011 — sure in heart purpose — Kalau sudah tau, bisa diam tidak?
Pukul setengah sembilan pagi Darin sampai di penginapan. sedangkan Langit segera bergegas pulang setelah mengantarkan si gadis. Langit melesat cepat menuju rumah, perlu bertemu air untuk mandi pagi. Ditemani musik yang menemani perjalanan ketika melintasi Keramat Pulo. Tidak jauh di depan beberapa kendaraan berhenti mendadak di tengah jalan.
Langit dapat melihat dua mobil polisi dan satu kendaraan hitam Toyota Land Cruiser menjadi pusat perhatian. Langit pikir ada pejabat penting mengingat mobil itu beharga milyaran rupiah, namun rupanya di jam-jam manusia sudah memulai aktifitas, jam orang-orang berangkat kerja malah terjadi kecelakaan penyebab utama kemacetan ini berlangsung.Langit memincing pada kaca memastikan ke belakang bahwa tidak salah melihat. Pria yang sedang menepi kemudian memasuki kendaraan hitam itu. Ia kenali wajahnya.
Masa lalu dari masa lalunya.
"Awan."
Memafkan memang mudah hanya melalui ucapan lewat mulut saja, tapi tidak semua orang dapat melakukannya. Langit pula telah mendapat alasan selalu ia cari-cari.
Namun melupakan? Tidak seperti membalikan telapak tangan. Langit merasa hatinya belum utuh seperti semula. Bukan perkara mudah mempertahankan hubungan lima tahun ketika kekasihnya dulu juga menginginkan tujuan yang sama.
Sayang masih disayangkan Langit, derap kisah dijalani musnah begitu saja karena satu orang.
Setelah sampai di rumah yang tadinya ingin mengguyur tubuh dengan air dingin Langit lebih memilih berlamun di kamar. Pandangannya kosong, mengingat kejadian lampu yang ternyata masih ada terselip amarah ia simpan. Tangan Langit menggenggam ponsel menatap salah satu folder galeri. Senyuman yang kerap membuatnya lagi-lagi jatuh hati. Kemudian Langit menggeleng kecil. Tidak ingin terus menerus berada dalam lembaran buku-buku di halaman yang merana.
Nama Darin jadi terbesit ketika masih memandangi foto pemilik senyum Langit pandang. Rasanya jadi kurang nyaman bila membandingkan seseorang.
°°°
Darin menghampiri Langit di loby hotel. Kegiatan penuh gadis ini lakukan sama seperti di Semarang menghampiri Langit yang sabar menunggu.
"Ayo, ke atas aja."
"Di sini aja, Dar."
"Aku perlu keringin rambut, kamu datangnya terlalu cepat rambutku masih basah. Ayo ikut ke kamar."
"Ngga papa, Dar."
Pemaksaan dalam membujuk Langit masih terjadi, hingga Langit menurut kali ini. Mengikuti langkah Darin naik lift sampai tiba di kamar inap si gadis.
"Katanya mau berangkat sore?" Kata Darin memberikan jalan masuk kepada Langit usai membuka kunci pintu.
"Mau minta ditemenin ke toko buku."
Langit terduduk di sofa tunggal yang menghadap padatnya bangunan, bola matanya melirik Darin mengeluarkan satu setel baju. "Dar, lo pernah bilang pindahan dari Jerman. Pindah sama keluarga?"
Kegiatan melipir ke bilik kamar mandi terhenti sebab Darin menoleh pada lawan bicara. "Kenapa?"
Selanjutnya terdengar bising hairdryer dari arah tempat Darin berada. Pintu itu tidak ditutup Langit jadi dapat menghampiri dan bersandar di kusen pintu. "Nanya aja. Lo ngga ada kasih kabar gitu masih lama di Jakarta?" Selama mengajak Darin jalan-jalan tak pernah Langit memergoki Darin mengecek ponsel. Atau sibuk mengetik pada aplikasi pesan bahkan menelpon seseorang. Atau mungkin si gadis melakukannya ketika selesai keluar dengannya. Karena ponsel Darin keluar dari tas jika sedang mengabadikan momen saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Satu Minggu Jakarta
Teen FictionRomansa metropolitan// Langit tidak selalu menampakan cerahnya, terkadang langit memunculkan awan mendung menemani manusia penuh harap. Seperti Langit Sangkala, ia menunjukan kalau laki-laki tidak selalu kuat, sebagai laki-laki juga bisa rapuh, juga...