(COMPLETED)
🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞
Jihoon membenci rintikan air.
rintikan air itu membuatnya kehilangan dunianya, kakek yang menjaganya dari lahir.
orang tua? hahaha jangan membuatnya mendengar pertanyaan itu. Wajah mereka bahkan ia tidak tahu.
hidup seoran...
Seringaiannya bagai iblis. Memainkan sabuk nya berulang kali, menimbulkan suara yang memilukan, Jihoon bergetar hebat didepannya.
Pikirannya hanya satu saat ini.
Menghukum anaknya.
Agar pemuda itu menyadari perbuatannya. Bahkan dengan begini saja tidak akan mengurangi dosa itu sendiri.
"berbalik dan berlututlah dilantai." ujarnya datar.
Jihoon menurutinya, membuatnya tersenyum kecil. "letakkan kepalamu diatas kasur dengan tangan merentang kedepan."
Daniel bisa lihat jika Jihoon ketakutan, ini juga bukan keinginannya. Tapi, apa yang terjadi pada Jihoon, ini jelas kesalahan besar dalam agamanya.
Menghela nafasnya kasar, Daniel membuka kemeja putihnya lalu ia lempar diatas sofa tunggal yang sebelumnya ia duduki.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Menetap lekat pada tubuh Jihoon yang membelakanginya. Sabuknya kembali ia gulung, menghampiri Jihoon. "belajarlah memahami kesalahan besar ini, Kang Jihoon."
"dengan menghukum mu seperti ini....apa kau akan berubah sayang?" Daniel mengusap pipi Jihoon yang sudah basah akan air mata.
Tangan besarnya dengan senantiasa menghapus, menampikkan senyum malaikatnya pada Jihoon yang kini ketakutakan menatapnya.
"hiks a-apa yang akan daddy lakukkan padaku?"
Daniel tidak menjawab, ia berdiri dari jongkoknya, lalu kembali berdiri dibelakang Jihoon yang bertumpu dilantai.
"daddy mengharapkanmu berubah. Apa yang daddy lakukan ini karena daddy menyayangimu sayang. Pertahankan rasa sakitnya, jika kau tidak sanggup..."
"....memohonlah pada daddy."
Jtazzhh!!!
"AKH!!!!"
"berhitunglah," ujar Daniel acuh melihat Jihoon yang memekik.
"hiks.."
"lakukan Jihoon!!"
Jihoon merasakan panas serta perih disaat cambukan itu menyentuh kulitnya, tangannya yang merentang kedepan dengan kuat meremat sprai kasur hingga buku jarinya memutih.
Menoleh kebelakang, Daniel menunggu sambil menggulung kembali sabuknya.
Jihoon ingin memohon pada Daniel untuk menghentikannya, tapi ia sadar akan dosanya. Mencoba untuk menerima, Jihoon memilih menuruti apapun yang Daniel perintahkan.
Dengan tubuhnya yang menggigil, Jihoon berusaha menegakkan tubuh, jarinya kembali meremat sprai melampiaskan sakitnya. "sa-satu."
Jtazzhh!!!
"mmpph! Du-dua." Jihoon menahan isakannya akibat sakit yang ia rasakan, menggeleng kecil. Memang tidak terlalu kuat, tapi jika sudah menyentuh kulit yang tidak terlapiskan rasanya sangatlah melebihi apapun sampai-sampai bisa mati rasa.