Nemwelas: Rencana

747 78 14
                                    

"Serius.. Wonwoo hyung.. Sebenarnya kau ini siapa? Kau itu.. apa?"
"Jika kau tanya padaku, lalu aku harus tanya siapa? Aku benar-benar tidak mengerti tentang itu, Gyu. Kau bahkan tahu jika aku sebenarnya menentang adanya setan, bukan?"
"Atau...

Ataukah itu yang membuatmu berbeda, hyung? Kau melawan mereka seakan mereka adalah lawanmu, sesama manusia... Kau dapat mengendalikan sugestimu, hyung. Apakah kau pernah merasakan seperti itu?"
"Tentu saja tidak. Mana pernah aku merasakannya dengan jelas?"

Mingyu menundukkan kepalanya. Ini semua membuatnya pusing. Jika dipikir, ini semua tidak masuk akal atau tidak seperti yang ia bayangkan.

Mingyu merasa sangat yakin ada sesuatu tersembunyi di dalam Wonwoo. Mingyu tidak akan se-overthinking ini jika saja Wonwoo tidak membuatnya berpikiran begitu.

"Maafkan aku, Gyu.. Aku tidak paham dengan apa yang kau bicarakan tentangku."

Mingyu hanya bisa meresponnya dengan hembusan nafas yang kasar.

"Tapi, jika itu aku dapat menenangkanmu, aku bahagia."
"Hyung? Apa maksudmu?"
"Kau tau? Aku sudah menyukaimu sejak kita pertama bertabrakan. Lalu kau mencampakkanku seakan tidak ada orang di depan mu, itu saat aku pertama kali menghampirimu di kantin.

Lalu, saat kita mulai sekamar. Entah... Bagiku, apapun yang kau perbuat, membuatku semakin jatuh padamu.

Aku bahagia ketika akhirnya aku bisa mendekapmu dan membuatmu nyaman. Dan aku berharap hal itu akan terjadi seumur hidupku."

"Wonwoo hyung.."
"Aku mencintaimu, Kim Mingyu. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi... Aku benar-benar mencintaimu."

Mingyu menatap mata Wonwoo, mencari tanda-tanda kebohongan dari tatapan rubah itu. Wonwoo menatapnya teduh dan tenang.

"Hyung... jangan bercanda..."
"Terserah jika kau menganggapku begitu. Tapi sudah kupastikan, aku mencintaimu, dan tidak ada yang boleh atau bisa mempengaruhiku untuk berpikir sebaliknya."

Mingyu meremat pakaian Wonwoo dan akhirnya ia menenggelamkan dirinya di dekapan Wonwoo.

"Aku tidak mau mereka mengambilmu dariku, hyung.."
"Tentu saja, aku juga."

"Dan.. hyung.. Aku lebih takut sekarang..."
"Ada apa?"
"Besok aku harus melakukan ritual penutupan."
"Ritual penutupan?"
"Untuk menutup akses roh jahat ke wilayah ini.."
"Mi-mingyu—"
"Aku harus mengorbankan diriku untuk menutup akses itu, hyung. Aku harus segera melakukannya."
"Apa tidak ada cara lain, Gyu? Aku tidak mau kehilanganmu."
"Hyung.. Aku.. aku juga tidak mau berpisah denganmu. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan karena roh jahat saat ini tidak terkendali sejak si bapak tua itu mati."
"Tidak bisakah shaman lain membantumu?"
"Tidak. Shaman harus menjaga tempatnya masing-masing. Aku tidak ingin wilayah lain terkena efek dari ritual nanti."
"Apa kau baru saja mengungkapkan tanggal kematianmu?"
"Iya. Dan aku tidak mau hyung ada disini untuk itu."
"Hm...

Aku tidak peduli, Gyu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Terserah apa katamu tentang itu."

Wonwoo menempelkan dahi mereka ketika tubuh Mingyu mulai gemetaran. Pemuda yang lebih tinggi itu sesenggukan di pelukannya. Berharap lusa tidak akan menjadi hari terakhir bagi mereka berdua. Mingyu sudah terlalu egois hingga tidak memikirkan bagaimana pendapat warga mengenai hubungan mereka nantinya.

⏸️The Boy || MEANIE (WONGYU) | IDN ver.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang