Yeeun sering merasakan sakit, tetapi tak pernah sesakit ini.
Bahkan rasa sakit dari kemoterapi yang sudah setahunan ini dijalani tak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang dirasakannya kini. Gadis itu hanya bisa menangis dan meringkuk memeluk kedua kakinya yang tertekuk ketika satu lagi pukulan ia terima di punggungnya.
Bukan. Bukan pukulan itu yang menyakitkan. Melainkan bentakan, sumpah serapah, dan kalimat-kalimat kejam lainnya yang sang ayah lontarkanlah yang jauh lebih menyakitkan.
"Hentikan, Tuan. Saya mohon hentikan," dengan seluruh wajahnya yang basah oleh air mata, Deokmi Ajhumma memohon, "Ini sama sekali bukan kesalahan Agassi. Ini salah saya, Tuan, sepenuhnya salah saya. Jadi, pukul saya saja,"
Yeeun masih berada di tempatnya dan memeluk kedua kakinya ketika didengarnya suara debuman keras diikuti pekikan Deokmi Ajhumma serta lego-lego yang berjatuhan. Tak lama dirasakan tubuhnya yang ditarik paksa dan wajah sang ayah yang terlihat begitu murka adalah hal pertama yang Yeeun temui ketika matanya terbuka.
"Katakan siapa yang membiayai kemoterapimu selama ini, Sayang," tanya sang ayah. Nada yang dipakainya rendah. Bahkan salah satu tangannya bergerak beri belaian lembut di surai-surainya. Hanya saja semua kelembutan itu yang membuat tubuh Yeeun gemetar ketakutan.
"Siapa, Sayang?"
Yeeun tak langsung beri jawaban. Gadis itu lebih dulu membawa pandangannya ke Deokmi Ajhumma yang jatuh terduduk di dekat salah satu meja dimana lego-lego susunan Chan disimpan. Deokmi Ajhumma menggeleng, tak beri persetujuan untuk Yeeun menjawab pertanyaan yang ayahnya ajukan.
Namun, tarikan pada surainya dan sang ayah yang meninggikan nadanya ketika kembali bertanya membuat Yeeun mau tak mau buka suara, "C-chris ..."
"Chris?"
"B-bang Christopher Chan ..."
"Maksudmu Bang Chan?"
Yeeun beri anggukkan pelan. Detik selanjutnya sang ayah melepaskan tarikannya pada rambut Yeeun. Serta-merta beliau berdiri dan tinggalkan kamar sang putri. Namun, Deokmi Ajhumma dengan cepat bersujud dan memeluk kaki tuannya tersebut hingga langkah sang tuan tertahan.
"Jangan hakimi mereka, Tuan. Mereka hanya ingin membantu Agassi. Jika Tuan ingin menghakimi, hakimi saya karena saya yang bersalah, Tuan," mohon Deokmi Ajhumma entah sudah yang keberapa kalinya hari ini.
"Baiklah. Kalau begitu mulai hari ini Ajhumma saya pecat."
Baik Deokmi Ajhumma maupun Yeeun, keduanya sama-sama membelalakkan mata tak percaya. Keduanya terlampau kaget dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Enggak, Appa!" Yeeun menggelengkan kepalanya keras. "Deokmi enggak boleh dipecat!"
"Saya akan menerima hukuman apapun asal jangan pecat saya, Tuan," Deokmi Ajhumma kembali memohon.
"Itu hukumannya, Ajhumma,"
Tepat setelah itu Tuan Park menarik kakinya dan meninggalkan kamar sang putri. Diraihnya dokumen-dokumen kemoterapi milik Yeeun yang ada di meja ruang tengah yang menjadi awal dari semua keributan yang terjadi di rumah keabuan itu.
Yeeun menyusul di belakangnya, begitupula dengan Deokmi Ajhumma yang masih berusaha menghentikan langkah tuannya. Namun, keduanya sama sekali tak dihiraukan. Tuan Park terus membawa langkahnya menuju rumah bernomor sembilan puluh tujuh tanpa peduli pakaiannya yang terus ditarik oleh Yeeun atau Deokmi Ajhumma yang tiada henti memohon-mohon.
Sesampainya, pintu rumah itu diketuk dengan brutal. Nama Bang Chan diteriakkan dengan suara yang begitu lantang. Kemarahannya tersirat dengan begitu jelas. Dan begitu pintu terbuka, dokumen-dokumen kemoterapi milik Yeeun dilemparkan begitu saja ke hadapan pria tinggi yang pertama kali muncul dari balik pintu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stand by Me - Stray Kids Fanfiction
FanfictionChan hanya mempunyai satu keinginan. Yaitu tidak datang terlambat. Karena dia ingin ada di sisi gadisnya sampai akhir. Stray Kids' Bang Chan × Park Yeeun (oc) Dell, 2020