Chapter 4🍂

260 56 3
                                    

"Zi lu mau pesen apa? Biar gue yang pesenin lu cari bangku buat kita duduk," tawar Arra tanpa menoleh ke Eayzi ia terus memandangi kantin yang mulai ramai.

"Terserah dehh" Perkataan Eayzi membuat Arra malas byk berbicara padanya, Arra lngsung pergi untuk memesan makanan.

Setelah menunggu beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan datang, Eayzi tidak komplain dengan makanan yang dipesan oleh Arra toh ia suka makan apa saja asal tidak pahit.

"Tumben Zi lu mau diajak ke kantin, ga bolos juga" Arra memecahkan keheningan setelah beberapa lama mereka makan tanpa suara.

"Jadi lu ga suka" Perkataan Eayzi membuat Arra tak menyangka, rasanya ingin membunuh Eayzi saat ini juga dengan memasukkan bakso nya kemulut Eayzi secara paksa bersamaan. Namun sayang baksonya sudah habis.

"Apa sih Zi, ga asik lu." Arra melanjutkan aktivitas selanjutnya meminum minuman yang ia pesan.

"Sorry, gue tau gue ga asik. Gue juga cape sama diri gue sendiri yang terlalu membosankan" Selera makan Eayzi hilang, dengan tatapan sendu ia hanya mengaduk ngaduk makanan nya. Topik pembicaraan ini sungguh memutar memori nya tentang sang Papa.

Uhukk uhukk..
Arra tersedat minuman yang ia minum saat mendengar perkataan Eayzi sungguh bukan itu maksud nya "Maafin gue Zi, ga gitu maksud gue" Arra kebingungan sendiri, ia benar benar merasa bersalah. Apalagi melihat ekspresi wajah Eayzi saat ini.

"Lu ga salah Ra, thanks udah jujur mungkin gue harus ngerubah sikap gue meski gue ga tau harus mulai dari mana" Eayzi tersenyum kecut menatap bakso nya yang ia makan tapi ia rasa tak pernah berkurang, entalah mungkin karena mood nya anjlok.

"Aduh Zi, maap bkn gitu maksud gue. Hmm gimana ya cara ngmng nya gue takut salah Sor.."

Tiba tiba saja muncul Devano pacar Eayzi yang lngsung memotong perkataan Arra yg belum selesai "Eayzi ikut gue bntar Eayza mau bicara sama lo"

"Bentar ya Ra, lu kalau mau ke kelas duluan aja entar gue nyusul" Eayzi tersenyum kepada Arra dan berjalan mendahului Devano.

"Dahh" Arra melambaikan tangan nya meski Eayzi tak lagi melihat nya. Bagi Arra Eayzi orang yang baik, dia cuek tapi bukan berarti tidak perduli buktinya Eayzi sering membantu Arra. Eayzi hanya tidak pandai mencairkan suasana menurut Arra suatu saat Eayzi pasti akan berubah.

Setelah berjalan beberapa menit rupanya Devano mengajak Eayzi ke ruangan OSIS, Eayzi bingung kenapa Eayza menemui nya di ruang OSIS kenapa tidak ditempat lain.

"Eh Eayzi sini dulu duduk," ajak Eayza.

"Lngsung aja ga usah basah basih." Eayzi berbica sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa ada orang lain disini, ternyata hanya ada Devano dan Eayza.

"Sorry Zi, Gue tau lu benci gue tap.."

"Bisa bicara ditempat lain," ujar Eayzi memotong perkataan Eayza, kemudian ia menoleh ke Devano "Dan Lo, Lo bisa tinggalin kami berdua dulu"

"Oh bicara disini aja si biar gue yg pergi, Za aku keluar dulu ya entar kalau urusan nya sudah selesai kamu butuh aku susul aja ak ke kantin, dahhh" Devano sebenarnya raga tersinggung dengan cara Eayzi mengusirnya, namun ia cukup mengerti sifat Eayzi jdi tak masalah lagi pula ia tahu ada beberapa hal private dari Eayza yang ga semua nya Devan harus tau.

"Iya Devan, dahh".

"Jadi" Entah apa hanya itu saja yang keluar dari mulut Eayzi.

"Zi lo bisa berubah ga, kayaknya papah udah mulai serius tentang masalah lu ini" Eayza menunduk seakan tak berani menatap kembaran nya itu.

Eayzi [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang