Hari ini kuliah terasa tak bersemangat, pikiranku hanya tertuju tentang perkonpirasian, dimana sekarang eyang beserta om Panji dan tante Galuh sedang pergi ke Jakarta, membahas entah apa aku tak tahu, tetapi yang kutahu lamaran keluarga mas Danar itu pasti akan di terima oleh keluarga ku.
[Yang nanti malam aku ke Jogja, kamu mau di bawain apa?]
Pesan masuk dari Rio kekasihku, yang seperti biasanya setiap sabtu malam minggu atau hari minggu pagi kami akan bertemu, dan untuk tempat jika tidak dirinya kesini mengunjungi ku di Jogja, atau diriku yang datang menemui nya di Solo.
[Nggak usah bawa apa-apa yang, kamu aja cukup]
Bukan gombal, tetapi aku kali ini butuh dirinya, hubungan kami yang sudah hampir dua tahun, dan tanpa ada masalah, nantinya harus aku akhiri, rasanya benar-benar tak sanggup.
Di pukul dua siang, setelah sholat dhuhur dan makan siang, segera ku jalankan motor matik miliki menuju apartemen yang tak begitu jauh dari kampus, apartemen milik kakak iparku, yang sebelumnya di sewakan setelah dirinya pindah ke Jakarta, dan kali ini kutempati setelah aku dua tahun tinggal di rumah om Panji.
Betapa kagetnya aku ketika membuka pintu, mas Danar sudah tidur di atas sofa depan televisi dengan layar televisi yang menyalah dan mas Danar yang tidur pulas.
"Kordes, bangun lu"
Kucoba untuk biasa saja, jika aku jengkel sering memanggilnya kordes, dan tak lagi aku kamu melainkan lu gue, yang mana kordes dalam bahasa anak muda dalam bercanda berarti korak ndeso.
"Apa sih ndel"
Hanya menggeliat kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kiri yang membelakangi layar televisi.
"Mas, kamu ngapain kesini?"
"Mau pulang males nggak ada orang"
Seketika aku teringat jika semuanya memang sedang berada di Jakarta, dan itu membahas tentang kami yaitu aku dan mas Danar.
"Mas aku nggak mau kawin sama lu"
"Sama, bayangin aja aneh ndel"
Kali ini kurasa jawaban dari dalam hatinya, karena dirinya yang masih dengan mata tertutup dan kesadaran nya belum terkumpul sempurna.
"Makanya ayo kita tolak aja"
Mas Danar seketika terbangun dan duduk menatapku dengan mata yang memerah khas baru terbangun dari tidur.
"Dosa dan neraka ndel taruhannya"
Selalu saja membahas dosa, neraka, pahala, dan surga jika menyangkut hal tentang melawan orang tua.
"Entar lu tobat nasuha mas, mohon ampun sama Allah, sama mama, terus senengin hati mama ajak liburan, umroh, belanja, beres deh"
Bukan menjawab ku mas Danar lebih memilih beranjak menuju kamar mandi.
Sedangkan diriku memilih menuju kamarku, mengganti bajuku dan kembali keluar kamar untuk bersiap-siap memasak seperti sabtu-sabtu malam biasanya ketika Rio datang kesini yang selalu ingin makan masakan ku.
"Ndel endel"
"Apa?"
"Aku kok jadi bingung ya"
Aku yang sedang di dapur mengupas bawang serta membersihkan bahan-bahan yang akan kuolah, mas Danar kembali mendekati ku mengajaku mengobrol.
"Aku mesti ngomong apa ya ke Rima, kalau kita beneran di nikahkan"
"Nah makanya itu"
Kami terdiam lama, aku pun melanjutkan aktivitas ku untuk memasak makan malam, sebelum Rio tiba disini.
"Rio mau datang?"
Aku hanya mengangguk, begitu pun mas Danar yang tak lagi bersuara lebih untuk membantu ku dengan membersihkan ayam yang telah ku rendam air, karena membeku di dalam freezer.
Dahulu mungkin akan biasa aja, akan tetapi kedepannya nanti akan menjadi sangat aneh jika hubungan yang di paksakan oleh orang tua kami ini tetap terlaksana.
Memasak di dapur kurang lebih dua jam telah selesai, mas Danar lebih dulu membersihkan badannya di kamar mandi, dan setelah nya baru diriku yang berganti mandi sore.
Setelah mandi dan sholat, bercengkrama seperti biasanya, mas Danar yang hobi menyuruh ku ini itu, mulai menikmati masakan ku terlebih dahulu di ruang televisi, dan aku yang memang sudah terdoktrin menjadi adik yang penurut, melayani nya mulai mengambil kan makanan serta minum untuk nya.
"Ndel, nanti aku tidur sini ya, tapi habis magrib aku mau kencan dulu sama Rima"
Aku sudah hafal, bukan karena kami yang akan di jodohkan akan tetapi sikap itu telah lama di lakukan oleh mas Danar yang seolah dirinya adalah kakak yang ingin menjaga adiknya, pasalnya kadang kala Rio menginap disini meskipun tidur di sofa akan tetapi mas Danar tetap lah seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya.
"Rio nginap di tempat teman nya kok"
Bukan menjawab pernyataan ku, akan tetapi mas Danar lebih terbahak-bahak, karena aku memang berhasil menebak apa yang di pikirkan nya.
"Ndel, ceritain kalian kalau kencan berduaan gitu ngapain?"
"Rahasia"
Sebenarnya aku pun juga penasaran bagaimana gaya pacaran mas Danar dengan para kekasih nya, karena melihat karakter mas Danar yang sok jaim, sok dingin dan bergaya sok ganteng itu ketika bersama para wanita di luar sana akan tetapi berbeda jika sudah bersama kami yaitu keluarga dekat.
"Mas Danar dulu deh yang cerita gimana pacaran sama mbak Rima?, Nanti Eci ceritain"
Lanjutku yang berbalik bertanya pada mas Danar bagaimana dirinya selama ini ketika berpacaran.
"Ya gitu makan, jalan"
Jawaban yang kurang jelas, karena bukan itu yang kumaksud kan , dan juga bukan itu pula yang dia tanyakan padaku, apalagi melihat mas Danar yang terlihat membayangkan dirinya ketika berkencan dan tertawa sendiri.
"Yang spesifik mas"
"Kepo banget sih"
"La kamu juga kepo tadi"
"Entar kamu kepingin lagi, Rio mah kagak mungkin bisa kayak mas"
Resek benar, bukan menjawab ku tetapi lebih membuat ku penasaran, mungkinkah yang di maksud mas Danar dengan menyebutkan aku kepingin, dirinya sudah dalam tahap pacaran bebas.
"Sudah pernah making love?"
Tokk
"Aduh, sakit bego"
"Mulutnya ngatain orang bego"
"Sorry Ndes"
Aku terkekeh sendiri karena keceplosan berkata kasar kepada orang yang lebih tua dariku.
"Pikiranmu sudah dua satu plus ya ndel, bahaya kamu ini, jangan-jangan pacaran mu gitu ya"
"Enak aja, masih perawan ini ya, bibir doang yang udah nggak perawan"
Mas Danar terbahak-bahak mendengar ku yang menjawab seperti biasanya selalu keceplosan, padahal aku tadi tak ingin menceritakan bagaimana aku berpacaran selama ini, tetapi ketika aku mengelak tuduhan nya, aku lebih keceplosan bercerita jika aku sudah pernah berciuman.
"Wah endel sudah cipokan"
Selalu menggodaku dan tawa mengejek itu semakin keras terdengar, membuat ku semakin malu sendiri.
"Palingan kamu lebih dari itu kan Ndes?"
"Perjaka semua ya seluruh tubuh ku"
"Pret, aku pernah lihat leher mu merah-merah, waktu aku masih tinggal di rumah"
"Kapan?"
"Dulu, waktu pacarmu yang mahasiswa MIPA"
Mendengar jawaban ku yang sedikit ngegas, mas Danar kembali terbahak-bahak, memang tak ada malunya dirinya.
"Oh yang itu"
"Iya, yang dada nya gede itu loh anaknya"
Mas Danar sampai tersedak ketika kembali mendengar penjelasan ku.
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)
Roman d'amourMenikah dengan seseorang yang sejak kecil sudah mengenal diri kita, keluarga besar bahkan mengetahui hal-hal buruk yang kita simpan, bukan lah hal mudah jika pernikahan itu hasil perjodohan yang dipaksakan. Berawal pernikahan yang diharapakan untuk...