;typical

214 50 13
                                    

"kami pulang!" yangyang dan jisung berteriak ketika masuk ke dalam kedai. untung saja sedang sepi pengunjung sehingga tidak terlalu memalukan bagi mereka untuk berteriak seperti itu.

xiaojun dan jaemin yang memang sedang membantu bibi kedai tersenyum melihat kedatangan keempatnya, bukan maksudnya mereka bosan karena sebenarnya di sini banyak yang bisa mereka lakukan hingga pelajari tapi sungguh tanpa yangyang, jisung dan keributan hwall rasanya sepi sekali.

"kak jaemin! kak dejun! kalian bisa memasak?!" jisung menatap takjub mereka berdua

keduanya tersenyum canggung, sudah dibilang bukan bahwa mereka hidup dirancang untuk menjadi sempurna?

di sana hendery hanya berdiri memerhatikan masih menggendong tas sekolahnya, "tunggu, kalian berdua tidak sekolah?" merasa bingung, hendery akhirnya bertanya.

"tidak! dejun mengajakku bolos dan ya, di sinilah kami, hehehe." yang dibalas pelototan dari dejun karena malu bahwa otak pembolosan ini berasal darinya.

yang lain yang mendengarkan hanya mengangguk, termasuk bibi kedai. "tidak apa, terkadang kalian membutuhkan istirahat, apalagi anak-anak seperti kalian."

hati jaemin dan xiaojun menghangat, orangtua mereka tidak pernah berkata seperti itu, "bibi, bolehkah aku memelukmu?" bibi kedai tidak berbicara apa pun selain menyimpan pisau yang awalnya dipakai untuk memotong bawang lalu meregangkan kedua tangannya, mempersilahkan jaemin memeluknya.

xiaojun melihat itu hanya tersenyum hangat, ikut senang melihat temannya bahagia. "dejun?" kepalanya menoleh ke arah hendery, "kau juga butuh pelukan?"

"ya tuhan kak hendery."

"gombal sekali."

"menjijikan?"

yang dibalas oleh sorakan dari yangyang, jisung dan hwall. sedangkan xiaojun rasanya ingin menguburkan diri saja, wajahnya memanas, malu.

jaemin, di pelukan bibi kedai hanya tertawa kecil melihat wajah temannya memerah karena malu.

"oh, sudah jam segini, ayo mengajar!" seruan moonbin memecahkan suasana dan membuat keempat lelaki yang masih memakai seragam buru-buru ke rumahnya masing-masing untuk mengganti seragam.

jaemin yang mendengar itu bingung, "mengajar? maksudnya?"

"lihat saja nanti," bukannya menjawab pertanyaannya, xiaojun malah menjawab seperti itu.

═════════════════

"kak dejun! itu apa yang kak dejun bawa?" salah satu anak di sana menunjuk tas biola yang xiaojun bawa. memang ia membawa biolanya ke sini karena ia sungguh tidak bisa meninggalkan biolanya sendirian, apalagi di tempat banyak terdapat orang asing.

xiaojun tersenyum dan berjongkok, menyetarakan tingginya dengan anak tersebut, "ini adalah salah satu instrumen musik, namanya biola."

anak itu melihatnya antusias, "oh kak hendery juga bisa bermain musik!" xiaojun mengernyit dan kepalanya ia tolehkan ke pada hendery dan kembali menatap anak kecil di sana, "oh ya? yang seperti apa bentuknya?"

"yang besar! tidak bisa dibawa kemana-mana huhu." oke, xiaojun bisa menyimpulkan bahwa itu adalah piano, tapi ia tidak pernah mengira lelaki sepertinya bisa memainkan piano.

xiaojun merespon dengan senyuman, "itu namanya piano, ayo sekarang kita kembali bergabung dengan yang lain dan belajar, ya." anak itu mengangguk dan pergi meninggalkan xiaojun.

ia lantas menoleh ke arah hendery yang memang kelihatannya sedang membetulkan ayunan yang sengaja dibuat di sana, melihat tidak ada siapa pun, xiaojun menghampirinya.

"ada apa dengan ayunan ini?" ia berbasa-basi. masih fokus dengan pekerjaannya, hendery menjawab, "salah satu talinya copot, dan aku harus memasukannya kembali."

xioajun mengangguk-angguk mendengarnya, "kudengar, kau bisa memainkan piano." xiaojun berkata seraya duduk di bangku panjang di sana dan mengayun-ayunkan kakinya.

mendengar itu, hendery menghentikan kegiatannya dan tersenyum menatap xiaojun, "aku memang bisa. omong-omong yangyang, jisung, hyunjoon dan kak moonbin semuanya menyukai musih jadi aku iseng mempelajarinya secara otodidak."

"aku tahu mereka suka sekali dengan musik." hendery mengernyit, tahu dari mana lelaki ini?

tidak mendapat respon, xiaojun melakukan kontak mata dengan hendery, dan mendapat sinyal kebingungan dari pria di depannya, "kau pikir pertama kali kita bertemu kalian sedang apa? bernyanyi sambil hujan-hujanan 'kan?"

mendapat jawaban dari pertanyaan di otaknya, hendery akhirnya ingat. benar juga apa yang dikatakan xiaojun.

hendery lalu duduk di sebelah xiaojun dan menatap ke depan, ke arah teman-temannya yang sedang mengajari anak-anak lain.

oh iya, ketika pertama kali jaemin ke sini, ia senang sekali dan hari ini ia paling semangat mengajarkan anak-anak lain.

"kau juga bisa bermain biola kan? ayo sekali-kali melakukan kolaborasi." dan xiaojun mengangguk senang.

"umm, apakah kau tahu bahwa yangyang menyukai jaemin?" hendery dengan cepat menengok ke arahnya dan mengangguk, "iya, dia sudah bilang kepada kami, dan kau bisa lihat di sana bagaimana tatapan memujanya ke pada jaemin."

dan benar, yangyang sedang menatap jaemin yang sedang mengajarkan perkalian kepada anak-anak dengan intens, "jaemin," xiaojun menjeda, "dia sudah mempunyai tunangan."

hendery sebenarnya kaget karena usia mereka masih muda tapi sudah mempunyai tunangan tapi ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya, "kuharap yangyang memendam perasaannya, karena ketika lulus jaemin akan langsung menikah."

"apa?" dengan lirih hendery menjawab, bukan, ia tidak menyukai jaemin tapi ada kemungkinan bahwa xiaojun juga akan menikah ketika ia lulus sekolah 'kan?

"maksudku, apakah orang seperti kalian akan langsung menikah ketika lulus sekolah?" xiaojun mengangguk, "rata-rata iya, tapi beberapa tidak dan menunggu hingga umurnya cukup matang."

hendery dengan perlahan menatap wajah xiaojun dari samping, "berarti kau juga?" xiaojun tidak menjawab, ia hanya terdiam menatap ke depan.

tbc.

sincerely, jenosette.
²

⁸ ⁰⁹ ²⁰

kaleidoskopTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang