HAPPY READING 📖
----------------------------------
"Ini restoran yang kau bilang?" Xander menatap takjub gedung persegi yang memiliki dua tingkat. Desain yang dipilih Angel, benar-benar ia suka. Ada tanaman segar yang memunculkan kehijauan memanjakan mata dan tempatnya strategis. "Restoranmu mirip dengan kafe."
"Ya! Karena aku sengaja mengambil konsep kafe. Luarnya seperti kafe namun dalamnya restoran. Lagi pula, banyak sekali yang berkunjung apalagi anak muda yang senang dengan pemandangan estetik di sini. Di lantai dua, biasanya orang kantoran lebih suka duduk." Xander membuka mulutnya, takjub bercampur bangga.
"Kau hebat! Kau sangat hebat! Bagaimana bisa otakmu terpikirkan untuk merancang ide itu? Astaga, orang-orang itu akan menyesal sempat menolak ide cemerlangmu!" Angel tertawa. Ia ingat ia pernah bekerja di restoran orang lain sebagai waitress dan saat ia mengajukan ide itu, mereka mengatai idenya tidak nyambung. Dikira idiot, ia pun sempat dipecat karena mengusulkan ide-ide bodoh lainnya.
"Biarkan saja. Kalau aku tidak dipecat, aku pasti tidak membangun restoran ini. Pasti kau tidak akan berdiri di depan restoranku, malah di restoran orang lain."
"Ck, mereka benar-benar menyesal! Kalau aku jadi mereka, kau tidak akan kulepas karena bisa saja menjadi saingan bisnisku! Kau terlalu hebat untuk dilepaskan." Angel tersenyum sombong lalu menyikut lengan Xander sembari menaik-turunkan alisnya. Dipuji Xander memang sudah biasa tapi jika dipuji tentang restorannya, ia selalu bangga.
"Hati-hati, hidungmu melebar!" Ia memutar bola mata lalu menarik pergelangan tangan Xander untuk memasuki restorannya.
"Kita masuk dan kau akan terkejut melihat dalamnya."
Benar saja, Xander terkejut karena desain yang ada di sini sesuai dengan permintaannya waktu ia dan Angel merencanakan pembangunan restoran ini. Ia benar-benar ternganga, tak mengira Angel menggunakan ide yang ia kira hanya sebagai pembahasan angin lalu.
"Kau menggunakan ideku?" Matanya membulat, bangga karena pesan terpanjangnya dulu benar-benar Angel lakukan.
"Of course! Ide cemerlang tidak mungkin kuabaikan." Masih dengan wajah sombong, Angel bersedekap dada. "Lihat, idemu akhirnya terwujud!"
Xander menyentuhkan jemarinya di dinding-dinding itu. Wajahnya terperangah sekaligus terharu. Ia pikir Angel mengabaikan idenya sehingga ia tidak berpendapat terlalu banyak.
"You're amazing, Angel!" Dari jarak jauh, ia menatap intens Angel yang masih bersedekap dada. "I swear to God, I'm lucky to have you in my life."
"Me too." Keduanya tersenyum dan saling melemparkan kasih sayang hingga aura-aura yang membaik dapat yang lainnya rasakan. Beberapa karyawan Angel mengamati mereka dari jauh dan saling melempar pandangan penuh tanya. Menerka-nerka siapa lelaki itu. Padahal setahu mereka, Angel telah memiliki suami. Apakah itu suami Angel? Sebelumnya Angel pernah membawa suaminya ke sini dan wajahnya tidaklah sama. Banyak spekulasi negatif yang timbul namun tak ingin berburuk sangka. Mereka tahu Angel sangat terbuka pada mereka. Jika mereka tanyakan siapa sosok itu, Angel pasti akan menjawab. Tapi, Angel dan sosok itu benar-benar serasi.
Suara bel yang menandakan seseorang masuk, mengalihkan perhatian mereka. Angel yang membalikkan badan, terpaku namun ditutupi senyuman.
Ia mencari-cari keberadaan waitress-nya lalu berkata, "Kate, ada pelanggan." Kate mengangguk lalu menghampiri sosok itu dan Angel berjalan untuk membawa Xander pergi.
Mencegah Angel untuk pergi apalagi sampai menyentuh pria itu, Griss memanggil Angel. Ia harap dengan menyebut namanya, Angel akan berhenti dan membalikkan kembali tubuhnya untuk menatapnya hari ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
No Reason Why ✅
Romance[NOVELET] Pertama kali publish : 12 Oktober 2020 Grisster Clark merasa bodoh karena tidak menyadari jantungnya berdegup untuk siapa. Dulu ia mencintai dan mengira untuk Christine Sullivan. Tapi semuanya berubah sejak kalimat itu menamparnya keras. I...