Chapter - 4. Their Anger

380 43 0
                                    

HAPPY READING 📖

----------------------------------

Hanya satu harapan yang sedang membumbung tinggi bagi Griss. Membuat keadaan ini tak secanggung yang pernah berlalu. Keberadaan Angel di rumah sudah membuatnya tenang namun ia tak mengira Angel memperlakukannya bak orang asing. Dari tuturnya, tampak sekali Angel sangat canggung.

"Angel?" panggilnya saat Angel memasak makan malam mereka seperti sebelumnya. Setiap jam enam sore, Angel pasti sudah berada di dapur dan kali ini ia menunggu Angel selesai memasak.

Angel membalikkan badan dan tersenyum tipis. "Ya?"

"Boleh kubantu?" Angel tercengang. Tumben sekali Griss membantunya? Padahal ia sudah gugup sedari tadi karena Griss memperhatikannya, dan satu-satunya cara adalah menggeleng agar Griss tidak mendekat karena bisa saja ia salah tingkah.

Griss mendesah kesal. Ia layaknya manusia terbodoh karena bingung harus berbuat apa. Padahal, ia sudah merencanakan apa yang ingin ia lakukan saat Angel kembali. Ia ingin mencairkan suasana namun ia memang tak tahu caranya. Semuanya terasa sulit dan bodoh.

"Makanan sudah hampir selesai?" tanyanya lagi memecah keheningan.

"Ya. Sebentar lagi akan selesai." Jawaban singkat Angel cukup menguras emosi. Satu-satunya pilihan adalah diam dan menunggu makanan itu selesai dimasak. Jangan lupakan umpatan yang dilantunkan dalam hati.

Ponselnya berdering hingga perhatian Angel pun teralihkan. Ia merogohnya ke saku celana lalu melihat Angel yang mengerutkan dahi—tampak bertanya siapa—dengan mulut tetap bungkam dan sepertinya tak sadar dengan apa yang dilakukan. Ia tersenyum seakan meyakinkan sesuatu walau hatinya gembira Angel mulai memerhatikannya.

Melihat ponselnya yang menunjukkan nama Christine, ia mendengkus lalu berdecak. Ingin menjawabnya tapi tak enak ada Angel. Tak dijawab, ia penasaran apa yang akan Christine bicarakan.

Ia mematikan ponselnya dan menjawab melalui papan pesan.

Angel yang sudah membalikkan badan, cukup gundah karena ia tahu hati Griss tidak akan ada untuknya. Pikirannya berkecamuk dan berharap sosok yang sedang mengalihkan perhatian Griss, bukanlah sosok yang ia pikirkan. Ia ingin sekali merebut ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon tapi ia tak cukup berani melanggar privasi Griss. Tanpa sadar ia mengembuskan napas kencang. Seharusnya ia sadar diri, Griss hanya tak mau ia kehilangan kewajiban sebagai istri. Griss tak mau dicap suami yang buruk karena menelantarkan seorang istri yang baru saja dinikahi. Jika itu Christine, hati Griss memang diciptakan hanya untuk Christine, bukan untuknya. Selamanya akan selalu begitu dan ia akui betapa beruntung Christine mendapat hati Griss. Ia harap adiknya tak menyia-nyiakan Griss dengan pria lain. Cukup ia saja yang merasakan, jangan Griss.

Selesai memasak, ia menuangkannya ke piring lalu menatanya ke meja dan duduk di depan Griss. Cukup gelisah karena Griss menatapinya terang-terangan. Dua porsi sudah tertata di meja. Tak banyak bicara ia memakannya tanpa menyapa seperti yang pernah ia lakukan. Jika Griss mengerti, ia salah tingkah.

Griss tersenyum pedih. Angel benar-benar mendiaminya. Walaupun sosok ini sudah pulang, ia tetap tak bisa merasakan kehangatan yang pernah Angel berikan. Tatapannya tak ia alihkan dari Angel. Sudah cukup banyak waktu yang ia buang, menyia-nyiakan wajah manis Angel yang membuat jantungnya dua kali lipat berdetak.

"Bagaimana restoranmu?"

Angel langsung mendongak, terkejut Griss membuka suara. Biasanya ialah yang membuka topik untuk mencairkan suasana. Lagi pula, Griss tak suka banyak bicara saat makan.

"Baik," jawabnya. Ia tak tahu harus melakukan apa. Banyak bicarakah? Atau menjawab singkat-singkat karena ini sedang makan?

Griss mengumpat. Kenapa susah sekali membuka topik pembicaraan? Ekpetasinya sudah banyak dengan berbincang dan saling mengenal lebih jauh. Ternyata? Tidak semudah rencana.

No Reason Why ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang