arrived in Jekardah

226 39 5
                                    

08 — arrived in Jekardah — Jakarta Jakarta!



Saudara? Tentu Langit punya. Sebelum menginjak tapak tilas ini Langit pernah memberitahu kepada si gadis ia ajak.


Cakrawala Sangkala—nama kakak Langit. Jarak usia mereka tidak terlalu begitu jauh hanya berbeda tiga tahun. Kerap sampai saat ini Langit masih intens berkomunikasi atau memberitahu perihal masalah yang ia hadapi, alias tidak segan berbagi cerita. Seperti kebanyakan saudara yang sejak kecil bersama, meski kadang kala kekesalan sesama saudara pasti tak terhindarkan.

Langit mengecek pesan yang diberikan Cakrawala, mas-nya itu bilang memakirkan kendaraan paling pinggir parkiran. Sambil menarik koper besar dan menggendong ransel besarnya, ia berjalan sembari sesekali menengok ke belakang mengawasi si gadis. Langit bernapas lega karena di cuaca yang tampak kelabu akibat awan-awan menyatu menjadi kesatuan mendung, ia dan Darin tidak harus butuh waktu lama mencari laki-laki yang tengah bersandar di badan mobil jeep.

"Akhirnya balik juga ke habitat."

Astaga. Langit baru saja memunculkan batang hidung sudah diberi sapaan tak mengenakan.

"Mas pikir margasatwa." Langit kesal, berlalu kepada gadis yang berdiam diri di belakangnya. "Gua bawa teman mas, namanya Darin."

"Oh, cewek? Mas pikir teman lo cowok."

Kepala kakaknya otomatis miring sedikit menatap rupawan si gadis, lirikan maut yang didapati Langit sungguh kurang sedap dipandang. Tapi sudah terlanjur Langit sengaja tidak memberi tahu identitas teman yang ia ajak.

"Saya Cakrawala, salam kenal."

"Darin, mas." Darin dengan sopan membalas jabatan tangan sebagai bentuk perkenalan.

"Ketemu aja cewek bening di kampung."

"Hust, apaan sih mas. Emang air, bening-bening," timpal Langit.

Kakak Langit membuat gerakan mengunci bibir di depan wajah Langit, kemudian berbalik kepada teman adiknya. "Maafin kata-kata saya."

"Eh?" Darin nampak bingung sendiri. "Ndak papa, mas."

"Sini tak bantu naikin ke mobil." Cakrawala mengambil koper Darin meletakan dalam bagasi mobil, tidak lupa juga turut membantu mengangkat koper Langit punya. Juga membantu membukakan pintu belakang untuk Darin.

Selesai semua, seatbelt telah terpasang, navigasijuga telah siap mengarahkan tujuan lokasi hotel inap Darin. Melajulah roda empat besar bergabung bersama hingar bingar sudut kota yang tidak akan pernah sepi. Sembari mengejar lampu hijau melewati rentetan bangunan.

"Recana di sini sampai tanggal berapa?"

Cakrawala memecah hening dalam mobil setelah dua hampir puluh menit hanya suara navigasi yang terdengar menuntun laju mereka, sekalian berbasa-basi sebab tak ada yang berupaya membangun suasana seperti di pinggir jalan yang dipenuhi gerobak keliling mereka lewati. Sedikit bingung pula mengapa Langit tidak berisik, biasanya suara gerutuan Langit ikut bersahut-sahutan bersama bising klakson menunggu hitungan rambu lalu lintas.

Seolah paham pertanyaan ditujukan kepadanya, Darin berinisiatif memajukan tubuh. "Sampai tanggal 17, mas."

"Betah-betah selama holiday. Kalau Kala nakalin kamu, ngadu aja ke saya."

Darin terkekeh melirik si pelaku yang disebutkan namanya. "Kala ndak nakal mas, paling aku yang takut banyak ngerepotin Kala."

"Tapi anak ini sering jahil, saya aja suka heran kalau dia punya temen perempuan yang akrab sama dia, soalnya jahilnya kadang ngga lihat gender. Sampai saya kaget sekarang Langit ajak teman ceweknya ikut."

Cerita Satu Minggu JakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang