-telan bersama alkohol, sambil mencomot kentang tak lupa daging dipesan untuknya yang sudah tiba.

Satu jam telah menyeret Darin menghabiskan botol Macallan. Dihabiskan berdua bersama laki-laki memakai jaket hitam diperkirakan lebih muda darinya. Darin sampai menolak menyentuh gelas dingin berisi cola. Sekarang Darin tidak butuh apa-apa selain alkohol.

Sementara Langit melihat gadis asal Semarang ini mulai tipsy. Salahnya mengacuhkan, sampai yang Langit amati tengah tertawa kepada es batu dalam sisa whisky dengan memutar gelas. Langit segera meminta tukar posisi dengan laki-laki yang menemani Darin berbincang, kemudian menyentuh punggung tangan Darin agar berhenti menggoyangkan gelas.

"Dar, you okay?"

"I'am fine, totally fine." Darin menatap sayup.

Langit acap kali berdecak tak suka melihat pertama kali bagaimana Darin mabuk. Maka, bersicepat Langit mengambil sling bag punya Darin. "Ayo aku antar balik ke hotel." Langit menyelipkan tangan di pinggang Darin, bersiap memapah.

Cerita Satu Minggu JakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang