Bab 1

13 5 0
                                    

"Hyun Sunnie!"

Hyun sun menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang meneriaki namanya. Sedetik kemudian, Hyun Sun memutar matanya saat mengetahui pelakunya.

"Ya! Choi Hyun Sun! Apa kau tidak mendengar aku memanggil mu berulang kali?" Hyun Sun menghela napas panjang, sumpah ia tidak mengerti mengapa ia harus berteman dengan jenis seperti ini.

"Ya! Shin Hye Mi! Kau gila apa? Apa kau pikir ini hutan, sehingga kau berteriak tidak jelas, ha?" Ucap Hyun Sun dengan nada ngegas nya.

"Hei! Itu karena kau meninggalkan aku di pakiran. Dan ya, aku pikir ini memang hutan. Terlalu banyak monyet disini." Ujar Hye Mi dengan nada yang tidak kalah ngegas nya.

Hyun Sun mendelik mendengar ucapan Hye Mi. Sebelum kemudian, ia menarik napas dalam. Sadar jika menghadapi temannya satu ini harus dengan kesabaran yang tinggi. Hye Mi tipe manusia yang bar-bar. Meskipun, ia dan Hye Mi satu tipe, namun tingkat kebar-baran Hye Mi lebih tinggi ketimbang dirinya.

"Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat dengamu." Selepas mengucapkannya, Hyun Sun langsung meninggalkan Hye Mi yang hanya bisa mendengus kesal karena ditinggal lagi. Ahh, sepertinya takdirnya sekali, sering ditinggal. Batin Hye Mi.

Hyun Sun melanjutkan jalannya menuju kelas. Namun lagi-lagi ia berhenti ketika seseorang memanggilnya.

"Woii! Choi Hyun Sun!" Hyun Sun mendelik saat 5 orang laki-laki menuju ke arahnya.

"Apa?" Tanya Hyun Sun ketus.

Ten, salah satu dari laki-laki itu hanya mengangkat bibirnya sedikit mendengar respon ketus dari gadis mungil di hadapannya.

"Ya elah. Santai dong. Aku cuman menyapa saja." Ujar Lucas dengan senyum mengejek. Hyun Sun yang mendengar itu hanya menatap sinis ke arah Lucas. Entah kenapa setiap kali ia bertemu dengan Lucas, hipertensi nya selalu kambuh. Ada-ada saja tingkah Lucas yang membuatnya kesal.

"Sudahlah. Kau ini selalu suka membuat Hyun Sun kesal." Ten menggelengkan kepalanya, ia tidak memahami kenapa sahabatnya itu suka sekali menganggu Hyun Sun.

"Aku tidak menggangu nya. Benarkan Hyun Sun?" Bantah Lucas sembari menatap Hyun Sun dengan tatapan menjengkelkan.

Hyun Sun mengehembuskan naoas gusar. Ia benar-benar ingin menampol muka Lucas saat ini juga. "Ya, benar sekali. Kau tidak pernah mengganggu ku sampai-sampai membuat hatiku sangat indah." Sarkas Hyun Sun.

"Good girl!" Ucap Lucas yang kemudian mengacak pelan rambut Hyun Sun sebelum berjalan menjauhi Hyun Sun yang ternganga diikuti ke empat temannya.

Hyun Sun menatap kepergian Lucas dan teman-temannya, dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa ada spesies seperti mereka di sekolah ini? Sepertinya dunia benar-benar akan berakhir.

✨✨✨

Di suatu club terkenal di korea...

"Kau tidak oergi ke sekolah?" Tanya seorang laki-laki sembari meneguk minumannya.

"Sekolah? Bahkan aku tidak perlu sekolah untuk mendapatkan semuanya." Jawab seorang laki-laki dengan rambut blonde nya.

"Ya!, Na Jaemin, sepertinya kita akan mendapatkan masalah sekarang. Arah jam sembilan." Mendangar itu, Jaemin sontak langsung melihat ke arah yang diberitahukan Renjun.

Damn it! Upat Jaemin dalam hati. Sepertinya rencananya untuk bolos hari ini akan gagal. Ia harus mencari cara agar tidak tertangkap.

Renjun yang paham akan apa yang dipikirkan oleh temannya itu, langsung berdiri. Jaemin menatap Renjun bingung saat temannya itu berdiri. Apa yang dia lakukan? Apa dia ada rencana? Jaemin menerka jawabannya.

Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Jaemin, Renjun menjawab, "Aku sudah menghubungi chenle dan jisung, sekarang mereka ada diluar menunggu kita. Kita lewat pintu belakang. Ayo cepat!" Jaemin langsung mengikuti Renjun yang sudah lebih dulu menuju pintu belakang. Renjun memang sangat diandalkan dalam hal seperti ini.

Berhasil. Kini mereka berempat berhasil meloloskan diri. Jaemin menutup matanya rapat, kepalanya pusing. Entah berapa banyak yang ia minum tadi sehingga membuat kepalanya sakit.

Jisung yang melihat Jaemin yang tampak mulai mabuk, langsung melempar obat pereda mabuk. Ia tidak mengerti kenapa dua temanya itu memilih ke club pagi-pagi seperti ini. Namun, sedetik kemudia ia hanya menganggkat bahunya tidak peduli.

Renjun menatap Jaemin yang sudah tertidur bahkan tidak terganggu saat Jisung melemparkannya obat. Ahh, Renjun menghela napas panjang. Lantas diambilnya obat itu, dan meminumnya. Ia sangat butuh itu, kepalanya sangat sakit sekarang. Sepertinya ia terlalu banyak minum tadi. Tak lama kemudian Renjun menyusul Jaemin ke alam mimpi.

"Merepotkan saja." Ucap Chenle memecahkan kesunyian. Ia melirik sekilas ke arah Jaemin dan Renjun yang tertidur di jok belakang. Jujur saja, Saat mendengar bahwa keduanya di Club dan hampir tertangkap dengan pengawal keluarga Na, Rasanya Chenle ingin menenggelamkan keduanya ke laut. Sudah tahu, saat ini posisi mereka bahaya, malah nekat ke Club. Jika kedua orang tua nya tahu kalau Chenle yang mengetahui dirinya bolos demi menjemput kedua temannya sudah bisa dipastika nyawanya terancam.

"Bagaimana ini? Mau kita apakan mereka? Sebentar lagi ulangan matematika akan mulai. Apa kita bolos saja?" Tanya Jisung, sekali-kali melirik jam tangannya.

"Bolos? Aku tidak ingin di gantung oleh Ibu ku. Kita bawa saja mereka ke sekolah." Ujar Chenle dengan nada santai.

"Kau serius? Tidak masalahkah?" Jisung menatap Chenle terkejut yang hanya dibalas smirk oleh Chenle.

Enak saja. Ia tidak ingin mendapat masalah baru, biarkan saja mereka tertidur di dalam mobil. Biar tahu rasa. Chenle benar-benar ingin memberikan keduanya pelajaran sedikit karena sudah membuatnya menggikari janjinya dengan ibu nya. Nasib. Nasib.

✨✨✨

-Happy Reading-

Maaf ya kalau ada typo, jangan lupa buat comment and vote.

See you,

VS.❤️❤️

Remember Me: The beginning of storyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang