Bawakaraeng (Juli 2005)-Menembus Asa yang Patah

146 7 0
                                    

Bawakaraeng Juli 2005
Menembus Asa yang Patah.

Gunung ini berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Selain cukup tinggi kehadirannya juga sangat melegenda bagi masyarakat setempat. Gunung yang memiliki ketinggian lebih kurang 2800 meter di atas permukaan laut ini cukup disakralkan oleh masyarakat adat setempat.

Bawakaraeng memiliki arti Mulut Raja atau Mulut Tuhan karena konon pada jaman dahulu gunung ini kerap dijadikan tempat pertemuan para Wali dalam menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Jika kita pernah mendengar Haji BawaKaraeng maka istilah tersebut lahir dari seseorang yang telah melakukan ritual haji di Puncak Bawakaraeng.

Gunung yang disakralkan biasanya terdapat banyak pantangan yang dibumbui dengan berbagai kisah mengerikan jika dilanggar. Menurut Tata atau tetua desa Lembana jika turun kabut pekat di pos tiga dan lima lebih baik pendakian jangan dilanjutkan. Tatanan adat yang masih kuat dipegang oleh penduduk setempat mengharuskan kita untuk mematuhi setiap petuah dan larangan dari Tata.

Okelah kita langsung masuk inti cerita karena cerita pengiring semuanya gak lulus sensor oleh badan sensor cinta nasional Republik hati.. he he he he..

Setelah 2 hari bermalam di kampus Pancasakti Makassar akhirnya datang juga hari yang dinantikan. Kendala budget membuat pendakian ke Lattimojong akhirnya tak bisa diwujudkan. Yaa namanya juga Bondo Nekat. Gpp papa teman teman yang penting gw dah sampai bumi para daeng dengan selamat. Jadi kemana kita dengan budget segini. Kita ke Bawakaraeng aja mas kata mereka. Mantab juga ki itu gunung.

Siap gw bilang. Cukup kah budget ini untuk kesana.?? Cukup banget mas. Gila gw salut banget sama sambutan anak anak Mapala Pancasakti di Makassar. Secara gw baru kenal 2 hari kaya dah kenal bertahun tahun. Duit gw yang tinggal 800 rebu utuh gak berkurang sedikitpun selama disana. Angkat topi selalu untuk kalian man teman. ( Mapacti Univ Pancasakti Makassar )

Setelah dana turun akhirnya kita berangkat. Langkah kaki di kota makassar yang cukup panas menghantar kita pada laju angkot menuju titik harapan. Dari Pancasakti kita ke terminal ( terminal baros kalo gak salah namanya ) dari sana kita naik angkot lagi menuju Malino baru tancap gas lagi menuju Lembana. Maaf ni sobat catatan gw ilang.. Perasaan dah gw save di salah satu FB gw.. Okelah lupakan. Nanti bisa gw edit kalo ketemu tuh catetan.

Berangkat jam 11 siang Waktu Indonesia Tengah sampe lembana sore menjelang magrib. Bumi Sulawesi menurunkan keberkahannya. Baru saja menjejakan kaki disana hujan turun cukup lebat. Sambil menggenggam sebatang Djarum Super gw nikmati semua sambutan alam yang luar biasa ini. 1 jam berselang hujan berhenti dan berganti menjadi rintik. Tanpa banyak tanya gw ikuti gerak langkah Indra, Kodok dan Jamal menyusuri jalan maqadam menuju rumah Tata.

Kurang lebih 2 jam kemudian kita tiba di rumah Tata. Kehadiran kami disambut hangat oleh tuan rumah. Kopi Khas setempat menjadi jamuan sempurna bersama setiap tarikan Djarum super yang lepas mengudara. Kaloro Ji. Tata nawarin gw sebatang rokok lintingan dengan aroma khas menggoda. Trima kasih Tata. Djarum Super tetap istimewa. he he he.

Setelah acara ramah tamah dan cerita kerifan lokal yang dibumbui rasa horor yang pedas menggoda gw istirahat. Malam dingin ditambah rasa letih sepanjang jalan membuat diri ini langsung terlelap. Gak sempat lagi mendengar berbagai petuah Tata yang masih asik ngobrol dengan Indra dan Jamal. Ahh sejuk dan damainya Lembana.

Pagi pagi tanpa diminta tuan rumah telah menghidangkan berbagai aneka makanan dan minuman hangat. Tak ada bayar bayaran tak ada aroma bisnis selain kepolosan dan rasa persaudaraan yang kental. Anak Jawa.. Makan mi atau minum mi. he he he he.. Jangan kaget disana makan dan minum mi itu bukan makan dan minum mie tapi silahkan makan.. Iya Tata terima kasih. Gak malu malu 3 potong pisang goreng serta kopi hangat segera berlayar didalam tenggorakan gw.

Kumpulan Cerita Horor NyataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang