"Kau yakin tidak ingin bicara pada Jiyeon dulu, kak?"
Mark berbalik badan, menatap adik nya dengan serius. Sedari tadi Jisung terus saja mengoceh, sebenarnya Jisung berada di pihak Lian atau Jiyeon?
Mark mendekatkan diri nya. Jisung pun lantas menunduk. "Kau ini ada di pihak mana?"
Jisung mendongakkan kepala, menatap iris hitam Mark. Dia selalu saja kalah jika berurusan dengan kakak nya. "Maaf kak, tapi aku rasa Jiyeon lebih utama dari apapun, karena dia menjadi tanggung jawab mu sekarang."
(Bijak amet sih Abang Jisung^^)
"Pergilah, jika kau tidak ingin membantu." Mark berbalik badan, Jisung sekali lagi ingin menghentikan nya. Namun dia tidak akan bisa melawan pria keras kepala seperti kakak nya.
Jisung menunduk, dia kembali mendongak saat melihat ada kaki berjalan ke arah nya. Jisung melihat Mark, kakak nya kembali ke hadapan nya dengan wajah cemas.
"Ada apa, kak?" tanya Jisung. Mark bukan nya menjelaskan, dia membawa Jisung pergi dan mereka memasuki mobil.
•
•
•
Mark membawa Jisung ke rumah sakit. Disana, mereka berdua melihat Dorine dan Jiyeon. Dorine menangis di pelukan sang menantu.
"Bagaimana keadaan papa, ma?" tanya Mark dengan wajah cemas nya. Sementara Jisung sudah mengerti apa yang terjadi sekarang.
"Hiks, aku tidak tau kenapa papa mu bisa pingsan, Mark." Dorine melepas pelukan Jiyeon. Dia beranjak dari kursi dan memeluk kedua putra nya.
"Apa papa mengalami serangan jantung?" Kali ini Jisung yang bertanya.
Dorine hanya menggeleng. Dia hanya melihat suami nya pingsan di depan mata nya. Sama sekali tidak melihat mendengar nya berteriak kesakitan.
Tidak lama kemudian dokter datang. Dorine segera menghadap kepada nya. "Bagaimana dok?" Begitulah ucap nya.
"Tuan Raymond keracunan makanan."
Begitu kalimat dokter terdengar, seluruh anggota keluarga terlihat syok. "Keracunan makanan?" Mark angkat bicara lebih dulu.
Wajah nya panik. Apalagi sekarang dia mendekati Jiyeon, dengan raut wajah penuh amarah. "Katakan pada ku," Mark mencengkram kedua lengan Jiyeon dengan keras nya. "Kau kan yang memasak tadi pagi?" Mark membentak nya. Bahkan Jiyeon sendiri sudah ketakutan sekarang. "Jawab aku!!" Mark membentak nya sekali lagi.
Jisung berniat menghentikan kakak nya. Bagaimana pun Jiyeon tidak bersalah jika belum ada bukti.
"Iya aku yang memasak, tapi aku tidak meracuni appa, Mark." Kedua sudut mata Jiyeon berair, tidak sanggup menahan tuduhan menyakitkan seorang Mark Tuan.
"Brengsek!!" Mark mendorong Jiyeon hingga terduduk ke kursi di belakang nya. Dorine yang panik hanya bisa memegang tangan kiri Mark. "Jangan berani sebut papa dengan mulut kotor mu itu!"
"Mark sudah, kita bicara di rumah!"
"Tidak bisa ma," Mark menghempas tangan Dorine. Yang harus dia lakukan sekarang adalah agar Jiyeon mengakui kesalahannya. "Kau melakukan ini karena tidak terima dengan perkataan ku tadi pagi, 'kan?"
Jiyeon menggeleng. Sumpah demi apapun dia tidak dendam pada Mark hingga berani meracuni ayah mertua nya.
"Kak, hentikan. Ini rumah sakit!" Jisung menarik tubuh Mark. Jiyeon sudah menangis, tubuh nya bergetar tidak bisa berbicara sepatah katapun. Tidak, bukan dia pelaku nya.
Sungguh!
Mark mendorong Jisung. "Dari awal aku memang tidak percaya pada nya," ucap nya dengan keras. "Dia gadis yang sudah mencuri wajah kekasih ku dan berani mengambil hak nya!!"
Jiyeon dengar ucapan menyakitkan itu. Jika benar dia sudah mengambil hak Lian. Maka dia siap mengembalikan segala nya. Tapi sebelum itu, dia harus membuktikan jika diri nya tidak bersalah.
Mark pergi begitu saja. Jiyeon hanya bisa melihat kepergian nya. "Hiks, aku tidak bersalah Mark ... "
Dorine yang melihat Jiyeon saat ini hanya bisa menatap nya iba.
•
•
•
Mark sampai di rumah nya dengan wajah buram. Sedari tadi, tangan nya mengepal ingin melampiaskan kekesalan nya pada setiap benda. Ketika sampai di rumah, Mark membuka pintu dengan tendangan kaki nya.
"Arggghh!!"
Mark langsung menghancurkan seluruh barang di rumah nya. Melempar nya ke sembarang arah hingga bunyi pecahan terdengar. Entah dia sedih atau kecewa. Mark tidak bisa menjelaskan perasaan nya saat ini.
Dia sedih karena ayah nya keracunan makanan dan bersamaan dengan itu, Mark kecewa karena Jiyeon yang berada di balik semua itu. Mark memasuki kamar dengan langkah cepat. Dia membuka pintu dengan keras nya. Tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, yang terpenting dia puas karena sudah melampiaskan kekesalannya.
Sesampainya di dalam. Mark melihat foto pernikahan nya dengan Jiyeon. Ya, wajah nya terlihat polos namun licik. Mark mengambil nya dan langsung melempar nya hingga pecah. Dan Mark tidak sengaja menginjak pecahan kaca nya. Mark menahan sakit nya. Ini tidak seberapa dibanding apa yang sudah Jiyeon lakukan pada ayah nya.
Mark terduduk. Air mata nya tumpah begitu saja. Dia menangis, rasa nya bercampur aduk sekarang. Mark menarik pecahan kaca yang menancap di kaki bagian bawah nya. "Aku akan selalu mengingat perbuatan mu, Jiyeon."
•
•
•
"Bagaimana?"
"Tugas berjalan lancar, Jaebum. Paman Raymond berada di rumah sakit saat ini." Smirk nya terlihat, Kim Jennie sedang mengawasi keluarga Mark dari jauh.
"Bagus Jennie, waktu nya rencana kedua."
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
𝑊ℎ𝑜 𝐴𝑟𝑒 𝑌𝑜𝑢?
RomanceIni tentang kehadiran seorang gadis yang sangat mirip dengan kekasih nya. Membuat Mark Tuan bertanya 'Siapa kau?'