14 | send me help, i want to live

437 60 4
                                    

[ tw cw // mention self harm, suicide, mental illness; major character death ]

//

hyunjin bosan. tapi sebenarnya, di sini seungmin yang lebih bosan.

denting jarum jam iringi keheningan, jadi alunan di antara bibir-bibir yang bungkam. seungmin beberapa detik lalu baru saja ungkap sebuah kalimat, yang mana buat kepala hyunjin memanas seperti ingin pecah dan luapkan lava emosinya.

apa tadi katanya? mau mati?

bukan sekali dua kali seungmin putuskan untuk bicara kalimat sinting seperti itu. ia pikir dengan mati semua masalah hidupnya akan selesai dengan sendirinya dan ia akan merasa tenang di kehidupan selanjutnya. hyunjin berulang kali sebut gagasan itu gila.

hyunjin mengerti bahwa seungmin sudah banyak mengalami kerasnya kehidupan. mentalnya tidak stabil dan itu sebabnya kenapa pemikiran-pemikiran tolol begitu sering kali mampir di benaknya. hyunjin bisa memberitahu kalau di balik lengan kemeja yang tutupi sepanjang tangan seungmin, ada banyak sekali goresan akibat percobaan pemutusan nadi yang amatir (selalu berakhir dengan hyunjin yang dapati air bak mandi jadi semerah mawar, kemudian ia dengan panik bawa seungmin ke rumah sakit.) itu menjadi salah satu dari seribu cara yang seungmin gunakan untuk akhiri jiwanya.

namun bagaimanapun juga, sebanyak apa pun hyunjin bilang bahwa ia bosan dan lelah, di hatinya ia tetap tidak mau seungmin mati. hyunjin terlampau cintai pemuda itu dan ia bahkan tidak bisa mengira akan bagaimana hidupnya tanpa seungmin.

"hyunjin. kali ini ... biarin gue ya?" suara seungmin serak sebab tahan isak di ujung tenggorokan. "gue capek. capek banget."

bunyi detak jam dinding kembali jadi melodi. tangan hangat hyunjin raih jari jemari kurus seungmin yang sedingin salju. bawa mereka ke dalam genggaman tulus penuh cinta. hyunjin mengusapnya pelan, takut sekali berikan perih di atas luka yang hampir mengering. bola mata hyunjin kunci sepasang yang lain, tampar seungmin dengan fakta bahwa ia harus bertahan lebih lama lagi dengan alibi kuat bahwa hyunjin begitu membutuhkannya.

"seungmin, mungkin lo emang punya banyak alasan buat mati. tapi, apa gak ada satu aja alasan buat bertahan?" kata hyunjin, tangisnya hampir naik. "gue gitu? bisa kan, lo pakai gue buat alasan lo bertahan? gue butuh lo, seung."

di luar hujan teramat deras. dingin menyeruak masuk lewat sela-sela jendela yang berembun. tapi seungmin justru hangat di bawah hyunjin. di bawah ciuman dan pelukan yang pemuda itu tawarkan secara tulus dan cuma-cuma. mereka menangis dalam pagutan, remat pelan satu sama lain untuk buktikan bahwa dunia akan baik-baik saja asalkan mereka percaya bahwa takdir baik pastilah ada.

//

jam dua belas malam seungmin terbangun, tapi hyunjin tidak di sampingnya. kamarnya terang sebab lampu tak dimatikan seperti hari biasanya, (mungkin hyunjin lupa untuk mematikannya.) jendela yang sedikit tersingkap beri pemandangan hujan telah berhenti. detak jarum jam sapa pasang rungunya. seungmin menghela napas. kini ia sendirian lagi.

seungmin benci terbangun di malam hari. pikirannya berantakan, suara-suara menyakitkan kembali hantam gendang telinga. tangan yang gemetar coba raih ponsel yang sembunyi di balik bantal, tekan nomor yang dihapal secara brutal. seungmin ingin dengar suara hyunjin, karena setidaknya, suara beratnya membuat seungmin merasa aman.

ponsel itu berdengung, tapi tak kunjung terhubung. sementara itu, di luar pintu kamar, seungmin bisa dengar ibunya berteriak bagai orang kesetanan. bantingan-bantingan lain menyusul seraya nama seungmin dilantangkan. di sini seungmin menggigit bibir, dengan dengung ponsel yang menyala. dalam hati ia merapalkan hyunjin untuk segera menjawab panggilan, tapi ke mana pemuda itu?

RAIN OF CRYING HEARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang