09 - 1st and 2nd day in Jekardah - Ada yang sudah berani menunjukan luka.
"Mulutnya masih penuh tuh, jangan dipaksain masuk."
Gelak tawa Langit melihat Darin melahap seafood teppayanki dari kedai yang menjual makanan Jepang. Langit terdiam sesaat melihat saus di sudut bibir Darin, ia risih namun tangannya hanya berhenti di udara, memberitahukan saja kepada Darin dengan menunjuk sudut bibirnya sendiri.
Pasar santa, food street di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Tadinya Langit ingin membawa ke Blok-M tapi ia urungkan karena Darin lagi tidak ingin diajak makan daging, saat Langit memberitahu perihal makanan gultik yang terkenal di daerah sana. Maka Langit mengajak Darin menjelajahi kuliner dengan berbagai macam makanan di Pasar Santa saja. Stand stand di sini mengeluarkan aroma makanan yang berhasil meningkatkan nafsu makan Darin. Walau Darin harus sabar mengantri menunggu meja kosong yang hanya tersedia hitungan jari.
Empat makanan mereka telah cicipi, begitu sengaja Langit membeli satu porsi untuk berdua agar mencicipi berbagai jajanan terjual. Cukup murah hati bukan Langit ingin Darin dapat menjajal semua yang ada.
"Setau aku orang Indonesia lebih suka minuman manis, aku mau coba minuman aneka rasa yang dijual di sini."
Langit menunduk sedikit supaya lebih jelas mendengar kata per kata yang Darin lempar kepadanya. "Apa yang ngga lo suka?"
"Hm?" Kening Darin mengerut bingung.
"Kan katanya mau coba, jadi gua tanya dulu yang lo ngga suka apa. Biar gua ngga salah milih kafe."
"Ow." Darin mengangguk paham. "Aku belum ada yang ndak disuka. So it's up to you where else you want to take us to get a drink."
Langit mengeratkan genggaman tangan Darin mencari kedai minuman. Walau di kedai-kedai mereka datangi tentunya terdapat minuman yang dijual, sedari tadi Langit pesan air putih sebagai teman makan mereka berdua. Berhubung di sini rata-rata menjual kopi. Langit akhirnya membawa Darin keluar, mencari kafe atau tempat makan yang bisa mereka nikmati tanpa harus berdiri lagi.
Pilihannya jatuh tidak jauh dari pasar modern santa, tepatnya persis di sebrang. Meski menu utama menjual kopi tetapi Langit yang pernah ke kafe ini, maka sudah tahu beberapa minuman serta makanan yang dijual.
Menunggu Langit tengah memesan. Darin melihat-lihat suasana cozy dari warna putih dan hijau mint. Selanjutnya Langit mengajaknya ke salah satu meja yang Darin perhatikan sedari tadi, lagi-lagi Darin dibuat kejut akan Langit yang melepaskan jaket memberikan kepadanya hingga Darin dilanda bingung.
"Taruh di atas paha biar ketutupan dikit."
"Rok ku ndak terlalu pendek."
"Pakai aja." Langit duduk di sebelah Darin, melihat beberapa pengunjung membawa anak kecil, juga sebagian mencari spot foto dalam kafe. Langit segera beralih kepada Darin sudah meneguk minuman pesanan usai dihidangkan pelayan.
Darin menyengir malu. "Makasih sudah aku ajak makan bareng."
"Anytime Dar, kalau lagi pengen sesuatu bilang lagi aja kayak tadi."
Darin mengangguk pelan netranya melirik lengan Langit. Berlalu menunjuk lengan Langit yang tanpa penutup lagi.
"Ada yang berani buka stoking tangan."
Langit melepaskan sedotan usai menyeruput minuman. "Semua berkat bantuan mba Darin, keluarga gua juga jadi tau, untungnya gua diberi kesadaran."
"Oh." Darin menyudahi acara menyereput minuman lychee tea yang bikin lidahnya penasaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Satu Minggu Jakarta
Teen FictionRomansa metropolitan// Langit tidak selalu menampakan cerahnya, terkadang langit memunculkan awan mendung menemani manusia penuh harap. Seperti Langit Sangkala, ia menunjukan kalau laki-laki tidak selalu kuat, sebagai laki-laki juga bisa rapuh, juga...